Bortoleto Yakin Audi Kompetitif di F1 Madring, Tikungan 5-6 Jadi Ujian Berat

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 19:19 WIB
Gabriel Bortoleto optimistis Audi mampu tampil kompetitif di Madring setelah menunjukkan performa menjanjikan di sejumlah sirkuit. (F1)
Gabriel Bortoleto optimistis Audi mampu tampil kompetitif di Madring setelah menunjukkan performa menjanjikan di sejumlah sirkuit. (F1)

RADAR BANYUWANGI - Gabriel Bortoleto melihat peluang Audi tampil kompetitif di Madring setelah timnya mampu menunjukkan performa yang lebih baik dari perkiraan di Monza. Namun, pembalap Brasil tersebut memperkirakan karakter Madring akan menghadirkan tantangan tersendiri, terutama di Tikungan 5 dan 6.

Madring memiliki kombinasi tikungan buta, banking, perubahan elevasi, serta sejumlah zona pengereman yang menuntut presisi tinggi. Bagi Bortoleto, karakter tersebut justru membuat sirkuit baru ini menarik untuk ditaklukkan.

Ia telah mempelajari lintasan melalui simulator dan mengaku menikmati karakter pengereman yang terdapat di sejumlah bagian sirkuit.

“Seperti kata mereka berdua, ini trek yang sangat menantang. Banyak tikungan buta (blind corners), kemiringan (banking), serta elevasi naik-turun,” kata Bortoleto, Kamis (10/9).

Menurutnya, kemampuan pembalap beradaptasi dengan perubahan karakter lintasan sekaligus menemukan setelan mobil yang tepat akan menjadi salah satu faktor penting sepanjang akhir pekan.

Bortoleto sendiri datang dengan keyakinan bahwa Audi memiliki paket yang cukup kompetitif untuk menghadapi berbagai jenis sirkuit. Penilaian itu tidak hanya didasarkan pada karakter Madring, tetapi juga pada performa Audi di beberapa lintasan sebelumnya.

Monza memberi Audi alasan untuk optimistis

Sebelum menuju Madring, Audi sempat menghadapi tantangan di Monza. Sirkuit tersebut memiliki sejumlah lintasan lurus panjang yang sebelumnya diperkirakan kurang menguntungkan bagi mobil Audi.

Namun, perkiraan itu tidak sepenuhnya terbukti. Bortoleto mengatakan Audi mampu mendekati Q3 dan kembali bersaing untuk mendapatkan poin dalam balapan.

“Ketika sebelumnya saya mengira kami tidak akan kompetitif di trek dengan banyak lintasan lurus seperti Monza, kenyataannya kami hampir menembus Q3 dan kembali bertarung memperebutkan poin dengan finis P11,” ujarnya.

Bortoleto mengakui ada sejumlah trek yang secara karakter lebih menguntungkan Audi. Ia menyebut Madring, Zandvoort, dan Budapest sebagai contoh sirkuit dengan karakter yang sesuai dengan kekuatan mobilnya.

Meski demikian, performa di Monza, Spa, dan Silverstone membuatnya melihat potensi yang lebih luas.

“Ada sirkuit yang jelas lebih menguntungkan kami, terutama yang minim trek lurus seperti di sini, Zandvoort, atau Budapest. Namun bahkan di trek lurus panjang seperti Monza, Spa, dan Silverstone di mana kami menduga akan kesulitan, kami justru mampu mendulang poin,” katanya.

Bagi Bortoleto, hasil tersebut menunjukkan Audi tidak harus menunggu sirkuit tertentu untuk bisa bersaing. Ia menilai timnya sudah memiliki paket yang memungkinkan mereka bertarung pada setiap akhir pekan.

Tikungan 5 dan 6 menjadi ujian mental

Meski optimistis, Bortoleto tidak menganggap Madring sebagai lintasan yang mudah. Hampir setiap tikungan, menurutnya, memiliki tantangan masing-masing.

Namun, Tikungan 5 dan 6 mendapat perhatian khusus karena pembalap harus menghadapi kerb, perubahan elevasi, kemudian melanjutkan putaran menuju rangkaian tikungan cepat.

