RADAR BANYUWANGI - Mercedes-AMG Petronas memutuskan bahwa Kimi Antonelli akan menerima penalti berupa turun posisi start pada Grand Prix Italia di Monza.
Keputusan tersebut diambil sebagai bagian dari rencana penggantian komponen unit tenaga yang digunakan pembalap muda asal Italia itu pada musim Formula 1 2026.
Prinsipal tim Mercedes, Toto Wolff, mengungkapkan keputusan tersebut di Zandvoort.
Menurutnya, Monza dipandang sebagai tempat paling strategis untuk menjalani penalti dibandingkan dengan menundanya ke seri berikutnya.
Pilihan itu memang tidak ideal karena Monza merupakan balapan kandang Antonelli.
Namun, Mercedes menilai karakter sirkuit Italia tersebut lebih memungkinkan pembalapnya memulihkan posisi setelah start dari grid yang lebih belakang.
“Bersama Kimi, kami mengambil langkah penuh. Perhitungan kami menunjukkan bahwa itulah jalur terbaik untuk melakukannya,” kata Wolff.
Ia menegaskan keputusan tersebut dibuat berdasarkan perhitungan teknis dan strategi perebutan gelar, bukan pertimbangan popularitas.
Mercedes menghadapi persoalan tersendiri terkait keandalan unit tenaga sepanjang musim.
Tim telah mengalami sejumlah masalah teknis yang membuat pemakaian komponen power unit menjadi perhatian penting.
Salah satu akibatnya adalah keputusan pensiun dini Antonelli pada balapan di Barcelona.
Dalam regulasi Formula 1, setiap pembalap memiliki batas penggunaan sejumlah elemen unit tenaga dalam satu musim.
Ketika kuota tersebut terlampaui, penggunaan komponen tambahan memicu penalti grid pada seri pertama ketika komponen baru itu dipakai.
Monza dinilai sebagai tempat yang relatif menguntungkan untuk menanggung penalti tersebut.
Sirkuit yang dikenal sebagai Temple of Speed memiliki lintasan lurus panjang, karakter yang dapat menguntungkan mobil dengan performa mesin yang kuat.
Selain itu, beberapa titik pengereman keras membuka peluang menyalip sehingga pembalap yang start dari belakang masih memiliki kesempatan memperbaiki posisinya.
Sejarah Grand Prix Italia juga memperkuat pertimbangan Mercedes.
Monza beberapa kali menghasilkan hasil yang tidak sepenuhnya mencerminkan posisi start.
Pierre Gasly, misalnya, meraih kemenangan pada 2020 setelah mengawali balapan dari posisi ke-10.
Setahun kemudian, Daniel Ricciardo menang bersama McLaren meski mobil timnya saat itu bukan yang tercepat di lintasan.
Pada musim 2022, Max Verstappen mampu menang meskipun harus menjalani penalti turun lima posisi.
Sementara itu, Lewis Hamilton berhasil menembus lima besar setelah memulai balapan dari bagian belakang grid.
Musim lalu, Isack Hadjar juga menunjukkan bahwa penalti di Monza bukan berarti peluang meraih poin tertutup.
Ia memulai balapan dari pit lane dan finis di posisi ke-10 setelah menggunakan sejumlah komponen power unit baru.
Mercedes juga belum memastikan apakah rekan setim Antonelli, George Russell, akan mengalami situasi serupa.
Wolff menyebut pembahasan mengenai kemungkinan penggantian komponen pada mobil Russell masih berlangsung.
Di sisi klasemen, Antonelli datang ke Monza dengan modal penting.
Finis kedua di Zandvoort membuat keunggulannya di puncak klasemen semakin lebar.
Setelah 12 seri, ia unggul 59 poin atas Russell dan Hamilton.
Karena itu, penalti di Monza menjadi perjudian strategis bagi Mercedes.
Tim harus menerima kerugian posisi start demi mengurangi risiko masalah teknis pada seri-seri berikutnya.
Bagi Antonelli, tantangannya menjadi lebih besar karena ia harus mengejar ketertinggalan di hadapan pendukungnya sendiri.
Namun, karakter Monza dapat membuka peluang terjadinya pemulihan posisi.
Bila performa Mercedes sesuai harapan dan Antonelli mampu memanfaatkan peluang menyalip, hukuman tersebut justru bisa berubah menjadi salah satu tontonan menarik di Grand Prix Italia.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : F1