RADAR BANYUWANGI - Lando Norris mengamankan pole position di Madrid dengan cara yang nyaris sulit dipercaya. Pembalap McLaren itu bahkan kehilangan lebih dari tiga persepuluh detik di tikungan terakhir, tetapi catatan waktunya tetap cukup untuk mengantarkannya ke posisi start terdepan.
Hasil tersebut menjadi pole position ketiga Norris dalam empat balapan terakhir dan yang ke-19 sepanjang kariernya. Namun, performa kali ini terasa istimewa karena McLaren sebenarnya tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai mobil tercepat sepanjang akhir pekan.
Andrea Stella bahkan menyebut lap Norris pada akhir Q3 sebagai sebuah “bit of a masterpiece”. Menurut bos McLaren tersebut, putaran itu merupakan salah satu lap paling mengesankan yang pernah ia saksikan selama mengikuti telemetri 450 Grand Prix.
“Saya akan mengatakan bahwa ini jelas salah satu lap paling mengesankan yang pernah saya saksikan, sebagai seseorang yang melihat telemetri dalam 450 Grand Prix,” kata Stella.
Yang membuat penampilan Norris semakin menarik adalah kondisi mobil dan lintasan yang tidak sepenuhnya menguntungkan McLaren. Tim asal Woking tersebut justru harus bekerja keras sepanjang akhir pekan untuk mengatasi kelemahan mobil di sejumlah tikungan berkecepatan rendah.
Norris kehilangan lebih dari 0,3 detik di tikungan terakhir
Lap terakhir Norris sebenarnya tidak sempurna.
Saat memasuki tikungan ke-22 yang menjadi tikungan terakhir, ban mobilnya sudah kehilangan sebagian performa setelah dipaksa bekerja sangat keras sepanjang satu putaran. Norris kemudian mengalami oversteer ketika memasuki tikungan tersebut dan keluar dari racing line.
Akibatnya, ia kehilangan lebih dari tiga persepuluh detik.
Namun, waktu yang sudah dibangun Norris pada 21 tikungan sebelumnya begitu kuat sehingga kesalahan tersebut tidak menggagalkan usahanya merebut pole.
“Saya pikir hal yang paling mengesankan adalah pole position ini tetap didapat meski kehilangan tiga setengah persepuluh detik di tikungan terakhir,” ujar Stella.
Menurutnya, tanpa kehilangan waktu tersebut, pole Norris seharusnya terlihat jauh lebih meyakinkan.
Kesalahan di tikungan terakhir juga bukan semata-mata karena Norris gagal mengendalikan mobil. Stella melihatnya sebagai konsekuensi dari keberanian Norris mengekstraksi performa maksimal dari ban dan mobil.
“Masalah ini merupakan konsekuensi dari mendorong mobil hingga level yang berhasil dicapai Lando,” kata Stella.
McLaren mengubah setelan mobil sepanjang akhir pekan
Keberhasilan Norris tidak terlepas dari pekerjaan teknis McLaren.
Sejak sesi latihan pertama, tim telah mengetahui bahwa MCL40 memiliki karakter yang lebih kuat di tikungan berkecepatan tinggi dan sektor yang mengalir. Sebaliknya, mobil tersebut cenderung sulit dikendalikan ketika harus mengerem, membawa pengereman ke tikungan berkecepatan rendah, kemudian melewati kerb.
Madrid menjadi tantangan karena lintasannya memiliki banyak kombinasi tikungan yang menuntut karakter tersebut.
Tim kemudian menetapkan target untuk meningkatkan performa mobil di kecepatan rendah dan ketika melewati kerb. Perubahan dilakukan secara bertahap dari satu sesi ke sesi berikutnya.
Pekerjaan itu sempat terganggu ketika Norris mengalami masalah gearbox pada FP2 dan kehilangan sebagian besar waktu di sesi tersebut. McLaren pun memiliki referensi yang lebih terbatas ketika memasuki FP3 dan kualifikasi.
Namun, tim terus melakukan penyesuaian.
“Salut untuk Lando, tetapi saya juga ingin memberikan apresiasi kepada tim,” kata Stella.
