RADAR BANYUWANGI - Pierre Gasly akhirnya mendapatkan momen yang selama sembilan tahun dikejarnya di Formula 1. Pembalap BWT Alpine F1 Team itu merebut pole position pertama dalam kariernya pada kualifikasi Grand Prix Italia 2026 di Autodromo Nazionale Monza, Sabtu (5/9).
Gasly mencatat waktu 1 menit 21,786 detik pada Q3. Ia unggul tipis 0,060 detik atas George Russell dari Mercedes, sementara Oscar Piastri dari McLaren menempati posisi ketiga dengan waktu 1 menit 21,966 detik.
Bagi Gasly, hasil tersebut memiliki arti lebih. Monza merupakan sirkuit tempat ia meraih kemenangan Formula 1 pertamanya. Kini, pembalap Prancis itu kembali membuat catatan penting di tempat yang sama dengan mengamankan pole pertamanya setelah sembilan tahun berkarier di Formula 1.
“Ini sudah sembilan tahun saya mencoba mengejar dan mendapatkan kesempatan untuk meraih pole position,” kata Gasly setelah kualifikasi.
Kejutan Alpine mulai terlihat sejak awal sesi. Gasly menjadi yang tercepat pada Q1, kemudian berada di posisi keempat pada Q2 sebelum kembali tampil kuat di Q3. Ia mengaku performa tersebut bahkan melampaui perkiraan tim sebelum akhir pekan balapan dimulai.
Bukan Semata Keberuntungan Gasly
Keberhasilan Gasly tidak datang secara kebetulan. Alpine menemukan keseimbangan mobil yang membuatnya cukup percaya diri untuk menyerang tikungan sekaligus mempertahankan kecepatan tinggi di lintasan lurus Monza.
Gasly mengatakan perubahan yang dilakukan setelah sesi latihan ketiga membuatnya semakin nyaman dengan mobil. Ia juga menilai keseimbangan mobil Alpine pada kualifikasi sebagai salah satu yang terbaik yang dirasakannya sepanjang musim ini.
Analisis sektor menunjukkan bahwa Gasly mampu menyatukan performa terbaiknya dalam satu putaran Q3. Waktu ideal teoritisnya sama persis dengan catatan aktual, yakni 1 menit 21,786 detik. Artinya, tidak ada waktu yang hilang ketika performa terbaik dari sektor-sektornya digabungkan.
Faktor lain datang dari paket pengembangan Alpine. Dokumen analisis FIA mencatat bahwa peningkatan dari paket yang sebelumnya diperkenalkan di Zandvoort ikut memberikan tambahan performa dan membuat Gasly lebih percaya diri ketika memasuki tikungan.
Kecepatan mobil Alpine juga terlihat pada bagian lintasan yang cepat. Gasly mencatat 334,6 kilometer per jam di speed trap dan menjadi yang tercepat di Intermediate 2 dengan 332,9 kilometer per jam. Rekan setimnya, Franco Colapinto, juga menunjukkan kekuatan Alpine dengan menempati posisi kedelapan.
Russell Sebenarnya Punya Kecepatan untuk Pole
George Russell harus menerima posisi kedua meski Mercedes menunjukkan performa sangat kuat sepanjang akhir pekan.
Russell hanya tertinggal 0,060 detik dari Gasly. Bahkan, berdasarkan kombinasi sektor terbaik, Russell mempunyai waktu ideal teoritis 1 menit 21,633 detik, yang secara matematis lebih cepat daripada catatan pole Gasly. Namun, ia tidak mampu menyatukan seluruh sektor terbaik tersebut dalam satu putaran.
Russell juga menghadapi situasi kurang ideal pada percobaan terakhir Q3. Max Verstappen berada di belakang rangkaian mobil dan situasi tersebut mengganggu rencana Russell untuk mendapatkan lap yang sempurna.
Meski demikian, pembalap Mercedes itu tetap melihat posisi kedua sebagai modal bagus untuk balapan. Mobil W17 miliknya bahkan mencatat kecepatan tertinggi di speed trap, mencapai 338,1 kilometer per jam.
“Pierre dan Alpine sudah sangat cepat bahkan sejak Q1,” ujar Russell, yang sekaligus memberikan apresiasi kepada Gasly atas performanya.
