LKBB Banyuwangi Tuntas, Peserta Diingatkan Jangan Hanya Kejar Piala

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 04:30 WIB
Para juara LKBB Banyuwangi 2026. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Para juara LKBB Banyuwangi 2026. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Tiga hari beradu langkah, komando, dan kreativitas akhirnya tuntas. Ajang Lomba Kreasi Baris-Berbaris (LKBB) Banyuwangi resmi berakhir di Aula Banyuwangi Park, Rabu (23/9), dengan lahirnya para juara dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Namun, bagi Pemkab Banyuwangi, piala bukan tujuan utama. Disiplin, kepemimpinan, sportivitas, kekompakan, dan tanggung jawab yang dibawa pulang peserta menjadi ukuran keberhasilan yang lebih penting.

Mengusung tema “Satu Komando, Satu Tekad: Mewujudkan Pemuda Berintegritas untuk Indonesia Emas”, LKBB digelar selama tiga hari sejak Senin (21/9).

Kompetisi tersebut sekaligus menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan di luar akademik. Baris-berbaris dikemas dalam bentuk kreasi sehingga peserta tidak hanya dituntut kompak dan tepat dalam melangkah, tetapi juga mampu menunjukkan kreativitas serta kepemimpinan dalam regu.

Dari Jalan Raya ke Arena yang Lebih Aman

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, LKBB menjadi fasilitas bagi pelajar yang selama ini mengikuti lomba baris-berbaris di jalan raya. Melalui kegiatan tersebut, kompetisi dipindahkan ke arena yang lebih aman dan nyaman.

“Lomba baris-berbaris yang biasanya harus melalui jalan, sekarang kita lombakan dalam bentuk kreasi dan di tempat yang lebih aman dan nyaman,” ujarnya.

Ipuk berharap LKBB tidak berhenti pada pelaksanaan tahun ini. Kompetisi tersebut diharapkan dapat digelar secara rutin dengan jumlah peserta yang semakin banyak serta kreasi yang terus berkembang.

Menurut dia, lomba menjadi salah satu cara untuk melatih disiplin sekaligus kreativitas pelajar. Di dalam kompetisi, peserta juga belajar menerima hasil dengan menjunjung sportivitas.

“Tentu lomba ini adalah ruang bagi anak-anak kita belajar disiplin, mereka semakin terasah kreativitasnya karena ini lomba tentunya harus ada sportivitas,” katanya.

Tiga Hari, Tiga Jenjang

Pelaksanaan LKBB Banyuwangi dibagi berdasarkan jenjang pendidikan.

Hari pertama, Senin (21/9), kompetisi diikuti regu dari jenjang SD dan SMA. Sehari berikutnya, Selasa (22/9), giliran regu SMP yang tampil dan menjalani penilaian.

PLT Kadispendik Alfian memberikan piala kepada juara LKBB Banyuwangi 2026. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
PLT Kadispendik Alfian memberikan piala kepada juara LKBB Banyuwangi 2026. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Sementara Rabu (23/9) menjadi puncak kegiatan. Para pemenang dari masing-masing jenjang diumumkan dalam agenda awarding. Regu juara juga mendapat kesempatan menampilkan kembali kreasi terbaik mereka di hadapan peserta dan undangan.

Di balik persaingan meraih nilai tertinggi, Ipuk menekankan bahwa LKBB harus memberikan dampak lebih panjang terhadap pembentukan karakter peserta.

“Jangan sampai lomba ini hanya sekadar lomba, tetapi tujuannya untuk membentuk karakter yang baik,” tegasnya.

Bukan Sekadar Pulang Membawa Piala

Ipuk mengingatkan bahwa kemampuan akademik dan keterampilan saja tidak cukup untuk membentuk generasi masa depan. Keduanya perlu berjalan beriringan dengan karakter.

“Jangan sampai kita memiliki generasi yang hebat secara kemampuan tetapi lemah dalam karakter,” ujarnya.

Karena itu, pembangunan sumber daya manusia di Banyuwangi menurut Ipuk tidak cukup hanya dilihat dari lama bersekolah. Pembentukan karakter juga perlu mendapat perhatian agar pelajar memiliki bekal ketika memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.

“Saya berharap di Banyuwangi tidak hanya mengejar harapan lama bersekolah untuk meningkatkan Indeks Pembangunan SDM kita, tetapi harus juga meningkatkan indeks kesolehan agar karakter anak-anak kita baik dan tentunya mereka juga bisa diterima di dunia kerja,” katanya.

Pesan tersebut kemudian ditujukan langsung kepada para peserta. Menurut Ipuk, keberhasilan mengikuti LKBB tidak semestinya berhenti ketika piala diterima.

“Prestasi yang sesungguhnya bukan hanya sekadar piala yang akan kalian bawa pulang, tetapi karakter yang akan kalian bawa pulang setelah mengikuti LKBB,” tuturnya.

Disiplin Harus Dibawa ke Kehidupan Sehari-hari

Plt Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi Alfian mengatakan, penguatan karakter merupakan salah satu tantangan dalam pembangunan sumber daya manusia di Banyuwangi.

“Sesuai tupoksi, Dispendik ini adalah dinas yang paling bertanggung jawab terhadap SDM di Banyuwangi serta tantangan terbesarnya adalah dari sisi perilaku serta karakter anak-anak,” ujarnya.

Karena itu, LKBB dikembangkan bukan sekadar untuk melatih kesamaan langkah atau kepatuhan terhadap satu komando. Nilai yang muncul selama latihan dan perlombaan diharapkan dapat diterapkan dalam keseharian.

“Kita mengembangkan lomba LKBB bukan sekadar kesamaan langkah atau tunduk dalam satu komando, tetapi lebih banyak ke depannya adalah implementasi karakter ini bisa dilakukan dalam bentuk keseharian pada anak-anak kita,” kata Alfian.

Disiplin, kekompakan, kerja sama, dan tanggung jawab menjadi sejumlah nilai yang dilatih melalui LKBB. Nilai tersebut diharapkan tidak berhenti di arena perlombaan setelah tiga hari kompetisi berakhir.

“Disiplin, kekompakan, bentuk kerja sama hingga tanggung jawab diharapkan bisa dilakukan anak-anak dalam keseharian, terus bisa diterapkan,” ujarnya.

LKBB Masuk Ekstrakurikuler Sekolah

Alfian juga berharap kepala sekolah dan guru menjadikan LKBB sebagai bagian dari media pembelajaran sekaligus penguatan karakter. Dengan demikian, nilai yang diperoleh peserta dapat diteruskan dalam kegiatan pendidikan sehari-hari.

“LKBB tujuan kita hanya merupakan media pembelajaran penguatan karakter, tapi lebih bagaimana dalam kehidupan tetap bisa menjaga kedisiplinan dan karakter,” katanya.

Menurut Alfian, perkembangan kegiatan baris-berbaris di berbagai satuan pendidikan Banyuwangi juga terus meningkat. Aktivitas tersebut bahkan telah menjadi bagian dari pengembangan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

“Inilah salah satu cara kita untuk memberikan penguatan pengembangan karakter anak di semua satuan pendidikan di Banyuwangi,” pungkasnya.

Tiga hari LKBB pun berakhir. Para juara membawa pulang piala dan penghargaan. Namun, pesan yang ingin ditinggalkan penyelenggara jauh lebih panjang: langkah boleh berhenti di arena, tetapi disiplin, kekompakan, tanggung jawab, dan karakter diharapkan terus berjalan dalam kehidupan sehari-hari. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
LKBB Banyuwangi Lomba baris-berbaris pendidikan karakter pelajar banyuwangi Banyuwangi Park