Tanpa Megawati, Timnas Voli Putri Indonesia Uji Generasi Baru di Asian Games

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 14:30 WIB
Megawati Hangestri Pertiwi dan Yeum Hye-seon dalam laga persahabatan melawan tim voli putri Indonesia di Indonesia Arena Jakarta. (Kemenpora.go.id)
Megawati Hangestri Pertiwi dan Yeum Hye-seon dalam laga persahabatan melawan tim voli putri Indonesia di Indonesia Arena Jakarta. (Kemenpora.go.id)

RADAR BANYUWANGI – Timnas Voli Putri Indonesia harus menatap Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tanpa Megawati Hangestri Pertiwi. PP PBVSI telah memanggil 12 pemain untuk memperkuat skuad Garuda Pertiwi di ajang multievent Asia tersebut, dengan mayoritas pemain muda asal Jawa Timur dan target menembus lima atau enam besar.

Keputusan Megawati untuk tidak bergabung menjadi salah satu tantangan terbesar Indonesia. Absennya opposite andalan itu membuat sektor serangan harus menemukan tumpuan baru, sekaligus membuka ruang bagi pemain muda untuk membuktikan kemampuan di level internasional.

Di bawah arahan pelatih kepala Marco Sugiyama, komposisi skuad disusun dari lima posisi, yakni setter, opposite, middle blocker, outside hitter, dan libero. Formasi tersebut menjadi fondasi Indonesia untuk menghadapi persaingan Pool A yang dihuni tuan rumah Jepang dan Nepal.

Megawati Absen, Regenerasi Dimulai

Megawati selama ini menjadi salah satu sumber kekuatan utama Timnas Voli Putri Indonesia di posisi opposite. Karena itu, absennya pemain tersebut jelas meninggalkan pekerjaan rumah tersendiri bagi Marco Sugiyama.

Namun, keputusan Megawati untuk absen bukan semata-mata persoalan tim. Sang pemain memilih fokus memulihkan kondisi fisik sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi bersama klub Korea Selatan, Hyundai Hillstate.

PP PBVSI menghormati keputusan tersebut. Di sisi lain, absennya Megawati justru menjadi momentum untuk menyiapkan generasi penerus di posisi opposite.

"Kita tidak bisa mengingkari Mega masih yang terbaik di posisinya, namun kita hormati itu, sambil kita menyiapkan regenerasi pemain pelapis Mega di masa yang akan datang," ujar Wakil Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PP PBVSI, Loudry Maspaitella, dikutip Senin (7/9/2026).

Kalimat tersebut menjadi gambaran arah persiapan Indonesia. Megawati tetap diakui sebagai salah satu pemain terbaik di posisinya, tetapi Timnas Voli Putri Indonesia tidak boleh selamanya bergantung kepada satu pemain.

Dua Pemain Muda Mengisi Posisi Opposite

Tugas mengisi posisi yang ditinggalkan Megawati dipercayakan kepada Khanza Putri Yanzi dan Azzahra Dwi Febyane.

Keduanya akan mendapat kesempatan besar untuk menunjukkan kapasitas sebagai bagian dari lini serang Indonesia. Tantangannya tidak ringan karena Asian Games mempertemukan tim-tim terbaik dari kawasan Asia.

Khanza dan Azzahra akan menjadi bagian dari mesin serangan bersama para outside hitter, termasuk Mediol Yoku dan Ersandrina Devega.

Sementara itu, sektor middle blocker dipercayakan kepada Chelsa Berlian dan Maradanti Namira. Kehadiran dua pemain tersebut diharapkan mampu memberi variasi serangan sekaligus kekuatan di depan net.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia datang ke Asian Games 2026 bukan hanya dengan misi mengejar hasil, tetapi juga membangun fondasi tim untuk masa depan.

Ujian Pertama di Pool A

Timnas Voli Putri Indonesia tergabung di Pool A bersama Jepang sebagai tuan rumah dan Nepal.

Jepang tentu menjadi tantangan terbesar di grup tersebut. Selain memiliki tradisi kuat dalam bola voli putri Asia, status sebagai tuan rumah membuat pertandingan melawan Jepang berpotensi menjadi ujian berat bagi skuad Garuda Pertiwi.

Meski begitu, Indonesia sudah membawa bekal dari rangkaian pertandingan internasional dan laga uji coba sebelum Asian Games.

Maradanti Namira atau Rara memastikan persiapan tim sudah berada dalam kondisi siap.

"Kalau untuk persiapannya sih sebenarnya sudah siap ya, karena sebelum menuju Asian Games ini kita sudah mengikuti pertandingan internasional dan beberapa sparing-sparing dengan tim lain," ujar Rara.

Rangkaian pertandingan tersebut menjadi penting bagi skuad muda Indonesia. Selain mengasah teknik dan strategi, laga internasional juga memberi pengalaman menghadapi tekanan pertandingan dengan level persaingan yang lebih tinggi.

Target Lima Besar, Regenerasi Jadi Misi Ganda

PBVSI tidak memasang target sekadar lolos dari fase grup. Timnas Voli Putri Indonesia dibebani misi untuk menembus posisi lima atau enam besar Asian Games 2026.

Target tersebut sekaligus menjadi tolok ukur bagi skuad yang tengah menjalani proses regenerasi.

Tanpa Megawati, perhatian akan tertuju kepada pemain-pemain muda yang mendapat kesempatan lebih besar. Mereka bukan hanya dituntut menggantikan peran secara teknis, tetapi juga harus mampu menjaga daya saing Indonesia ketika menghadapi lawan-lawan tangguh di Asia.

Asian Games Aichi-Nagoya 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar panggung perebutan medali bagi Timnas Voli Putri Indonesia.

Di tengah absennya Megawati, turnamen ini bisa menjadi titik penting untuk menjawab satu pertanyaan: siapa yang akan muncul sebagai kekuatan baru bola voli putri Indonesia setelah era pemain-pemain senior?

Jika regenerasi berjalan sesuai rencana, absennya Megawati justru dapat menjadi awal lahirnya generasi baru Garuda Pertiwi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Asian Games 2026 Marco Sugiyama Timnas Voli Putri voli putri indonesia Megawati Hangestri