RADAR BANYUWANGI - George Russell membuka GP Azerbaijan 2026 dengan menjadi pembalap tercepat pada latihan bebas pertama (FP1), Kamis (24/9). Namun, catatan waktu di Sirkuit Baku belum sepenuhnya menggambarkan peta kekuatan.
Pembalap Mercedes itu membukukan waktu 1 menit 45,387 detik. Max Verstappen berada di posisi kedua dengan selisih 0,400 detik.
Sekilas, Mercedes terlihat unggul cukup jauh. Namun, ada detail penting di balik hasil tersebut.
Russell dan Verstappen mencatatkan waktu terbaik dengan ban soft. Sebaliknya, Charles Leclerc dan Lewis Hamilton yang berada di posisi ketiga dan keempat masih menggunakan ban medium.
Leclerc hanya tertinggal 0,404 detik dari Russell. Hamilton terpaut 0,437 detik.
Artinya, dua Ferrari hanya terpaut sekitar empat persepuluh detik dari posisi teratas meski menggunakan kompon yang lebih keras.
Dalam laporan resmi Formula 1, Russell juga disebut mendapat bantuan tarikan udara atau tow di lintasan lurus utama ketika mencetak putaran terbaik.
Karena itu, selisih empat persepuluh detik belum bisa dianggap sebagai keunggulan mutlak Mercedes.
Sehari sebelum FP1, Leclerc bahkan sudah menyebut Mercedes sebagai acuan utama.
“Mercedes tetap menjadi tim yang harus dikalahkan," kata pembalap Ferrari itu dalam konferensi pers resmi FIA.
FP1 membuktikan pernyataan itu bukan tanpa dasar. Namun, Ferrari juga memberikan sinyal bahwa jarak dengan Mercedes mungkin lebih tipis daripada yang terlihat pada tabel waktu.
Pirelli menjelaskan bahwa GP Azerbaijan tahun ini menggunakan C3 sebagai hard, C4 sebagai medium, dan C5 sebagai soft. Produsen ban asal Italia itu juga memperkirakan kondisi lintasan akan terus berkembang seiring bertambahnya lap sepanjang akhir pekan.
Ferrari P3 dan P4, tetapi Potensinya Lebih Besar
Verstappen menjadi pembalap pertama yang menembus waktu 1 menit 46 detik. Ia mencatat 1 menit 45,787 detik dengan soft.
Russell kemudian memangkas empat persepuluh detik. Berdasarkan laporan Formula 1, pembalap Inggris itu membukukan 1 menit 45,387 detik setelah mendapat tow dari Fernando Alonso di lintasan lurus utama.
Ferrari memilih program berbeda.
Leclerc dan Hamilton masih bertahan dengan ban medium ketika membuat catatan terbaik masing-masing.
Leclerc hanya berjarak 0,004 detik dari Verstappen. Hamilton tertinggal 0,033 detik dari rekan setimnya.
Data itu tidak serta-merta membuat Ferrari menjadi mobil tercepat.
Perbandingan antarkompon pada sesi latihan bebas tidak bisa dihitung hanya berdasarkan selisih performa teoretis ban. Beban bahan bakar, mode power unit, temperatur ban, usia kompon, lalu lintas, hingga waktu ketika putaran dilakukan ikut memengaruhi hasil.
Baku juga memiliki karakter unik. Lintasan lurus yang sangat panjang membuat efek slipstream lebih terasa dibandingkan di banyak sirkuit lain.
Karena itu, terlalu dini menyimpulkan Ferrari sudah berada di depan Mercedes.
Namun, fakta bahwa dua Ferrari mampu mendekati Russell dengan ban yang lebih keras tetap menjadi petunjuk penting.
Dalam konferensi pers FIA, Leclerc juga menyinggung peran power unit di Baku. Menurut dia, cara setiap tim mengoptimalkan sistem tenaga bisa memberikan pengaruh besar sepanjang akhir pekan.
FP2 akan menjadi ujian berikutnya. Terutama ketika Leclerc dan Hamilton mulai menggunakan soft dalam simulasi yang lebih mendekati kondisi kualifikasi.
Russell Cepat, Mercedes Belum Sepenuhnya Tenang
Bagi Mercedes, P1 Russell tetap menjadi awal yang menjanjikan.
Sebelum turun ke lintasan, Russell sudah mengingatkan bahwa Baku menuntut presisi tinggi.
“Sangat menantang. Ada banyak zona pengereman dan tikungan sempit," ujarnya dalam konferensi pers FIA.
Pernyataan itu langsung terlihat relevan di FP1.
Formula 1 melaporkan Russell sempat terlalu dalam mengerem di Tikungan 3 dan masuk ke area run-off. Verstappen mengalami momen serupa di Tikungan 1. Keduanya kemudian bangkit dan menutup sesi di dua posisi teratas.
Masalah Mercedes justru muncul pada mobil Kimi Antonelli.
