RADAR BANYUWANGI - Carlos Sainz akhirnya mendapatkan kesempatan yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam mimpinya. Pembalap Williams itu akan menjalani Grand Prix di Madrid, kota tempat ia tumbuh, belajar mengemudikan gokart, dan pertama kali bermimpi menjadi pembalap Formula 1.
Balapan di kota kelahirannya membuat akhir pekan ini terasa berbeda bagi Sainz. Bukan hanya karena Madrid menjadi tuan rumah Grand Prix, tetapi karena sirkuit tersebut berada di kota yang menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.
“Sangat istimewa. Pertama-tama, selamat datang semuanya di Madrid. Senang menerima kalian semua di kota asal saya, kota tempat saya dibesarkan, kota tempat saya mengawali langkah sebagai pembalap gokart cilik berusia 10 tahun yang bermimpi menjadi pembalap F1,” ujar Sainz, Kamis (10/9).
Kini, hampir dua dekade setelah memulai perjalanan tersebut, Sainz kembali ke Madrid sebagai pembalap Formula 1.
“Rasanya gila jika dipikirkan, sesuatu yang sangat saya banggakan dan pasti akan sangat saya nikmati,” katanya.
Mimpi Sainz dimulai dari Madrid
Bagi Sainz, perjalanan menuju Formula 1 tidak dapat dipisahkan dari Madrid. Di kota inilah ia menghabiskan masa kecil dan mulai serius menekuni dunia balap.
Salah satu sosok yang paling memengaruhi mimpinya adalah Fernando Alonso. Ketika masih berusia 10 tahun, Sainz bahkan pernah mengatakan kepada ayahnya bahwa suatu hari ia ingin menjadi seperti juara dunia Formula 1 tersebut.
“Suatu hari nanti aku ingin menjadi seperti Fernando Alonso,” kenang Sainz mengenai ucapan yang pernah disampaikannya saat masih kecil.
Ada pula kenangan lain yang menunjukkan betapa kuatnya ketertarikan Sainz terhadap Formula 1. Ia masih mengingat ketika pada usia 10 tahun mengetuk pintu kamar ayahnya sekitar pukul 04.00 untuk menonton Grand Prix Australia.
Saat itu, anak kecil tersebut tentu belum membayangkan bahwa suatu hari dirinya akan menjadi pembalap Formula 1 dan berkompetisi di Grand Prix yang digelar di kota tempat ia dibesarkan.
“Itulah mengapa ini sangat emosional bagi saya,” kata Sainz.
Sirkuit Madrid menjadi tantangan bagi Williams
Di balik kisah emosional tersebut, Sainz tetap harus menghadapi persoalan kompetitif. Williams diperkirakan tidak mudah mendapatkan hasil besar di Madrid.
Sainz menilai karakteristik layout sirkuit baru tersebut kurang menguntungkan bagi mobil Williams. Ia bahkan menyebut sulit menemukan trek yang lebih menyulitkan bagi mobilnya dibandingkan sirkuit Madrid.
“Bukan rahasia lagi bahwa balapan ini masih akan berat bagi kami,” ujarnya.
Sainz sebelumnya telah mencoba beberapa bagian lintasan menggunakan mobil jalan raya. Namun, ia menilai pengalaman tersebut belum dapat menjadi gambaran sempurna karena sirkuit belum sepenuhnya rampung ketika pengujian dilakukan.
Simulator, rekaman onboard dari tes Formula 3, serta data yang telah dikumpulkan tim menjadi referensi yang lebih representatif. Menurut Sainz, pemahaman sebenarnya mengenai karakter sirkuit baru akan diperoleh ketika mobil Formula 1 turun langsung dalam sesi latihan bebas.
Ia melihat Madrid sebagai trek yang memiliki karakter kuat, variasi tikungan, serta nuansa yang berbeda dibandingkan sirkuit-sirkuit yang biasa digunakan Formula 1.
Karena itu, Sainz tidak ingin hanya mengejar hasil akhir pada akhir pekan ini. Ia juga ingin menjadikan pengalaman di Madrid sebagai pijakan menuju masa depan yang lebih kompetitif bersama Williams.
Sainz masih percaya pada proyek Williams
Performa Williams saat ini memang belum sesuai dengan ekspektasi awal musim. Namun, Sainz menegaskan bahwa keputusan memperpanjang kontrak dengan tim menunjukkan dirinya masih percaya terhadap kemampuan Williams untuk bangkit.
Menurutnya, penurunan performa yang dialami tim memang lebih besar dari perkiraan. Meski demikian, situasi tersebut juga membuka kesempatan untuk mengevaluasi kembali sejumlah asumsi fundamental mengenai mobil dan standar performa tim.
“Saya percaya penurunan ini hanyalah batu sandungan sementara, dan tim ini punya kapabilitas untuk membalikkan keadaan,” kata Sainz.
Williams juga menyiapkan pembaruan sasis untuk seri berikutnya di Baku. Sainz berharap peningkatan tersebut dapat membantu tim kembali mendekati perebutan poin.
Namun, ia tidak menganggap pembaruan itu sebagai solusi akhir. Fokus terbesar Williams justru diarahkan kepada pengembangan mobil untuk musim berikutnya.
“Fokus dan harapan terbesar kami adalah mencurahkan segalanya untuk proyek mobil tahun depan,” ujarnya.
Sainz berharap tanda-tanda kebangkitan mulai terlihat sejak tahun depan sehingga kemunduran yang dialami Williams tidak berlangsung terlalu lama.
100 tiket untuk keluarga Sainz
Jika performa Williams menjadi tantangan di lintasan, dukungan dari orang-orang terdekat menjadi sumber energi bagi Sainz di luar mobil.
Untuk balapan kandangnya, Sainz menyiapkan 100 tiket di tribun Team Fifty5 bagi keluarga. Jumlah tersebut ternyata langsung habis hanya dalam dua hari.
Teman-teman dan keluarganya juga mendapatkan akses paddock melalui bantuan berbagai pihak. Jumlah orang yang hadir bahkan membuat tim logistik Sainz harus bekerja ekstra untuk mengatur distribusi tiket dan akses.
Bagi Sainz, antusiasme tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman pertamanya menjalani Grand Prix di Madrid.
Ia juga berjanji memberikan kemampuan terbaik kepada para penggemar Spanyol.
“Saya berjanji akan memberikan kemampuan terbaik. Apa pun hasilnya, saya akan memacu mobil sekuat tenaga demi menghibur mereka,” tegasnya.
Sainz berharap penonton tidak hanya menikmati balapan, tetapi juga seluruh rangkaian acara di sekitar sirkuit dan penjuru Madrid.
Ia pun berencana meluangkan waktu lebih banyak untuk keluarga, teman, dan para penggemar yang datang mendukungnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi