“Ngeri-Ngeri Sedap” Trek Gantasan, Agung Prio Jadi Raja BIG Downhill Banyuwangi

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 05:30 WIB
PARA PEMENANG: Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani  berikan mendali kepada para pemenang BIG Downhill dalam kategori Men Elite, Minggu (20/9). (M Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)
PARA PEMENANG: Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani berikan medali kepada para pemenang BIG Downhill dalam kategori Men Elite, Minggu (20/9). (M Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI — Trek Gantasan sepanjang sekitar 2,3 kilometer akhirnya menemukan para penakluknya. Agung Prio Apriano keluar sebagai juara kategori Men Elite BIG Downhill Banyuwangi 2026, setelah melewati lintasan dengan karakter yang berubah dari awal hingga mendekati garis finis. Hujan, kontur tanah, dan perubahan kondisi trek membuat setiap rider tak hanya dituntut cepat, tetapi juga mampu menjaga kontrol hingga ujung lintasan.

Perhelatan BIG Downhill Banyuwangi yang digelar di kawasan Gantasan, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Minggu (20/9), sekaligus menegaskan posisi Banyuwangi sebagai salah satu arena downhill yang mulai diperhitungkan di level internasional.

Tahun ini menjadi lebih istimewa karena BIG Downhill Banyuwangi masuk kalender resmi Union Cycliste Internationale (UCI) kategori C1. Sebanyak 22 kelas diperlombakan, mulai Women Open hingga Men Elite.

Bagi para rider, status C1 bukan sekadar label. Persaingan di lintasan menjadi bagian dari agenda balap yang tercatat dalam kalender federasi balap sepeda dunia tersebut.

Trek Gantasan: Basah di Awal, Kering Menjelang Finis

Gantasan menghadirkan tantangan yang tidak seragam. Bagian awal lintasan disebut cenderung tidak pernah benar-benar kering, sementara kondisi trek mendekati garis finis lebih kering.

Perbedaan karakter itu membuat rider harus cepat membaca perubahan permukaan tanah. Belum lagi cuaca Banyuwangi yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Ketua Panitia BIG Downhill Banyuwangi sekaligus Presiden Sego Anget Racing Team (SART) H. Munif menyebut kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar lomba.

“Trek di Gantasan mempunyai dua karakter. Di awal lintasan medannya tidak pernah kering, sedangkan mendekati finis treknya kering. Jadi kontur tanahnya sulit ditebak ditambah dengan cuaca yang terus berubah,” jelas Munif.

Panjang trek sekitar 2,3 kilometer memang terlihat singkat jika dibandingkan perjalanan balap sepeda pada umumnya. Namun dalam downhill, jarak tersebut justru menjadi arena untuk menguji kecepatan, keberanian mengambil jalur, teknik pengereman, dan kemampuan menjaga keseimbangan.

Agung Prio Apriano merasakan langsung karakter tersebut. Rider yang akhirnya menjadi juara Men Elite itu mengaku sudah beberapa kali mengikuti BIG Downhill Banyuwangi.

Menurut dia, lintasan Gantasan memiliki karakter ekstrem karena kondisi trek dapat berubah akibat hujan maupun perubahan kontur tanah.

“Ini beberapa kali saya ikut event BIG Downhill Banyuwangi yang memang untuk lintasannya cukup ekstrem yang selalu berubah untuk treknya entah itu karena hujan atau kontur tanahnya,” ujar Agung.

Tujuh Kali Digelar, Naik ke Level UCI C1

BIG Downhill Banyuwangi bukan kompetisi yang baru muncul di kalender olahraga Banyuwangi. Munif menyebut event tersebut telah digelar rutin sebanyak tujuh kali sejak 2020.

Dukungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mulai diberikan pada 2021. Dalam tiga tahun terakhir, kompetisi ini juga telah menyandang status UCI kategori C1.

Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah event lokal berkembang menjadi kompetisi yang memiliki pengakuan di tingkat internasional.

“Acara BIG Downhill sudah digelar rutin sebanyak tujuh kali sejak 2020,” ungkap Munif.

Menurut dia, perkembangan kompetisi juga berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas peserta. Sejumlah atlet nasional yang memiliki pengalaman bertanding hingga level ASEAN ikut meramaikan persaingan.

“Dari event BIG Downhill Banyuwangi hingga atletnya kita berkembang terus. Jadi dari tahun kemarin event terus meningkat pesat,” ujarnya.

Dengan 22 kelas yang dipertandingkan, arena Gantasan menjadi panggung bagi berbagai kelompok peserta. Persaingan tidak hanya menyangkut siapa yang paling cepat, tetapi juga bagaimana rider membaca kondisi lintasan yang terus berubah.

UCI C1 Jadi Panggung Baru Banyuwangi

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut masuknya BIG Downhill dalam kalender resmi UCI kategori C1 sebagai kebanggaan sekaligus indikator meningkatnya kualitas penyelenggaraan olahraga di Banyuwangi.

“Kita bersyukur acara BIG Downhill Banyuwangi masuk dalam kalender resmi UCI kategori kelas C1 yang berarti kualitas kompetisi dan lintasan di Banyuwangi semakin dikenal dan masuk dalam agenda internasional,” ujarnya.

Bagi Banyuwangi, kompetisi tersebut juga memiliki fungsi lebih luas. Event olahraga diposisikan sebagai bagian dari pengembangan sport tourism.

Peserta dan atlet yang datang dari berbagai daerah diharapkan tidak hanya berada di sekitar lintasan. Mereka juga bisa menikmati destinasi wisata, menginap, makan, berbelanja, dan berinteraksi dengan aktivitas ekonomi lokal.

“Di samping wisata alamnya yang berkembang di Banyuwangi kita juga sedang meningkatkan sebagai daerah sport tourism. Beberapa kegiatan olahraga sudah terselenggara di Banyuwangi,” tutur Ipuk.

Dampaknya diharapkan menjalar kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Mudah-mudahan dengan Banyuwangi sebagai daerah sport tourism maka banyak orang datang di Banyuwangi untuk mengikuti ajang olahraga di sini,” ungkapnya.

Ketika Rider Membawa Cerita Banyuwangi

Ada target lain yang tak kalah penting dari sekadar mendatangkan atlet.

Menurut Ipuk, setiap peserta dan wisatawan yang datang ke Banyuwangi membawa pengalaman masing-masing. Dari sanalah cerita tentang Banyuwangi diharapkan menyebar lebih luas.

“Ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa jauh kegiatan ini membawa dampak bagi masyarakat tetapi juga kita sama-sama memperkuat ikhtiar kita untuk menjaga alam dan seberapa jauh cerita di Banyuwangi dibawa ke dunia,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi relevan karena lokasi BIG Downhill berada di kawasan yang memiliki lanskap alam khas Banyuwangi.

Karena itu, geliat sport tourism tetap perlu berjalan bersama dengan upaya menjaga lingkungan. Event olahraga tidak hanya meninggalkan catatan waktu dan daftar juara, tetapi juga pengalaman tentang tempat yang menjadi tuan rumah.

BIG Downhill Banyuwangi akhirnya selesai dengan lahirnya para juara. Namun cerita dari Gantasan belum berhenti di podium.

Agung Prio Apriano dan para rider lainnya telah menaklukkan 2,3 kilometer lintasan ekstrem. Sementara bagi Banyuwangi, tantangan berikutnya adalah mempertahankan kualitas event, menjaga alam, dan memastikan setiap rider yang pulang membawa satu cerita: Banyuwangi punya panggung downhill berkelas dunia. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
UCI C1 Trek Gantasan Downhill Banyuwangi Agung Prio BIG Downhill