RADAR BANYUWANGI - Fernando Alonso belum memberikan kepastian mengenai masa depannya setelah musim 2026. Di tengah persiapan menghadapi debut Formula 1 di Madrid, pembalap Aston Martin itu justru membuka kemungkinan menjalani program World Endurance Championship (WEC) pada 2027 jika tidak lagi berada di balik kemudi mobil F1.
Alonso mengaku belum terburu-buru mengambil keputusan. Ketika ditanya kapan publik dapat mengetahui rencananya untuk musim 2027, pembalap Spanyol tersebut memberikan jawaban singkat.
“Tidak dalam waktu dekat,” ujar Alonso, Kamis (10/9).
Jawaban itu sekaligus menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai masa depannya masih terbuka. Aston Martin sendiri disebut tidak berada dalam situasi mendesak untuk segera menentukan komposisi pembalapnya.
Alonso mengatakan sejumlah pembalap yang sebelumnya dikaitkan dengan Aston Martin memang sempat bertemu Lawrence Stroll pada musim panas. Namun, menurut dia, hal tersebut tidak berarti tim sedang memberikan tekanan agar keputusan segera dibuat.
“Tidak, tidak ada urgensi apa pun,” kata Alonso.
Bagi Alonso, pertimbangan terbesar bukan hanya soal apakah ia masih ingin membalap di Formula 1. Ia ingin melihat terlebih dahulu bagaimana regulasi baru memengaruhi karakter mobil dan pengalaman pembalap.
Mobil Formula 1 generasi saat ini, menurut Alonso, belum memberikan pengalaman berkendara yang sepenuhnya menyenangkan. Ia berharap perubahan regulasi pada tahun berikutnya membawa karakter mobil ke arah yang lebih menarik.
Karena itu, Alonso masih mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Jika tidak lagi menjadi pembalap utama di Formula 1, peran lain bersama Aston Martin juga terbuka, termasuk kemungkinan tampil di ajang ketahanan.
Ketika ditanya apakah program WEC bersama Aston Martin dapat menjadi pilihan pada 2027, Alonso menjawab singkat, “Ya.”
Tantangan Baru di Sirkuit Madrid
Sebelum memikirkan terlalu jauh mengenai 2027, Alonso kini lebih dulu menghadapi tantangan baru di Madrid.
Formula 1 kembali hadir di ibu kota Spanyol setelah penantian puluhan tahun. Bagi Alonso, kesempatan tersebut terasa lebih istimewa karena ia akan menjalani balapan di negara asalnya untuk kedua kalinya pada musim ini.
“Ini akan menjadi akhir pekan yang sangat menyenangkan. Kami memiliki kehormatan untuk membalap dua kali di Spanyol tahun ini dan, ya, untuk pertama kalinya di Madrid,” ujar Alonso.
Kehadiran sirkuit baru membuat seluruh pembalap menghadapi persoalan yang relatif sama: memahami karakter lintasan secepat mungkin.
Alonso sudah menjajal layout sirkuit melalui simulator. Namun, ia menegaskan bahwa pengalaman virtual tidak akan sepenuhnya menggambarkan apa yang akan dirasakan ketika mobil Formula 1 benar-benar turun ke lintasan.
Salah satu persoalan yang paling menarik perhatiannya adalah tingkat grip aspal. Kondisi permukaan akan menentukan seberapa cepat pembalap dapat meningkatkan kecepatan dari satu sesi ke sesi berikutnya.
Menurut Alonso, sirkuit jalan raya biasanya mengalami evolusi lintasan yang cukup besar. Grip dapat meningkat secara signifikan sejak latihan bebas pertama hingga kualifikasi dan balapan.
Artinya, pembalap tidak cukup hanya menghafalkan racing line. Mereka harus terus menyesuaikan gaya mengemudi dan setelan mobil ketika lintasan semakin cepat.
“Di setiap sirkuit jalan raya Anda harus melahap putaran sebanyak mungkin demi membangun rasa percaya diri di dekat dinding pembatas dan mengekstrak catatan waktu,” kata Alonso.
Kerb, Dinding Pembatas, dan Risiko Kesalahan
Karakter sirkuit Madrid juga membuat Alonso menaruh perhatian pada penggunaan kerb dan sejumlah sektor berkecepatan tinggi.
