RADAR BANYUWANGI – Megawati Hangestri Pertiwi kembali mengirim sinyal keras dari Korea Selatan. Opposite hitter Indonesia itu mencetak 38 poin sekaligus meraih MVP saat Hyundai E&C Hillstate menaklukkan klub Jepang, Saga Hisamitsu Springs, dengan skor 3-1 dalam laga persahabatan Korea Expedition. Penampilan tersebut bahkan membuat pelatih Saga, Kumi Nakada, menilai Megawati memiliki kualitas yang semestinya membawanya bermain di kompetisi Eropa.
Hillstate menang melalui pertandingan yang berlangsung ketat sejak awal. Skor akhir tercatat 25-21, 22-25, 25-19, 25-18.
Megawati menjadi pusat perhatian bukan hanya karena jumlah poinnya. Ia tampil sebagai tumpuan serangan Hillstate sejak awal dan terus memberi tekanan kepada pertahanan Saga melalui variasi pukulan yang sulit dibaca.
Kemenangan atas klub Jepang tersebut sekaligus menjadi sinyal menarik menjelang bergulirnya V-League 2026/2027. Sebab, Megawati kembali menunjukkan produktivitas tinggi dalam rangkaian pramusim bersama klub barunya.
38 Poin, MVP, dan Pertahanan Jepang Dibuat Kewalahan
Saga Hisamitsu Springs datang bukan tanpa persiapan.
Tim Jepang tersebut disebut telah mempelajari rekaman permainan Megawati sebelum pertandingan. Namun, rencana itu tidak sepenuhnya mampu meredam serangan pemain Indonesia tersebut.
Tiga aspek menjadi pembeda permainan Megawati: vertical jump, timing lompatan, dan sudut pukulan.
Kombinasi ketiganya membuat Megawati memiliki banyak pilihan ketika menyelesaikan serangan. Ia tidak sekadar mengandalkan tenaga, tetapi juga memanfaatkan titik pukulan dan arah serangan untuk mencari celah di pertahanan lawan.
Hasilnya terlihat di papan skor.
38 poin menjadi kontribusi Megawati dalam kemenangan 3-1 Hillstate. Performa tersebut mengantarkannya meraih penghargaan Most Valuable Player (MVP) pertandingan.
Angka itu sekaligus memperpanjang catatan impresif Megawati dalam rangkaian laga pramusim Hillstate.
Sebelumnya, ia mencetak 26 poin dan meraih MVP ketika Hillstate menghadapi Pilsung Wonder Dogs.
Kini angkanya meningkat menjadi 38 poin saat menghadapi Saga.
26 poin → 38 poin.
Bagi Hillstate, tren tersebut menjadi kabar positif. Bagi lawan, justru menjadi peringatan bahwa Megawati semakin menemukan ritmenya.
Sempat Kehilangan Set Kedua
Hillstate tidak langsung menyelesaikan pertandingan dengan mudah.
Pada set pertama, Megawati dan kolega mengamankan kemenangan 25-21.
Saga kemudian memberikan respons pada set kedua. Tim Jepang tersebut berhasil mencuri set dengan skor 22-25, membuat kedudukan menjadi 1-1.
Namun, Hillstate kembali mengambil kendali.
Set ketiga menjadi titik balik. Hillstate menang 25-19, sebelum menutup pertandingan melalui kemenangan 25-18 pada set keempat.
Dengan demikian, Hillstate mengamankan kemenangan 3-1.
Di tengah pertandingan tersebut, ada satu momen yang cukup mencuri perhatian. Salah satu spike Megawati dilaporkan mengenai bagian wajah pemain belakang Saga sehingga pertandingan sempat dihentikan untuk memberikan penanganan.
Megawati kemudian menyeberangi net untuk meminta maaf sekaligus memastikan kondisi pemain tersebut.
Sebuah adegan kecil yang memperlihatkan sisi lain Megawati di balik kerasnya serangan di lapangan.
Pelatih Jepang Sampai Bicara Eropa
Yang membuat kemenangan ini semakin menarik adalah komentar dari kubu lawan.
Kumi Nakada, pelatih Saga Hisamitsu Springs yang pernah menangani tim nasional putri Jepang, memberikan penilaian tinggi terhadap kemampuan Megawati setelah melihatnya secara langsung.
Nakada bahkan mempertanyakan mengapa pemain dengan kualitas seperti Megawati masih berkompetisi di Liga Korea.
Menurut penilaiannya, Megawati memiliki atribut permainan yang membuatnya layak tampil di kompetisi Eropa. Nama kompetisi seperti Liga Italia dan Liga Turki turut disebut sebagai level yang sesuai dengan kualitas sang opposite hitter.
