RADAR BANYUWANGI - Sirkuit baru Madring langsung memberikan tantangan besar kepada pembalap dan tim Formula 1 pada latihan bebas Jumat (11/9). Lintasan yang cepat, teknis, dan memiliki dinding pembatas berdekatan memang mendapat sambutan positif dari para pembalap, tetapi persoalan graining ban muncul lebih parah dari perkiraan.
Madring menjadi wilayah yang masih penuh tanda tanya bagi seluruh tim. Simulasi sebelum akhir pekan balapan hanya memberikan gambaran terbatas sehingga para insinyur harus mengumpulkan data langsung mengenai setelan mobil, penyaluran energi unit daya, karakter aspal, hingga pengelolaan ban.
Dari berbagai persoalan tersebut, ban menjadi perhatian utama.
Graining Langsung Muncul pada Latihan Pertama
Tim sebenarnya sudah memperkirakan bahwa graining berpotensi terjadi karena Madring menggunakan permukaan aspal baru. Namun, tingkat degradasi yang terlihat pada FP1 tetap mengejutkan.
George Russell mengatakan kondisi tersebut muncul karena grip lintasan memang tinggi, tetapi mobil juga mengalami selip yang cukup agresif.
“Kami sudah menganggapnya sebagai sebuah kemungkinan. Ini sering terjadi pada aspal baru. Grip memang sangat tinggi, tetapi Anda juga mengalami selip yang cukup agresif,” ujar Russell.
Degradasi ban bahkan membuat Russell menggambarkan situasi secara ekstrem. Menurutnya, jika kondisi FP1 bertahan hingga balapan, strategi dengan enam kali pit stop bisa saja menjadi pilihan tercepat.
Kondisi kemudian sedikit membaik pada FP2. Meski begitu, pengelolaan ban masih menjadi salah satu pertanyaan terbesar menjelang balapan.
Keputusan mayoritas tim untuk menyimpan dua set ban keras C2 juga menarik perhatian. Hanya Audi yang menggunakan kompon tersebut pada Jumat. Pilihan itu mengindikasikan bahwa ban keras berpotensi memainkan peranan penting dalam strategi balapan.
Gasly Nikmati Tantangan Madring
Di tengah persoalan teknis tersebut, para pembalap justru memberikan penilaian positif terhadap karakter Madring.
Pierre Gasly, yang mengakhiri hari di posisi ke-11, mengatakan lintasan baru tersebut memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan sejumlah sirkuit lain.
“Saya benar-benar menyukainya. Sangat menyenangkan. Ini lintasan yang memberikan banyak adrenalin,” kata Gasly.
Pembalap tersebut menyoroti kedekatan dinding dengan jalur balap. Kondisi itu membuat setiap tikungan membutuhkan tingkat presisi tinggi karena kesalahan kecil dapat langsung berakibat pada waktu putaran atau bahkan kontak dengan pembatas.
Madring juga memiliki kombinasi tikungan cepat yang menurut Gasly tidak lazim ditemukan pada sirkuit jalan raya.
Ia bahkan menggambarkan karakter lintasan tersebut seperti perpaduan antara Jeddah dan Monako. Sirkuit baru itu memberikan sensasi khas lintasan jalan raya, tetapi tetap menawarkan bagian berkecepatan tinggi.
Piastri: Lebih Sulit dari Beberapa Sirkuit Lain
Oscar Piastri memiliki penilaian serupa mengenai tingkat kesulitan Madring. Pembalap McLaren itu menempati posisi ketujuh pada FP2 dan mengakui bahwa beberapa bagian lintasan membutuhkan konsentrasi tinggi.
Menurut Piastri, tantangannya bukan hanya soal seberapa dekat mobil dengan dinding. Pada beberapa bagian, mobil justru bergerak mengarah ke dinding sehingga pembalap harus mengatur jalur dengan sangat hati-hati.
“Sejujurnya, ini lebih sulit dibandingkan beberapa lintasan lainnya,” kata Piastri.
Ketika sudah menemukan ritme dalam satu putaran, Madring mulai terasa menyenangkan. Namun, situasinya berubah ketika mobil menjalani simulasi balapan karena pengemudi harus menjaga kondisi ban di tengah graining.
“Dalam simulasi balapan, mengelola ban dengan graining benar-benar menjadi mimpi buruk,” ujarnya.