Beberapa bagian lintasan mengharuskan pembalap melaju sangat dekat dengan dinding pembatas. Kondisi tersebut membuat sirkuit terasa lebih menantang karena sedikit kesalahan dapat langsung berujung pada konsekuensi besar.
Alonso bahkan membandingkan beberapa karakter sektor Madrid dengan Jeddah. Namun ia tetap menunggu pengalaman langsung di sesi latihan bebas pertama untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat.
“Simulator adalah satu hal, dan realitas di lintasan selalu memberikan sensasi yang berbeda,” tuturnya.
Menurut Alonso, aspek grip akan menjadi salah satu faktor paling menentukan. Jika permukaan lintasan masih kotor atau berdebu pada awal akhir pekan, pembalap akan lebih sulit mengeksplorasi batas mobil.
Sebaliknya, ketika lintasan sudah memiliki grip yang baik, risiko dapat diperhitungkan dengan lebih akurat. Kehadiran Formula 3 dan Formula 2 sepanjang akhir pekan juga diharapkan membantu meningkatkan kondisi permukaan.
Aston Martin Belum Memasang Target Tinggi
Untuk balapan di Madrid, Alonso tidak memasang target hasil tertentu. Aston Martin dinilai masih memiliki performa yang sangat bergantung pada karakter masing-masing sirkuit.
Setelah menunjukkan performa yang cukup baik di Budapest dan Zandvoort, Aston Martin menghadapi kesulitan berbeda ketika tampil di Monza. Madrid kemudian menghadirkan kombinasi karakteristik yang berada di antara dua kondisi tersebut.
Di satu sisi terdapat sejumlah tikungan yang memungkinkan sasis mobil bekerja secara optimal. Di sisi lain, lintasan lurus yang panjang membuat performa mesin tetap menjadi faktor penting.
Alonso memperkirakan posisi Aston Martin berada di sekitar P12 hingga P17. Namun, ia menegaskan bahwa perkiraan tersebut baru dapat diuji setelah mobil benar-benar menjalani sesi latihan.
“Yang terpenting bagi saya adalah membuka potensi performa mobil,” ujarnya.
Menurut Alonso, paket pengembangan setelah Budapest memberikan dasar yang lebih baik untuk mengoptimalkan setelan mobil. Perbaikan drivability mesin yang terlihat di Monza juga dinilai membawa perkembangan dibandingkan balapan sebelumnya.
Karakter balapan Madrid juga membuka kemungkinan munculnya kejutan. Safety Car, kerusakan mobil, atau kesalahan strategi dapat mengubah urutan secara drastis.
Karena itu, Alonso menilai keandalan mobil dan kemampuan tim membaca situasi balapan akan menjadi faktor penting pada hari Minggu.
Alonso dan Perubahan Besar Formula 1 di Spanyol
Balapan Madrid memiliki arti yang lebih luas bagi Alonso karena ia merupakan salah satu tokoh yang ikut mengubah popularitas Formula 1 di Spanyol.
Ketika Alonso menjalani debut pada 2001, Formula 1 belum menjadi tontonan besar di negaranya. Bahkan keluarganya harus mengikuti balapan melalui saluran televisi Jerman, RTL, karena siaran Formula 1 belum tersedia di Spanyol.
Situasi berubah setelah Alonso mulai memenangkan balapan dan kemudian merebut dua gelar juara dunia.
Fenomena Alonsomania ikut membuat Formula 1 semakin populer di Spanyol. Dampaknya tidak hanya terlihat dari jumlah penonton, tetapi juga dari semakin banyaknya warga Spanyol yang terlibat dalam berbagai pekerjaan di lingkungan Formula 1.
Alonso mengaku bangga terhadap perubahan tersebut.
“Saya merasa sangat terhormat,” katanya.
Menurutnya, warisan terbesar dari kariernya bukan hanya kemenangan dan gelar. Ia justru melihat perubahan ekosistem motorsport Spanyol sebagai pencapaian yang lebih berkelanjutan.
Dari gokart, balap single-seater, kategori formula, reli hingga pekerjaan teknis di Formula 1, keterlibatan masyarakat Spanyol terus berkembang.
Bagi Alonso, hal itu merupakan bagian dari warisan yang mungkin lebih penting dibandingkan catatan kemenangan.
