Usai Menang dari P19 di Monza, Antonelli Hadapi Ujian Berbeda di Baku

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 11:13 WIB
Kimi Antonelli mengendarai Mercedes W17 pada musim Formula 1 2026. Setelah meraih kemenangan beruntun di Monza dan Madrid, pembalap Italia itu menghadapi tantangan berbeda di GP Azerbaijan di Baku. (F1)
Kimi Antonelli mengendarai Mercedes W17 pada musim Formula 1 2026. Setelah meraih kemenangan beruntun di Monza dan Madrid, pembalap Italia itu menghadapi tantangan berbeda di GP Azerbaijan di Baku. (F1)

RADAR BANYUWANGI - Kimi Antonelli sedang berada di atas angin. Dua seri terakhir disapu bersih pembalap Mercedes tersebut. Caranya pun berbeda.

Di Monza, Antonelli menang setelah start dari posisi ke-19. Sepekan berselang di Madrid, dia kembali naik podium tertinggi setelah memulai balapan dari baris terdepan.

Hasil itu semakin mengukuhkan posisi Antonelli di puncak klasemen Formula 1 2026. Setelah 14 seri, pembalap berusia 20 tahun tersebut mengoleksi 292 poin. Dia unggul 81 angka atas rekan setimnya, George Russell, yang berada di posisi kedua dengan 211 poin.

Delapan dari 14 grand prix musim ini sudah dimenangi Antonelli.

Namun, ujian berikutnya berbeda.

Formula 1 memang tidak menggelar balapan pada akhir pekan 19–20 September. Tetapi, jedanya singkat. Kejuaraan akan kembali bergulir pada 24–26 September dalam GP Azerbaijan di Baku. Seri tersebut tercantum sebagai putaran ke-15 dalam kalender resmi Formula 1 2026.

Balapan digelar Sabtu, 26 September. Bukan Minggu seperti lazimnya akhir pekan Formula 1. FIA sebelumnya menyetujui perubahan jadwal atas permintaan promotor dan pihak terkait di Azerbaijan.

Bagi Antonelli dan Mercedes, Baku bukan sekadar kesempatan memburu kemenangan ketiga secara beruntun. Sirkuit jalan raya tersebut akan menguji apakah keunggulan mereka tetap bertahan ketika karakter lintasan berubah drastis.

Apalagi, ada satu tanda bahwa dominasi Mercedes tidak lagi semutlak pada awal musim: mereka sudah empat seri beruntun gagal merebut pole position.

Monza: Berangkat dari P19, Pulang sebagai Pemenang

Antonelli datang ke GP Italia, 6 September, dengan pekerjaan berat.

Perubahan komponen power unit membuatnya harus memulai balapan dari posisi ke-19. Peluang menang terlihat tipis.

Tetapi, situasi berubah cepat.

Antonelli mulai merangsek ke depan sejak fase awal. Ketika kecelakaan Charles Leclerc memicu bendera merah, dia sudah berada di posisi ke-12.

Selepas restart, pembalap Italia tersebut terus memotong jarak dengan rombongan terdepan. Periode Virtual Safety Car (VSC) kemudian memberinya kesempatan memasang ban medium yang lebih segar.

Target berikutnya adalah Russell.

Empat lap sebelum finis, Antonelli melewati rekan setimnya itu. Dia kemudian menuntaskan balapan 3,857 detik di depan Russell.

Kemenangan tersebut terasa istimewa. Antonelli menjadi pembalap Italia pertama sejak Ludovico Scarfiotti pada 1966 yang memenangi GP Italia di Monza.

”Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan,” ujar Antonelli selepas balapan, seperti dikutip laman resmi Formula 1.

Dia mengaku bahkan tidak membayangkan dapat berada dalam posisi memenangi balapan setelah memulai dari barisan belakang.

Toto Wolff pun tidak pelit memberikan pujian. Bos Mercedes tersebut menyebut penampilan Antonelli sebagai balapan yang luar biasa.

”Hari itu tidak ada yang bisa menghentikannya,” kata Wolff.

Monza menunjukkan bahwa Antonelli sanggup keluar dari masalah dan tetap menang.

Seminggu kemudian di Madrid, tantangannya berubah.

Madrid: Menang, tetapi Akui Norris Lebih Pantas

Antonelli tidak perlu melakukan aksi mengejar dari belakang di Madring.

Dia memulai balapan dari posisi kedua. Jaraknya dengan peraih pole Lando Norris hanya 0,011 detik.

Norris kemudian menguasai fase awal lomba. Antonelli belum mampu memberikan serangan langsung kepada pembalap McLaren tersebut.

Momentum berbalik ketika Lance Stroll berhenti akibat masalah rem dan VSC diberlakukan.

Antonelli mendapat keuntungan besar. Dia bisa melakukan pit stop dengan kehilangan waktu lebih sedikit. Sebaliknya, Norris telah melewati pintu masuk pit ketika VSC muncul. Saat pembalap Inggris itu akhirnya berhenti, periode VSC sudah berakhir.

