RADAR BANYUWANGI – Megawati Hangestri Pertiwi memasuki tantangan baru di Liga Voli Korea Selatan. Setelah dua musim menjadi tumpuan Daejeon JungKwanJang Red Sparks, opposite asal Indonesia itu kini harus membangun kembali chemistry di Suwon Hyundai E&C Hillstate. KOVO Cup 2026 menjadi panggung pertama untuk membuktikan seberapa cepat Megawati mampu menyatu dengan sistem permainan barunya.
Perpindahan Megawati ke Hillstate bukan sekadar pergantian seragam.
Ia datang dengan pengalaman dua musim di V-League, tetapi tetap harus beradaptasi dengan karakter tim, pola serangan, komunikasi dengan setter, hingga koordinasi blok yang berbeda.
“Setiap klub punya sistem dan karakter berbeda. Saya harus menyesuaikan diri lagi,” ungkap Megawati dalam sesi latihan.
Pernyataan tersebut menggambarkan pekerjaan rumah utama Megawati menjelang musim baru: membangun koneksi dengan pemain yang baru menjadi rekan setimnya.
Bukan Lagi Pemain Baru di Korea
Megawati memang bukan wajah baru di V-League.
Dua musim bersama Red Sparks membuatnya memahami atmosfer kompetisi voli Korea Selatan. Pengalaman tersebut menjadi modal penting ketika bergabung dengan Hillstate.
Namun, pengalaman tidak otomatis membuat proses adaptasi berjalan tanpa hambatan.
Setter baru, pola bola yang berbeda, karakter hitter yang berbeda, serta sistem pertahanan yang memiliki tuntutan tersendiri membuat Megawati harus kembali membangun hubungan di dalam lapangan.
Sebagai opposite hitter, ia diproyeksikan menjadi salah satu ujung tombak serangan Hillstate.
Artinya, komunikasi dengan setter menjadi sangat penting.
Timing harus tepat. Variasi serangan harus terbaca. Begitu pula koordinasi ketika masuk dalam sistem blok dan pertahanan.
Jordan Wilson Justru Terbantu Megawati
Menariknya, proses adaptasi Megawati tidak hanya berdampak kepada dirinya sendiri.
Jordan Wilson, outside hitter asal Amerika Serikat yang juga baru bergabung dengan Hillstate, justru mengaku terbantu oleh kehadiran Megawati.
Keduanya bahkan menggunakan penerjemah yang sama sehingga komunikasi di antara mereka menjadi lebih intens.
“Megawati banyak memberi masukan. Itu membantu saya mengenal tim lebih cepat,” kata Wilson.
Kondisi tersebut bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi Hillstate.
Dua pemain asing yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru memiliki ruang komunikasi yang lebih mudah. Pengalaman Megawati di V-League juga membuatnya dapat menjadi salah satu jembatan bagi Wilson untuk memahami karakter kompetisi dan tim barunya.
Dengan kata lain, Megawati bukan hanya dituntut menjadi mesin poin.
Ia juga berpotensi menjadi salah satu pemain yang membantu mempercepat proses adaptasi Wilson.
Kim Da-in dan Pemain Korea Jadi Kunci
Setelah urusan komunikasi antarpemain asing, tantangan yang lebih besar adalah membangun chemistry dengan pemain Korea.
Nama Kim Da-in menjadi salah satu sosok penting.
Sebagai setter, Kim Da-in memiliki peran vital dalam mengatur distribusi bola dan menentukan ritme serangan Hillstate.
Hubungan antara Kim Da-in dan Megawati akan menjadi salah satu kunci permainan Hillstate.
Selain itu, Megawati harus membangun koordinasi dengan pemain-pemain seperti Jeong Ji-yoon, Bae Yoo-na, hingga Kim Hee-jin.
Setiap pemain memiliki fungsi berbeda dalam sistem permainan.
Karena itu, chemistry tidak cukup dibangun melalui komunikasi di luar lapangan. Hubungan tersebut harus terbentuk dalam latihan, membaca gerakan rekan setim, hingga memahami keputusan dalam situasi reli.
