Performa Oscar Piastri Masih Jadi Pekerjaan Rumah McLaren Usai F1 GP Belanda

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 17:57 WIB
Oscar Piastri saat menjalani Grand Prix Belanda di Sirkuit Zandvoort. Ia finis keenam setelah sempat bersaing di posisi tiga besar. (F1)
Oscar Piastri saat menjalani Grand Prix Belanda di Sirkuit Zandvoort. Ia finis keenam setelah sempat bersaing di posisi tiga besar. (F1)

RADAR BANYUWANGI - Performa Oscar Piastri bersama McLaren kembali menjadi sorotan setelah Grand Prix Belanda di Zandvoort.

Pembalap asal Australia itu harus puas finis di posisi keenam, sementara rekan setimnya, Lando Norris, keluar sebagai pemenang.

Hasil tersebut memperpanjang periode tanpa kemenangan Piastri bersama McLaren.

Ia terakhir kali meraih kemenangan balapan sekitar satu tahun lalu.

Pada musim ini, koleksi Piastri juga masih tertinggal dari Norris, yang telah mengantongi dua kemenangan Grand Prix dan satu kemenangan Sprint.

Piastri sebenarnya sempat menunjukkan kemampuan bersaing di papan atas sepanjang balapan di Zandvoort.

Salah satu momen penting terjadi ketika ia melakukan manuver oportunistis untuk melewati George Russell.

Strategi tersebut sempat membawa Piastri ke posisi ketiga dengan menggunakan ban keras.

Namun, momentum itu tidak bertahan hingga akhir balapan.

Setelah melakukan pit stop dan kembali menggunakan ban keras, kecepatan Piastri justru menurun.

Ia kemudian kehilangan posisi dan finis jauh di belakang dua mobil Ferrari.

Kepala tim McLaren, Andrea Stella, menilai persoalan yang dialami Piastri lebih berkaitan dengan aspek teknis daripada tekanan psikologis.

Menurutnya, Piastri masih perlu menyesuaikan gaya mengemudi ketika mobil berada dalam kondisi minim grip.

“Dari sudut pandang teknis dalam mengemudi, ketika mobil memiliki tingkat grip yang rendah, dia perlu menyesuaikan cara mengemudi, cara berpikir, dan ekspektasinya,” ujar Stella.

Stella menjelaskan bahwa perubahan tersebut membutuhkan proses berpikir tambahan bagi Piastri.

Kondisi itu dinilai dapat mengurangi kecepatan pembalap karena ia harus lebih banyak memproses karakter mobil, alih-alih mengandalkan insting mengemudi secara penuh.

“Ini membutuhkan sedikit usaha mental, yang membuatnya kehilangan beberapa persepuluh detik. Anda harus memproses situasi tersebut, bukan sekadar mengemudi berdasarkan naluri,” kata Stella.

Menurut Stella, masalah tersebut bukan sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan mental Piastri untuk menghadapi tekanan.

Ia menegaskan bahwa persoalannya lebih tepat ditempatkan pada hubungan antara gaya mengemudi pembalap dan karakter mobil.

Perubahan regulasi dan generasi mobil Formula 1 pada 2026 juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan.

Para pembalap dituntut untuk kembali memahami cara memanfaatkan sistem deployment serta mengelola karakter ban pada mobil generasi baru.

Situasi Piastri menjadi lebih rumit karena dua kali gagal memulai balapan (DNS) pada awal musim.

Kehilangan kesempatan mengikuti dua Grand Prix tersebut berarti ia juga kehilangan data balapan yang berharga untuk memahami perilaku mobil dan ban generasi terbaru.

Meski demikian, Stella menegaskan bahwa hasil di Zandvoort tidak sepenuhnya merupakan kesalahan Piastri.

McLaren sendiri ikut bertanggung jawab atas hilangnya posisi Russell setelah pit stop.

“Ketika kami masuk pit untuk menutupi strategi Russell, kami justru kehilangan posisi karena pit stop yang lambat. Ini merupakan tanggung jawab tim, bukan Oscar,” ujar Stella.

Masalah lainnya muncul pada stint kedua menggunakan ban keras.

McLaren tidak berhasil membuat ban tersebut bekerja dalam kondisi optimal.

Ban tetap berada dalam kondisi dengan tingkat grip yang sangat rendah, berbeda dengan stint pertama.

Stella menyebut kombinasi faktor tersebut sebagai pekerjaan rumah bagi McLaren.

Persaingan ketat di papan atas juga membuat kesalahan kecil memiliki dampak besar terhadap posisi akhir.

Saat ini, sedikitnya tiga tim berada dalam rentang performa yang sangat berdekatan.

Dalam situasi seperti itu, kehilangan beberapa persepuluh detik saja dapat mengubah posisi secara drastis.

“Ketika semuanya tidak optimal, Anda bisa langsung berada di posisi keenam. Dari sudut pandang ini, persaingannya sangat brutal,” tutur Stella.

Meski belum kembali ke performa terbaiknya, Stella tetap melihat adanya perkembangan positif dari Piastri selama akhir pekan di Belanda.

McLaren juga optimistis bahwa pembalapnya masih dapat meningkatkan performa pada balapan-balapan berikutnya.

Bagi Piastri, tantangan berikutnya bukan hanya mengejar hasil, tetapi juga menemukan cara paling efektif untuk menyesuaikan gaya mengemudi dengan karakter mobil McLaren generasi 2026.

Dengan persaingan yang sangat ketat, konsistensi dalam memaksimalkan ban dan strategi menjadi faktor penting untuk kembali merebut posisi podium.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : F1
GP Belanda 2026 Oscar Piastri formula 1 mclaren f1 Andrea Stella