Piastri Tetap di Tiga Besar Setelah Salah Mengerem
Oscar Piastri akan memulai balapan dari posisi ketiga. Pembalap McLaren tersebut sebenarnya mengawali Q3 dengan catatan yang cukup menjanjikan, tetapi kesempatan memperbaiki waktu pada percobaan terakhir berakhir ketika ia terlalu agresif mengerem di chicane pertama.
Piastri mengalami lock-up pada roda depan dan gagal menyelesaikan lap sesuai rencana.
“Saya sedikit salah memperhitungkan pengereman dan mengalami lock-up,” kata Piastri.
Meski kehilangan kesempatan tersebut, Piastri tetap mencatat hasil yang kompetitif. Ia hanya terpaut 0,015 detik dari waktu ideal teoritisnya, menunjukkan bahwa lap yang dijalankannya sudah sangat dekat dengan potensi maksimal mobil McLaren.
Ferrari Solid, Verstappen Masih di Belakang
Dua mobil Ferrari berada tepat di belakang Piastri. Charles Leclerc menempati posisi keempat dengan waktu 1 menit 22,004 detik, disusul Lewis Hamilton hanya 0,007 detik kemudian di posisi kelima.
Leclerc menjadi pembalap tercepat di Sektor 3 dengan waktu 27,081 detik. Namun, Ferrari masih kehilangan kecepatan di lintasan lurus dibandingkan dengan Mercedes, sehingga keunggulan tersebut belum cukup untuk membawa salah satu pembalapnya ke barisan depan.
Max Verstappen harus puas memulai balapan dari posisi keenam. Red Bull memilih konfigurasi mobil dengan hambatan udara lebih tinggi untuk membantu performa di tikungan, tetapi konsekuensinya adalah kehilangan kecepatan di lintasan lurus.
Tantangan Terbesar Gasly Justru Datang Saat Balapan
Pole position memberikan Gasly posisi terbaik di grid, tetapi bukan jaminan bahwa ia akan memimpin hingga garis finis.
Temperatur menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan. Saat kualifikasi, suhu udara berada di kisaran 33,5 hingga 34,6 derajat Celsius, sedangkan permukaan lintasan mencapai 51,3 sampai 55,5 derajat Celsius. Kondisi tersebut meningkatkan risiko panas berlebih pada permukaan ban lunak.
Situasi itu membuat pengelolaan ban berpotensi menjadi faktor penting dalam balapan. Gasly memang memiliki keunggulan posisi start, tetapi Russell akan berada tepat di belakangnya dengan mobil yang memiliki kecepatan lurus sangat tinggi.
Ferrari juga masih memiliki kekuatan di sektor terakhir. Karena itu, balapan akan menjadi ujian berbeda bagi Alpine dibandingkan dengan satu lap kualifikasi.
Gasly sendiri memilih tidak terlalu jauh memikirkan apa yang akan terjadi. Ketika ditanya apakah kecepatan balap jarak panjang Alpine cukup untuk memperebutkan kemenangan.
“Itu masalah untuk besok,” jawabnya singkat.
Jawaban tersebut mencerminkan situasi yang dihadapi Alpine. Pole sudah diamankan, tetapi tantangan mempertahankannya baru dimulai ketika balapan berlangsung.
Untuk Gasly, targetnya sederhana, yakni memanfaatkan posisi terdepan selama mungkin.
“Rencana saya adalah bertahan di posisi pertama selama saya bisa,” ujarnya.
Setelah sembilan tahun menunggu kesempatan untuk mendapatkan pole position, Gasly kini memiliki kesempatan berikutnya untuk membuat sejarah di Monza. Ia akan memulai balapan dari tempat terbaik, tetapi Russell, Piastri, Ferrari, dan Verstappen siap memanfaatkan setiap celah.
Monza telah memberikan Gasly satu momen besar dalam kariernya. Pada Minggu (6/9), sirkuit yang sama akan menentukan apakah kejutan Alpine hanya menjadi cerita indah di sesi kualifikasi atau berkembang menjadi kemenangan kedua Gasly di tempat yang sangat istimewa baginya.
Editor : Lugas Rumpakaadi