Posisi terdepan berpindah tangan.

Antonelli tidak menyia-nyiakannya. Dia membawa Mercedes finis pertama, 4,351 detik di depan Max Verstappen. Norris harus puas di posisi ketiga.

Menariknya, Antonelli tidak menutupi fakta bahwa keberuntungan strategi ikut berperan.

”Senang bisa menang, tetapi rasanya tidak sebaik biasanya karena menurut saya Lando lebih pantas menang hari ini,” kata Antonelli.

Dia mengakui Mercedes tampil kuat, terutama ketika menggunakan ban keras. Namun, timing VSC jelas mengubah arah balapan.

Dua kemenangan itu pun memiliki cerita berbeda.

Monza memperlihatkan kemampuan Antonelli menyalip dan bangkit dari belakang. Madrid menunjukkan bagaimana dia dan Mercedes mampu memanfaatkan perubahan situasi balapan.

Keduanya berakhir dengan hasil sama, yakni kemenangan.

Keunggulan 81 Poin Mulai Mengubah Peta Gelar

Kemenangan di Madrid membawa Antonelli mengoleksi 292 poin. Keunggulannya atas Russell melebar menjadi 81 angka.

Reuters mencatat kemenangan tersebut merupakan yang kedelapan bagi Antonelli musim ini.

Jarak sebesar itu mulai mengubah cara Russell melihat persaingan.

”Secara realistis, saya tidak lagi berada dalam persaingan gelar pembalap,” ujar Russell setelah finis kelima di Madrid.

Dia memilih mengalihkan fokus ke setiap balapan dan membantu Mercedes mengamankan gelar konstruktor.

Situasinya berubah cepat.

Selepas Monza, Antonelli unggul 66 poin atas Russell. Hanya satu pekan kemudian, selisihnya bertambah menjadi 81.

Namun, di balik dominasi poin tersebut, ada satu statistik yang patut diperhatikan.

Mercedes Menang, tetapi Pole Mulai Menghilang

Sepuluh seri pertama musim 2026 dikuasai Mercedes dalam sesi kualifikasi.

Russell dan Antonelli bergantian membawa mobil W17 ke pole position sejak Australia hingga Belgia.

Setelah itu, tren berubah.

Lando Norris meraih pole di Hungaria dan Belanda. Pierre Gasly menjadi yang tercepat di Monza. Norris kemudian kembali merebut pole di Madrid.

Artinya, Mercedes sudah empat seri beruntun gagal menjadi yang tercepat dalam kualifikasi.

Itu terjadi ketika mereka masih mampu memenangi balapan.

Kontras tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Baku menarik untuk diamati. Kecepatan balapan Mercedes masih kuat. Namun, keunggulan satu putaran mereka mulai mendapat tekanan.

Bahkan, Mercedes tidak datang ke Azerbaijan dengan paket pembaruan besar.

Andrew Shovlin, Trackside Engineering Director Mercedes, mengatakan tim tidak membawa banyak komponen baru ke Baku.

”Kami tidak membawa banyak hal baru ke Baku. Sirkuit itu lebih menuntut hambatan udara rendah daripada downforce,” ujar Shovlin kepada Autosport.

Pernyataan tersebut membuat GP Azerbaijan menjadi ujian yang cukup murni terhadap paket W17 saat ini.

Jika Mercedes kembali tampil dominan, keberhasilan tersebut bukan karena lonjakan performa dari upgrade besar yang baru dipasang.

Baku Bukan Monza dengan Tembok

Baku dan Monza memang sama-sama membutuhkan kecepatan tinggi.

Tetapi, kemiripannya berhenti sampai di situ.

Baku City Circuit memiliki panjang 6,003 kilometer. Balapan berlangsung selama 51 lap dengan total jarak 306,049 kilometer.

Di satu sisi, pembalap akan menghadapi lintasan lurus panjang yang memungkinkan mobil melaju mendekati 350 km/jam.

Di sisi lain, mereka harus melewati kawasan kota tua dengan lintasan sempit, tikungan lambat, dan dinding yang hanya berjarak sedikit dari mobil.

Itulah karakter Baku.

Mobil harus kencang di lintasan lurus, tetapi tetap memiliki traksi kuat ketika keluar dari tikungan lambat. Stabil saat pengereman juga mutlak diperlukan.

Kesalahan kecil bisa berakibat mahal.

Pada sirkuit permanen, mobil yang sedikit melebar masih mungkin hanya menyentuh area run-off. Di Baku, kesalahan serupa dapat berakhir di dinding.

Tantangan itu semakin menarik dengan regulasi baru Formula 1 2026.

FIA memperkenalkan aerodinamika aktif yang memungkinkan sayap depan dan belakang bekerja dengan konfigurasi berbeda antara lintasan lurus dan tikungan.