Pembalap Italia itu sempat menjadi yang tercepat dengan catatan 1 menit 46,265 detik menggunakan hard.
Mercedes kemudian memasang soft. Namun, Antonelli bahkan belum sempat membuat putaran cepat.
Di sekitar Tikungan 7, ia harus menghentikan mobil.
“Saya kehilangan sistem hidraulis,” lapor Antonelli melalui radio tim, sebagaimana dikutip PlanetF1.
Virtual Safety Car kemudian diberlakukan untuk mengevakuasi mobilnya.
PlanetF1 mencatat Antonelli hanya menjalani sembilan lap dan kehilangan lebih dari separuh sesi. Meski demikian, catatan waktunya dengan hard masih cukup untuk menempatkannya di posisi kelima, tertinggal 0,878 detik dari Russell.
Itu menjadi petunjuk lain bahwa Mercedes memang memiliki kecepatan.
Russell tercepat dengan soft. Antonelli tetap berada di lima besar dengan catatan dari hard.
Namun, masalah hidraulis membuat Mercedes kehilangan data penting dari mobil kedua. Antonelli tidak sempat mengevaluasi soft, melakukan simulasi kualifikasi, maupun menyelesaikan program pengembangan setelan.
Verstappen P2, Ferrari Menguntit Sangat Dekat
Verstappen menutup FP1 di posisi kedua dengan 1 menit 45,787 detik.
Secara klasifikasi, Red Bull menjadi penantang terdekat Mercedes.
Namun, keunggulannya atas Ferrari nyaris tidak ada.
Leclerc hanya tertinggal 0,004 detik dari Verstappen. Hamilton pun cuma 0,037 detik lebih lambat.
Itu terjadi ketika Verstappen menggunakan soft, sedangkan dua Ferrari masih memakai medium.
PlanetF1 melaporkan Verstappen juga sempat mengeluhkan perilaku mobil saat pengereman.
"Mobil menarik ke kanan," katanya melalui radio tim.
Keluhan itu menjadi bagian dari tema besar FP1, yakni pengereman.
Pengereman Jadi Masalah Utama di Baku
Baku memang terkenal keras terhadap sistem pengereman.
Karakter sirkuit yang memadukan lintasan lurus panjang dengan tikungan lambat membuat pembalap berulang kali mengerem dari kecepatan tinggi.
Isack Hadjar termasuk yang paling vokal mengeluhkan kondisi mobil.
“Tarikan saat pengereman parah sekali. Saya nyaris menabrak dinding," keluhnya melalui radio, menurut laporan PlanetF1.
Oscar Piastri juga merasakan masalah getaran pada rem. Media yang sama melaporkan pembalap McLaren itu menyebut kondisinya “dua kali lebih parah” dibandingkan sebelumnya.
Carlos Sainz mengalami masalah yang lebih serius.
Formula 1 melaporkan bahwa sekitar 15 menit setelah sesi dimulai, pembalap Williams itu harus kembali ke pit karena rem belakang mobilnya terbakar.
Situasi tersebut sesuai dengan prediksi Pirelli.
Dalam pratinjau teknis GP Azerbaijan, Pirelli menekankan bahwa stabilitas saat pengereman, traksi ketika keluar tikungan, dan efisiensi aerodinamika menjadi tiga faktor utama di Baku.
Ada tantangan tambahan.
Menurut Pirelli, lintasan lurus yang sangat panjang dapat membuat temperatur ban turun sebelum pembalap tiba di Tikungan 1. Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko roda mengunci ketika melakukan pengereman keras.
Apa yang terjadi pada Russell, Verstappen, Hadjar, hingga Sainz menunjukkan persoalan tersebut bukan sekadar teori.
McLaren Belum Menunjukkan Kecepatan Sebenarnya
McLaren menjadi salah satu tim yang paling sulit dinilai dari FP1.
Piastri berada di posisi keenam, tertinggal 1,011 detik dari Russell.
Lando Norris jauh lebih belakang. Ia hanya menempati P14 dengan selisih 1,607 detik.
Dalam laporan resminya, Formula 1 menyebut Piastri sejak awal mengeluhkan getaran sehingga McLaren harus mengerjakan mobilnya di garasi.
Norris bahkan kehilangan sebagian besar sesi karena masalah pada mobil. Ia baru kembali ke lintasan menjelang akhir FP1.
Kerugian terbesar McLaren bukan posisi P6 atau P14, melainkan minimnya data.
Di sirkuit jalan raya seperti Baku, waktu di lintasan sangat penting. Pembalap perlu terus menyesuaikan titik pengereman, membaca perubahan grip, dan membangun kepercayaan diri untuk semakin dekat dengan dinding pembatas.
Dalam konferensi pers FIA sehari sebelumnya, Piastri juga menyinggung karakter tersebut. Menurut dia, Baku menuntut kepercayaan diri tinggi karena memadukan jalan sempit dengan zona pengereman besar.