Pernyataan itu tentu menarik perhatian.
Namun, satu hal perlu ditegaskan: komentar Nakada merupakan penilaian pribadi terhadap kualitas Megawati, bukan informasi bahwa Megawati akan pindah ke Eropa atau telah mendapatkan tawaran klub Eropa.
Artinya, belum ada dasar untuk menyebut Megawati akan meninggalkan Hillstate.
Yang ada saat ini adalah pengakuan dari pelatih lawan bahwa kualitas permainan Megawati dinilai cukup untuk bersaing di level Eropa.
Megawati Merasa Fisiknya Makin Baik
Penampilan eksplosif tersebut juga tidak lepas dari kondisi fisik Megawati.
Megawati menyebut kondisi tubuhnya semakin baik selama menjalani persiapan bersama Hillstate.
Ia merasakan rotasi tubuh ketika melakukan pukulan semakin nyaman. Dorongan kaki ketika melakukan lompatan juga terasa lebih ringan dan bertenaga.
Hal itu penting bagi seorang opposite hitter.
Sebab, kualitas serangan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan lengan. Momentum lompatan, posisi tubuh ketika berada di udara, koordinasi kaki, serta titik kontak dengan bola ikut menentukan seberapa efektif serangan yang dilepaskan.
Dengan kondisi fisik yang semakin matang, Megawati memiliki modal untuk mempertahankan intensitas serangan sepanjang pertandingan.
Dari 101,4 Km/Jam ke 38 Poin
Performa melawan Saga juga menarik jika ditempatkan dalam rangkaian perkembangan Megawati di Hillstate.
Sebelumnya, spike Megawati disebut mencapai 101,4 km/jam dalam sesi latihan Hillstate. Angka tersebut setara sekitar 28,2 meter per detik.
Namun, angka 101,4 km/jam tersebut sebaiknya tidak disebut sebagai rekor resmi V-League karena belum ditemukan konfirmasi primer dari KOVO atau Hyundai Hillstate.
Lebih tepat menyebutnya sebagai angka yang dilaporkan tercatat dalam pemantauan latihan.
Kini, bukan lagi radar latihan yang menjadi sorotan.
Papan skor pertandingan yang berbicara.
38 poin dan MVP.
Itulah bukti yang lebih konkret bahwa Megawati mulai menemukan bentuk permainan terbaiknya bersama Hillstate.
Dua Pemain Asing, Satu Ancaman Besar
Menariknya, Hillstate tidak hanya memiliki Megawati.
Klub tersebut juga memiliki Jordan Wilson, outside hitter yang ditempatkan di sisi serangan berlawanan.
Pola ini membuat Hillstate memiliki dua opsi utama di sayap:
Jordan Wilson di zona 4 — Kim Da-in sebagai setter — Megawati di zona 2.
Bagi lawan, situasi tersebut menciptakan dilema.
Jika blok terlalu fokus kepada Megawati, Wilson dapat menjadi sasaran serangan. Sebaliknya, ketika perhatian pertahanan bergeser ke Wilson, Megawati memiliki ruang untuk kembali menghukum dari sisi kanan.
Kim Da-in menjadi pemain penting dalam skema tersebut karena harus membaca posisi blok dan menentukan ke mana bola diarahkan.
Bahkan, Megawati juga diproyeksikan dapat menyerang dari barisan belakang melalui pipe attack ketika jalur serangan depan mulai tertutup.
Dengan begitu, Hillstate perlahan membangun sistem yang tidak bergantung kepada satu sumber poin.
Sinyal untuk V-League 2026/2027
Kemenangan atas Saga belum bisa dijadikan ukuran mutlak kekuatan Hillstate untuk musim kompetisi.
Ini masih pramusim.
Namun, rangkaian performa Megawati memberikan alasan bagi Hillstate untuk optimistis.
26 poin dan MVP melawan Wonder Dogs.
Kemudian 38 poin dan MVP melawan Saga Hisamitsu Springs.
Ditambah catatan spike yang dilaporkan menembus 101,4 km/jam dalam latihan.
Rangkaian itu menunjukkan satu hal: Megawati semakin menyatu dengan sistem permainan Hillstate.
Dan ketika pelatih dari Jepang seperti Kumi Nakada sampai menilai Megawati layak bermain di Eropa, perhatian terhadap pemain Indonesia tersebut tentu semakin besar.
Untuk saat ini, Megawati belum pergi ke Eropa.
Ia masih berada di Korea Selatan.
Tetapi performanya di pramusim membuat satu pertanyaan mulai muncul: seberapa jauh Megawati bisa membawa Hillstate ketika pertandingan resmi V-League 2026/2027 benar-benar dimulai? (*)
Editor : Ali Sodiqin