“Kami memiliki tujuan yang jelas sejak putaran pertama latihan, yaitu menambah performa di kecepatan rendah dan saat melewati kerb,” imbuhnya.
Perubahan tersebut akhirnya membuat karakter mobil menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan lintasan.
Presisi Norris menjadi pembeda
Menurut Stella, kecepatan bukan satu-satunya alasan lap Norris begitu istimewa. Faktor yang paling menonjol justru adalah presisi.
Setiap detail dilakukan dengan sangat akurat, mulai dari pengereman, kecepatan saat memasuki tikungan, cara mobil melewati kerb, hingga momen Norris kembali menginjak pedal gas.
“Yang membuat lap ini unik, terutama ketika melihat telemetri, adalah presisi, pengereman, kecepatan saat masuk, cara menghantam kerb, dan menggunakan tenaga. Semuanya dilakukan dengan tingkat presisi yang cukup unik,” ujar Stella.
Hasilnya terlihat pada sektor pertama. Sebelumnya, McLaren diperkirakan akan kesulitan di bagian tersebut karena karakter mobilnya. Namun, Norris justru mampu menjadi yang tercepat.
Stella mengatakan peningkatan itu tidak hanya berasal dari Tikungan 5 dan 6. Performa di Tikungan 1 dan 2 juga memberikan kontribusi besar.
Kemampuan Norris mengambil kerb di Tikungan 1 tanpa membuat mobil kehilangan keseimbangan menjadi salah satu contoh bagaimana detail kecil dapat menghasilkan perbedaan besar dalam satu lap.
Bagi Stella, kombinasi tersebut membuat lap Norris nyaris tidak mungkin diulang dengan tingkat eksekusi yang sama.
Lap yang sulit diulangi
McLaren memang berhasil menemukan lebih banyak performa dari MCL40, tetapi Stella tidak menganggap pole position tersebut sebagai sesuatu yang mudah diulang.
Ia menilai Norris mampu mengeksploitasi potensi mobil hingga tingkat yang sangat tinggi pada kesempatan terakhir Q3.
“Eksploitasi potensi mobil untuk lap pole position ini cukup unik,” kata Stella.
Menurutnya, jika Norris mendapat satu set ban baru, ia mungkin dapat mengambil kembali sekitar tiga persepuluh detik yang hilang di tikungan terakhir. Namun, belum tentu ia mampu mengulangi performa luar biasa yang ditunjukkannya di 21 tikungan sebelumnya.
“Jika kami memasang satu set ban lain, kami mungkin mendapatkan tiga persepuluh di tikungan terakhir, tetapi saya tidak yakin kami bisa mengulangi apa yang dilakukan Lando di 21 tikungan sebelumnya,” ujar Stella.
Di situlah letak keistimewaan lap Norris di Madrid.
McLaren tidak datang dengan mobil yang sejak awal akhir pekan terlihat dominan. Tim harus mengidentifikasi kelemahan, melakukan perubahan setelan secara bertahap, lalu berharap pembalap mampu mengekstraksi hasil maksimal dalam satu putaran.
Norris melakukan lebih dari itu.
Ia menghasilkan salah satu lap terbaiknya ketika tekanan berada di titik tertinggi. Bahkan setelah kehilangan lebih dari 0,3 detik di tikungan terakhir, catatan waktunya tetap cukup untuk memberinya pole position ke-19.
Bagi McLaren, hasil tersebut menjadi bukti bahwa pengembangan teknis dan eksekusi pembalap dapat mengubah situasi dalam waktu singkat. Bagi Norris, pole di Madrid menjadi pengingat bahwa satu lap yang sempurna tidak selalu berarti tanpa kesalahan.
Kadang-kadang, lap terbaik justru adalah lap ketika seorang pembalap mampu membangun keunggulan yang cukup besar sebelum kesalahan kecil di ujung lintasan menghapus sebagian waktunya.
Dan di Madrid, Norris melakukan hal tersebut dengan tingkat presisi yang membuat Andrea Stella menyebutnya sebagai salah satu lap paling mengesankan yang pernah ia saksikan.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : F1