“Hampir semua tikungan sangat menantang, tetapi Tikungan 5 dan 6 mungkin yang paling berat karena banyak melibas kerb, lalu lintasannya sedikit menanjak kemudian menurun, disusul beberapa tikungan cepat setelahnya,” tuturnya.

Tantangan itu bukan hanya soal kecepatan mobil. Bortoleto menilai Madring juga akan menguji konsentrasi dan ketahanan mental pembalap.

“Ini tipe sirkuit di mana Anda bisa merasakan deru napas sendiri begitu menyelesaikan satu putaran karena sangat menguras mental,” ucapnya.

Karena itu, mendapatkan satu putaran sempurna di Madring bukan perkara sederhana. Setiap kesalahan kecil berpotensi mengganggu ritme keseluruhan lap.

Bagi Bortoleto, justru di situlah daya tarik sirkuit tersebut.

“Menyatukan satu putaran yang sempurna akan sangat sulit, tetapi ketika berhasil, hasilnya akan sangat memuaskan,” katanya.

Bortoleto ingin mengubah P11 menjadi poin

Ada satu catatan lain yang tidak luput dari pembicaraan, yakni frekuensi Bortoleto finis di posisi ke-11 musim ini.

Ketika ditanya apakah dirinya sudah terlalu sering mendapatkan hasil P11, pembalap Audi tersebut mengakuinya dengan singkat.

“Sedikit terlalu banyak, ya. Lebih banyak dari yang saya inginkan,” ujarnya.

Posisi ke-11 tentu menjadi hasil yang kurang memuaskan karena berada tepat di luar zona poin. Karena itu, akhir pekan di Madring menjadi kesempatan bagi Bortoleto untuk mengubah performa yang cukup kompetitif menjadi hasil yang benar-benar menghasilkan angka di klasemen.

Keyakinan terhadap mobil Audi menjadi modal penting. Bortoleto tidak lagi melihat timnya hanya kompetitif di trek dengan karakter tertentu, melainkan memiliki peluang untuk bertarung dalam berbagai kondisi.

Audi tetap memperjuangkan hasil Monza

Selain persiapan menghadapi Madring, Bortoleto juga menjelaskan alasan Audi mengajukan banding terhadap hasil balapan di Monza.

Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan regulasi mengenai pembalap yang menyebabkan putaran formasi tambahan. Audi menilai pembalap dalam situasi tersebut seharusnya memulai balapan dari pit lane.

“Regulasi mengaturnya dengan sangat jelas. Ketika seorang pembalap menyebabkan putaran formasi tambahan, dia harus memulai balapan dari pit lane, dan dalam kasus itu Yuki tidak melakukannya,” kata Bortoleto.

Audi kemudian memilih mengajukan banding karena hasil tersebut dianggap memiliki nilai penting bagi tim.

“Bagi kami, posisi itu berharga satu poin dan setiap poin sangat berarti. Pada akhirnya, aturan harus ditegakkan secara adil,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan betapa pentingnya setiap posisi dalam persaingan Formula 1. Bagi tim yang tengah berusaha mengumpulkan poin, perbedaan satu posisi dapat menjadi sesuatu yang signifikan.

Suzuka paling membekas bagi Bortoleto

Di luar persiapan balapan, Bortoleto juga ditanya mengenai sirkuit yang paling membuatnya terkesan sejak pertama kali menjajalnya.

Ia memilih Suzuka dan Imola. Namun, Suzuka memiliki kesan yang lebih kuat.

“Bagi saya ada dua: Suzuka dan Imola, tetapi Suzuka yang paling membekas,” katanya.

Pengalaman tersebut semakin berkesan karena ia pertama kali mengendarai mobil Formula 1 di Suzuka ketika mobil memiliki tingkat downforce yang sangat tinggi.

“Pertama kali saya mencobanya dengan mobil F1 tahun lalu saat mobil memiliki downforce sangat tinggi. Sensasi putaran pertama di sana sungguh luar biasa,” tuturnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Madring formula 1 audi Gabriel Bortoleto f1