Tujuannya, mengurangi hambatan udara saat mobil melaju kencang sekaligus mempertahankan downforce ketika dibutuhkan.

Secara teori, konsep tersebut cocok dengan karakter Baku yang memiliki dua wajah.

Namun, kecepatan tertinggi saja tidak cukup.

Mobil juga harus nyaman dikendalikan ketika memasuki tikungan sempit. Pembalap membutuhkan kepercayaan diri tinggi untuk mengerem terlambat dan melaju hanya beberapa sentimeter dari tembok pembatas.

Shovlin juga mengingatkan bahwa Baku memiliki karakter tikungan lambat yang dalam beberapa bagian menyerupai tantangan street circuit seperti Monaco.

Di situlah Mercedes akan diuji.

Antonelli Sudah Punya Bekal di Baku

Antonelli bukan pendatang baru di Azerbaijan.

Pada GP Azerbaijan 2025, dia start dari posisi keempat dan finis di posisi yang sama. Russell, yang memulai balapan dari urutan kelima, berhasil naik ke posisi kedua.

Mercedes membawa pulang dua mobil di empat besar.

Pengalaman tersebut penting. Setidaknya Antonelli sudah mengetahui seperti apa tekanan mengendarai mobil Formula 1 di antara tembok Baku.

Pada sesi latihan tahun lalu, dia juga mengungkapkan pendekatan yang digunakan.

”Ini sirkuit jalan raya. Jadi, saya berusaha membangun kepercayaan diri sedikit demi sedikit,” katanya.

Pendekatan itu cukup berhasil. Antonelli kemudian mampu bertarung di kelompok depan sepanjang akhir pekan.

Meski demikian, hasil 2025 tidak bisa dijadikan patokan langsung untuk musim ini.

Formula 1 memasuki era teknis baru pada 2026. Mobil berubah dari sisi aerodinamika, dimensi, bobot, hingga karakter power unit.

Karena itu, hasil musim lalu lebih relevan sebagai modal pengalaman pembalap ketimbang tolok ukur performa W17.

Delapan Kemenangan, Delapan Karakter Tantangan

Antonelli juga sudah menunjukkan bahwa keberhasilannya tidak hanya datang pada satu jenis trek.

Delapan kemenangan musim ini diraih di Tiongkok, Jepang, Miami, Kanada, Monaco, Belgia, Italia, dan Spanyol.

Daftar tersebut mencakup trek permanen, street circuit, lintasan berkecepatan tinggi, serta sirkuit dengan kebutuhan downforce besar.

Mercedes secara keseluruhan telah memenangi 10 dari 14 grand prix musim ini. Dua kemenangan lainnya diraih Russell di Australia dan Austria.

Tetapi, pola musim menunjukkan rival mulai mendekat.

Mercedes memenangi enam balapan pertama. Setelah itu, mereka hanya memenangi empat dari delapan seri berikutnya. Ferrari dan McLaren mulai mencuri kemenangan.

Artinya, dominasi Mercedes masih terlihat di klasemen, tetapi persaingan di lintasan mulai lebih rapat.

Itulah yang membuat dua kemenangan Antonelli di Monza dan Madrid terasa penting.

Dia tidak hanya bertahan di tengah tekanan. Dia justru memperbesar keunggulan ketika lawan mulai mendekat.

Baku Akan Menguji Apakah Momentum Sudah Menjadi Pola

Antonelli sudah membuktikan bisa menang dari depan.

Dia juga bisa menang dari belakang.

Dia sudah berjaya di sirkuit permanen maupun street circuit.

Delapan kemenangan dari 14 seri menjadi bukti paling sederhana bahwa kecepatannya tidak bergantung pada satu tipe lintasan.

Namun, Baku datang pada momen yang tepat untuk memberikan ujian lain.

Mercedes sudah empat seri tanpa pole. Paket pengembangan besar berikutnya belum tiba. McLaren dan Ferrari semakin kompetitif. Pada saat yang sama, Baku menuntut efisiensi di lintasan lurus, kestabilan pengereman, traksi di tikungan lambat, dan presisi tinggi di antara tembok.

Jika Antonelli kembali bersaing di barisan depan sejak kualifikasi dan mampu mengendalikan balapan, kemenangan di Azerbaijan akan membuktikan bahwa performanya bukan sekadar momentum sesaat.

Sebaliknya, jika Mercedes kembali kehilangan pole atau kesulitan menemukan kompromi setelan mobil, Baku dapat memperlihatkan celah yang masih bisa dimanfaatkan rival pada fase akhir musim.

Antonelli sendiri tidak mau melihat terlalu jauh.

Selepas Madrid, dia menegaskan masih ingin menjalani musim dari satu balapan ke balapan berikutnya.

”Saya hanya ingin menjalaninya dari balapan ke balapan dan terus memberikan hasil terbaik,” katanya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Formula 1 2026 Baku City Circuit gp azerbaijan 2026 kimi antonelli mercedes f1