Jeju Jadi Laboratorium Hillstate
Hillstate memanfaatkan pemusatan latihan di Pulau Jeju untuk membangun fondasi tersebut.
Bagi pelatih Kang Sung-hyung, fase latihan menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan antarpemain sekaligus mematangkan strategi.
Jeju bukan sekadar tempat mempersiapkan fisik.
Di sana, Hillstate juga memiliki ruang untuk membentuk karakter permainan baru dengan komposisi pemain yang mengalami perubahan.
Kehadiran Megawati dan Wilson membuat Hillstate memiliki dua pemain asing dengan karakter berbeda.
Keduanya harus bisa masuk ke dalam sistem yang sudah dibangun klub, sementara pemain Korea juga perlu memahami pola permainan dua pemain tersebut.
Proses itulah yang nantinya menentukan apakah Hillstate mampu tampil sebagai tim yang solid atau justru masih membutuhkan waktu untuk menemukan bentuk terbaiknya.
Megawati Tak Hanya Dituntut Menyerang
Sorotan terhadap Megawati kemungkinan besar akan tetap berada pada sektor serangan.
Wajar.
Sebagai opposite hitter, ia diproyeksikan menjadi salah satu senjata utama Hillstate untuk menghasilkan poin.
Namun, tugas Megawati tidak berhenti di sana.
Ia juga dituntut terlibat dalam blok dan sistem pertahanan.
Artinya, efektivitas Megawati tidak hanya diukur dari jumlah poin yang dihasilkan.
Kemampuannya mengikuti sistem permainan, melakukan transisi dari bertahan ke menyerang, serta menjaga konsistensi dalam reli juga akan menjadi bagian penting dari evaluasi.
Kehadiran Wilson memberikan Hillstate alternatif serangan dari sisi lain. Jika keduanya mampu menemukan ritme bersama, Hillstate memiliki peluang untuk mengembangkan pola serangan yang tidak bergantung kepada satu pemain.
Tetapi sekali lagi, semuanya bermuara pada satu kata: chemistry.
KOVO Cup Jadi Tes Pertama
KOVO Cup 2026 menjadi ujian pertama Megawati bersama Hillstate.
Turnamen tersebut dijadwalkan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Yeosu Jinnam Gymnasium.
Hillstate berada di Grup B bersama Korea Expressway Corporation Hi-Pass dan GS Caltex Seoul KIXX.
Laga perdana menghadapi Hi-Pass pada 14 Oktober menjadi kesempatan pertama untuk melihat hasil adaptasi Megawati dalam pertandingan kompetitif.
Dua hari kemudian, Hillstate dijadwalkan menghadapi GS Caltex Seoul KIXX.
Jadwal tersebut memberikan tantangan tersendiri. Megawati dan rekan-rekannya harus mampu menjaga konsistensi permainan dalam waktu yang berdekatan.
Bagi pelatih, dua laga tersebut bukan sekadar mengejar hasil.
Turnamen pramusim menjadi ruang untuk menguji komposisi, rotasi, komunikasi, dan efektivitas sistem sebelum memasuki kompetisi V-League.
Babak Baru Megawati
Dua musim di Red Sparks telah memberikan Megawati pengalaman berharga di Korea Selatan.
Kini, cerita baru dimulai bersama Hillstate.
Ekspektasi terhadapnya tetap besar karena pengalaman dan reputasinya membuat Megawati diproyeksikan sebagai salah satu pusat serangan tim.
Namun, tantangan kali ini berbeda.
Ia tidak lagi sekadar berusaha membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing di V-League. Megawati harus membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi bagian integral dari sistem baru Hillstate.
KOVO Cup 2026 akan menjadi tes pertamanya.
Kesimpulannya, keberhasilan Megawati di Hillstate tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak poin yang mampu dicetak, tetapi seberapa cepat chemistry dengan Kim Da-in, Jordan Wilson, dan pemain Hillstate lainnya terbentuk. Jika koneksi itu terbangun sejak KOVO Cup, Hillstate memiliki fondasi penting untuk menghadapi musim V-League 2026/2027. (*)
Editor : Ali Sodiqin