RADAR BANYUWANGI - Megan Bruce menutup akhir pekan Round 4 di Zandvoort dengan hasil yang lebih meyakinkan setelah sempat mengalami kesulitan menemukan kecepatan sejak awal.
Pembalap TAG Heuer tersebut finis keenam dalam Feature Race, sebuah hasil yang sekaligus menjadi titik balik setelah penampilannya kurang optimal pada Reverse Grid Race.
Bruce menghadapi akhir pekan yang tidak mudah.
Pembalap berusia 22 tahun itu sebelumnya absen dalam dua hari pengujian musim di Zandvoort karena cedera.
Kondisi tersebut membuatnya memulai putaran balapan dengan referensi yang lebih terbatas dibandingkan dengan para rivalnya.
Situasi itu semakin terasa ketika Bruce hanya memperoleh sedikit kesempatan melakukan push lap pada sesi latihan.
Tantangan berikutnya datang saat kualifikasi berlangsung dalam kondisi lintasan yang berubah dari basah menjadi kering.
Meski demikian, ia mampu mencatat waktu yang cukup untuk menempati posisi kedelapan.
Posisinya kemudian naik ke urutan ketujuh setelah pembalap Wild Card Zoe Florescu didiskualifikasi.
Bruce selanjutnya mendapat keuntungan dari format Reverse Grid Race dengan memulai balapan dari baris terdepan.
Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama.
Bruce kesulitan menjaga posisi di tengah persaingan ketat dan akhirnya turun ke urutan ketujuh ketika bendera finis dikibarkan.
Berbeda dengan balapan pertama, ia menunjukkan performa yang jauh lebih solid pada Feature Race.
Pada awal Feature Race, Bruce langsung mengambil peluang dengan menyalip Rachel Robertson dari sisi luar Tikungan 1.
Manuver tersebut membuatnya naik satu posisi.
Setelah itu, ia tidak lagi mampu melakukan overtaking tambahan, tetapi berhasil mempertahankan posisi keenam hingga finis meski mendapat tekanan dari rangkaian pembalap di belakangnya.
Performa tersebut dinilai Bruce sebagai hasil yang lebih representatif dibandingkan dengan Reverse Grid Race.
Menurutnya, keterbatasan waktu pengujian membuat proses menemukan kecepatan di Zandvoort menjadi lebih sulit, terutama karena kondisi kering baru benar-benar ia rasakan dalam situasi balapan.
“Feature Race jelas lebih baik daripada Reverse Grid Race. Pada Reverse Grid Race, saya sedikit kesulitan menemukan kecepatan dengan cepat. Saya belum melakukan long run di sini dibandingkan dengan pembalap lain saat pengujian,” ujar Bruce dalam pernyataannya.
Ia menambahkan, memulai pengalaman berkendara di lintasan kering ketika balapan berlangsung membuat proses adaptasi menjadi semakin menantang.
Meski akhirnya mampu menemukan kecepatan, menurut Bruce, performa tersebut idealnya sudah hadir sejak awal dan dapat dipertahankan secara konsisten.
Pada Feature Race, situasi berubah.
Bruce merasa mobilnya sudah memiliki kecepatan sejak awal sehingga ia bisa lebih fokus mempertahankan ritme.
Selain memanfaatkan peluang di Tikungan 1, ia juga menggunakan pengalaman yang diperoleh sepanjang akhir pekan untuk menjaga posisi dari serangan rival.
“Feature Race lebih baik. Kami sudah cepat sejak awal, dan dengan pengetahuan yang baru kami dapatkan sepanjang akhir pekan, itu yang bisa kami lakukan. Kami naik satu posisi di Tikungan 1, lalu mempertahankannya,” katanya.
Bruce juga mengakui bahwa keterbatasan jam terbang membuat detail-detail kecil menjadi sangat penting.
Ia menaruh perhatian pada titik pengereman, apex tikungan, penggunaan throttle, hingga kualitas exit corner agar rival di belakang tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang.
Pengalaman dari Reverse Grid Race, kata dia, justru menjadi pembelajaran penting karena balapan tersebut menjadi kesempatan long run pertamanya di Zandvoort.
Dengan referensi yang minim, konsistensi menjadi kunci agar posisi yang sudah diamankan tidak kembali hilang.
Hasil di Zandvoort datang setelah Bruce sebelumnya mencatat dua podium di Montreal.
Setelah tampil kuat di Kanada, ia belum berhasil mengulang hasil serupa di Silverstone dan Zandvoort.
Dalam dua putaran tersebut, ia membukukan hasil P9, P9, P7, dan P6.
Meski demikian, Bruce masih berada dalam persaingan Rookie of the Year melawan Payton Westcott.
Ia kini berharap putaran berikutnya di Austin dapat memberikan peluang yang lebih besar, terutama karena karakter lintasan tersebut relatif baru bagi sebagian pembalap dan hanya menyediakan satu sesi Free Practice.
Bruce menilai pengalaman beradaptasi di trek baru bisa menjadi salah satu kekuatannya.
Ia mengingat performanya di Montreal, ketika kondisi lintasan yang baru bagi sebagian besar peserta membantunya tampil cepat.
“Saya pikir di Austin pasti akan lebih baik. Kami cepat di Montreal ketika trek itu masih baru bagi setengah pembalap di grid. Jadi, semoga kami bisa kembali beradaptasi dengan cepat di Austin,” ujarnya.
Menurut Bruce, Austin memiliki karakter lintasan yang berkelok tetapi tetap cepat dan mengalir.
Karakter tersebut dinilainya sedikit menyerupai Silverstone, tempat TAG Heuer sebelumnya menunjukkan kecepatan yang menjanjikan dalam pengujian.
Dengan finis keenam di Zandvoort dan pemahaman yang semakin baik terhadap mobilnya, Bruce bertekad untuk terus mempersempit jarak dengan pembalap di depan.
Targetnya yakni kembali mengetuk pintu podium.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : F1 Academy