Komentar tersebut menggambarkan salah satu perbedaan utama antara menjalani satu putaran cepat dan simulasi balapan. Kecepatan satu lap belum tentu dapat dipertahankan ketika beban ban dan degradasi menjadi faktor utama.
Ferrari Menjanjikan, Red Bull Masih Mencari Arah
Ferrari menjadi salah satu tim yang terlihat kompetitif sejak FP1. Charles Leclerc kemudian menempati posisi kedua pada FP2.
Namun, prinsipal Ferrari Fred Vasseur mengingatkan bahwa performa latihan bebas tidak dapat dijadikan patokan utama untuk menilai kekuatan tim pada akhir pekan tersebut.
Menurut Vasseur, perubahan grip di Madring diperkirakan berlangsung signifikan. Karena itu, pekerjaan terpenting tim adalah mempersiapkan mobil untuk menghadapi kondisi lintasan saat kualifikasi, terutama Q3.
“Setelan yang bagus adalah setelan yang bekerja pada kualifikasi, bukan pada latihan bebas,” ujar Vasseur.
Ferrari juga harus memperhitungkan perubahan grip yang dapat terjadi dari FP3 menuju kualifikasi. Kondisi tersebut membuat prediksi performa mobil menjadi lebih sulit, terutama karena karakter lintasan baru belum sepenuhnya dipahami.
Sementara Ferrari menunjukkan perkembangan positif, Red Bull masih belum puas dengan hasil latihan.
Pierre Waché menegaskan bahwa pekerjaan tim masih panjang. Fokus Red Bull tidak hanya berada pada grip mekanis, tetapi juga pada respons mobil dan penyaluran energi di lintasan.
“Kami masih memiliki banyak pekerjaan terkait setelan mobil. Grip mekanis dan respons mobil ternyata lebih menantang daripada yang kami perkirakan,” kata Waché.
Setup Mobil Jadi Dilema Besar
Madring tidak hanya memaksa tim memikirkan ban. Variasi tikungan dan keberadaan kerb juga membuat para insinyur harus menentukan kompromi yang sulit.
Mobil ideal untuk tikungan berkecepatan tinggi biasanya membutuhkan karakter yang rendah dan kaku agar platform aerodinamika tetap stabil. Namun, karakter tersebut bisa menjadi masalah ketika mobil harus melewati kerb dengan agresif.
Direktur olahraga Audi, Inaki Rueda, menyoroti dilema tersebut. Salah satu contohnya terdapat di Tikungan 2, ketika pembalap perlu melewati kerb untuk mendapatkan waktu putaran.
“Trade-off utama di sini adalah antara mobil yang rendah dan kaku untuk aerodinamika karena ada banyak tikungan berkecepatan tinggi, dengan kebutuhan melewati kerb,” kata Rueda.
Mobil yang terlalu rendah dan kaku memang dapat memberikan keuntungan aerodinamika, tetapi tidak ideal ketika harus melintasi kerb. Sebaliknya, mobil yang lebih tinggi dan fleksibel dapat membantu melewati kerb, tetapi berpotensi kehilangan performa di bagian lintasan lainnya.
Inilah yang membuat Madring menjadi ujian bukan hanya bagi pembalap, tetapi juga bagi para insinyur.
Kualifikasi Akan Menjadi Ujian Berikutnya
Setelah menjalani dua sesi latihan, sejumlah persoalan mulai terpetakan. Namun, belum ada tim yang benar-benar dapat memastikan bagaimana keseimbangan kekuatan akan berubah ketika kondisi lintasan semakin berkembang.
Graining ban masih menjadi tanda tanya terbesar. Tingkat grip yang meningkat dapat mengubah perilaku ban, sementara perubahan permukaan lintasan juga akan memengaruhi setelan mobil.
Kualifikasi akan menjadi ujian penting berikutnya. Tim harus menemukan kompromi antara kecepatan satu putaran, pengelolaan ban, penggunaan energi, serta kemampuan mobil melewati berbagai karakter tikungan dan kerb.
Bagi pembalap, Madring menawarkan kombinasi yang menarik, lintasan jalan raya dengan sensasi kecepatan tinggi dan dinding yang menuntut presisi. Bagi tim, sirkuit baru ini menjadi persoalan teknis yang belum memiliki jawaban pasti.
Madring tidak memberi banyak ruang untuk kesalahan. Performa pada sesi latihan belum tentu menggambarkan kekuatan sebenarnya, dan keputusan mengenai setelan serta ban dapat menjadi pembeda ketika persaingan memasuki fase yang lebih menentukan.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : F1