Karena itu, McLaren membutuhkan FP2 yang jauh lebih bersih sebelum kecepatannya bisa dibandingkan secara adil dengan Mercedes, Ferrari, dan Red Bull.
Kondisi Trek Masih Akan Berubah
Hasil FP1 juga belum bisa dianggap sebagai hierarki final karena kondisi trek Baku masih akan berkembang.
Pirelli mencatat Sirkuit Baku memiliki panjang 6,003 kilometer dengan 20 tikungan. Karakternya memadukan bagian teknis di kawasan kota tua dengan lintasan lurus panjang berkecepatan tinggi.
Pirelli juga memperkirakan grip pada awal akhir pekan masih relatif rendah.
Sebagian permukaan di sekitar Tikungan 2, 3, dan 4 telah diaspal ulang. Seiring bertambahnya putaran, lapisan karet akan semakin banyak dan grip meningkat.
Kondisi itu langsung terlihat di FP1.
Formula 1 melaporkan lintasan masih berdebu dan licin ketika sesi dimulai. Catatan waktu kemudian terus turun seiring membaiknya permukaan trek.
Karena itu, waktu yang dibuat beberapa menit lebih akhir bisa memperoleh kondisi lintasan yang lebih baik.
Ditambah perbedaan kompon dan efek slipstream, hasil FP1 lebih tepat dibaca sebagai kumpulan petunjuk daripada urutan kekuatan yang sudah pasti.
Racing Bulls Muncul di Delapan Besar
Di belakang kelompok terdepan, Racing Bulls mencuri perhatian.
Berdasarkan klasifikasi resmi Formula 1, Liam Lawson mengakhiri sesi di posisi ketujuh. Arvid Lindblad tepat di belakangnya.
Esteban Ocon membawa Haas ke P9, sedangkan Gabriel Bortoleto melengkapi sepuluh besar bersama Audi.
Dua Racing Bulls di delapan besar menjadi indikasi awal bahwa karakter mobil mereka cukup cocok dengan Baku.
Namun, seperti Ferrari, performa tersebut masih harus dikonfirmasi ketika grip meningkat dan tim mulai menjalankan simulasi kualifikasi dengan program yang lebih seragam.
Tiga Pertanyaan Menuju FP2
Ada tiga hal utama yang patut diperhatikan pada FP2.
Pertama, Ferrari.
Leclerc dan Hamilton sudah berada dalam jarak sekitar empat persepuluh detik dari Russell dengan medium. Jika keduanya memperoleh peningkatan signifikan ketika menggunakan soft, Ferrari bisa menjadi ancaman nyata dalam persaingan posisi terdepan.
Kedua, Antonelli.
Mercedes harus memastikan masalah hidraulis tidak berlanjut. Antonelli juga membutuhkan sebanyak mungkin putaran setelah kehilangan lebih dari separuh FP1.
Ketiga, McLaren.
Piastri dan terutama Norris belum mendapatkan sesi yang representatif. Tanpa FP2 yang bersih, sulit menentukan apakah selisih mereka berasal dari performa mobil atau hanya akibat program yang terganggu.
Menurut jadwal resmi Formula 1, FP2 berlangsung pukul 16.00 waktu Baku atau pukul 19.00 WIB, Kamis, 24 September 2026.
FP3 dan kualifikasi digelar Jumat. Balapan berlangsung Sabtu, 26 September 2026, pukul 15.00 waktu setempat atau pukul 18.00 WIB.
Russell P1, tetapi Ferrari Layak Diwaspadai
Russell pantas menjadi patokan pertama di Baku setelah mencatat 1 menit 45,387 detik.
Mercedes juga mempunyai alasan untuk optimistis karena Antonelli masih mampu berada di posisi kelima dengan catatan dari hard meski sesinya berakhir lebih cepat.
Namun, P1 Russell bukan keseluruhan cerita.
Russell dan Verstappen mencatat waktu terbaik dengan soft. Russell juga mendapat bantuan tow.
Leclerc dan Hamilton justru berada sangat dekat dengan medium.
Di situlah Ferrari menjadi salah satu tanda tanya terbesar menjelang FP2.
Leclerc datang ke Baku dengan menyebut Mercedes sebagai tim yang harus dikalahkan. Setelah FP1, Mercedes memang masih berada di depan. Namun, Ferrari memberikan cukup banyak petunjuk bahwa jaraknya mungkin tidak sebesar yang terlihat pada tabel waktu.
Di sisi lain, berbagai keluhan pengereman menunjukkan tantangan Baku bukan hanya soal mengejar satu putaran cepat.
Mobil juga harus stabil, dapat diprediksi, dan memberi kepercayaan diri ketika pembalap mengerem keras dari kecepatan tinggi.
Russell memegang P1. Ferrari mengintai. Red Bull tetap dekat. McLaren belum memperlihatkan seluruh kemampuannya.
FP1 baru memberi petunjuk. FP2 akan mulai memperjelas siapa yang benar-benar memiliki paket paling kuat di Azerbaijan.
Editor : Lugas Rumpakaadi