Barcelona 2006 Tetap Menjadi Kenangan Terbaik
Alonso telah tampil dalam 22 Grand Prix Spanyol, dengan dua kemenangan dan tujuh podium. Ia juga pernah menang di Valencia ketika GP Eropa digelar di sirkuit tersebut.
Namun ketika diminta memilih kenangan favorit dari seluruh penampilannya di Spanyol, Alonso menunjuk Barcelona 2006.
“Pilihan saya jatuh pada Barcelona 2006,” ujarnya.
Kenangan tersebut berkaitan erat dengan fenomena La Marea Azul atau “Gelombang Biru”. Dukungan penggemar sudah terasa sejak perjalanan menuju sirkuit, parade pembalap, hingga formation lap.
Menurut Alonso, pengalaman tersebut memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan balapan di negara lain.
Atmosfer serupa kembali ia rasakan dalam beberapa kesempatan bersama Aston Martin. Bahkan dukungan penggemar pada ajang di Barcelona tahun ini disebutnya tetap sangat istimewa, terlepas dari hasil yang diraih tim.
Mimpi Menang di Madrid Masih Harus Menunggu
Alonso menjadi satu-satunya pembalap Spanyol yang pernah memenangi Grand Prix Spanyol. Ia juga pernah menang di dua lokasi berbeda di Spanyol, yakni Barcelona dan Valencia.
Kehadiran Formula 1 di Madrid membuka kemungkinan terciptanya kemenangan ketiga di lokasi berbeda. Namun Alonso realistis melihat kondisi Aston Martin saat ini.
Ia mengakui kemenangan di Madrid akan menjadi pencapaian istimewa, tetapi peluang tersebut belum menjadi target realistis untuk musim ini.
“Bagi pembalap mana pun, menang di Madrid akan sangat berarti. Terlebih lagi bagi saya, pastinya,” kata Alonso.
Madrid sendiri merupakan salah satu kota yang menurut Alonso sangat layak menjadi tuan rumah Formula 1. Karena itu, ia berharap suatu saat Aston Martin memiliki paket mobil yang cukup kompetitif untuk memberinya peluang mengejar kemenangan tersebut.
Regulasi 2027 Bisa Menentukan Langkah Berikutnya
Perubahan regulasi menjadi salah satu alasan Alonso belum mengambil keputusan mengenai masa depannya.
Ia menilai mobil Formula 1 modern masih terlalu menuntut pembalap untuk memikirkan manajemen energi, termasuk mengisi baterai di sejumlah bagian lintasan yang seharusnya menjadi tempat pembalap menikmati performa mobil.
Kondisi tersebut, menurut Alonso, mengurangi peran input pembalap.
Regulasi baru diharapkan dapat memperbaiki persoalan itu. Namun Alonso belum menganggap aturan yang akan berlaku sebagai paket final.
“Menurut saya regulasi baru adalah langkah ke arah yang tepat, meski belum tentu cukup,” ujarnya.
Ia berharap masih terdapat penyesuaian sebelum regulasi tersebut benar-benar diterapkan.
Bagi Aston Martin, keputusan Alonso pada akhirnya tidak hanya bergantung pada kontrak atau pilihan pembalap lain. Karakter mobil Formula 1 generasi berikutnya juga akan menjadi bagian dari pertimbangan.
Simulator Tidak Bisa Menggantikan Adrenalin di Trek Nyata
Meski simulator modern semakin canggih, Alonso mengatakan teknologi tersebut belum mampu menghilangkan sensasi ketika seorang pembalap pertama kali memasuki sirkuit baru dengan mobil sungguhan.
Simulator membantunya menghafal layout dan mengoptimalkan racing line. Dalam beberapa puluh putaran, pembalap dapat mempelajari titik pengereman serta karakter setiap tikungan.
Namun konsekuensinya berbeda di dunia nyata.
Di simulator, sebuah kecelakaan dapat diakhiri dengan tombol reset. Di sirkuit sungguhan, kesalahan dapat mengakhiri sesi atau bahkan akhir pekan seorang pembalap.
“Rasa bahaya dan adrenalin di dalam mobil sungguhan tidak mungkin bisa ditiru,” kata Alonso.
Editor : Lugas Rumpakaadi