Yuki Tsunoda Bangkit di Zandvoort, Satu Balapan untuk Menghidupkan Lagi Peluangnya di F1 2026

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:49 WIB
Yuki Tsunoda tampil kompetitif bersama Racing Bulls di Grand Prix Belanda dan finis di posisi ke-11. (F1)
Yuki Tsunoda tampil kompetitif bersama Racing Bulls di Grand Prix Belanda dan finis di posisi ke-11. (F1)

RADAR BANYUWANGI - Yuki Tsunoda mungkin gagal membawa pulang poin dari Grand Prix Belanda di Sirkuit Zandvoort.

Pembalap asal Jepang itu hanya finis di posisi ke-11 saat memperkuat Racing Bulls sebagai pengganti sementara Liam Lawson.

Namun, hasil tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan arti penting akhir pekannya.

Setelah periode sulit bersama Red Bull pada 2025, peluang Tsunoda untuk kembali mendapatkan kursi utama Formula 1 sempat terlihat semakin kecil.

Karena itu, kesempatan tampil satu kali bersama Racing Bulls menjadi lebih dari sekadar tugas pengganti. Zandvoort berubah menjadi panggung untuk mengingatkan kembali paddock bahwa Tsunoda masih memiliki pengalaman dan kemampuan yang layak diperhitungkan.

Tsunoda datang tanpa pengalaman balapan sejak Grand Prix Abu Dhabi pada Desember tahun lalu.

Meski demikian, ia tidak sepenuhnya kehilangan sentuhan dengan mobil Formula 1.

Program pengujian menggunakan mobil generasi sebelumnya serta aktivitas simulator bersama Red Bull membuatnya tetap terhubung dengan karakter mobil dan unit tenaga Ford untuk regulasi 2026.

Persiapan Tsunoda bersama Racing Bulls berlangsung sangat singkat.

Ia baru mendapat kesempatan mencoba mobil VCARB 03 melalui simulator pada Rabu sebelum pekan balapan.

Waktu yang terbatas itu membuat penampilannya di Zandvoort menjadi ujian tersendiri, terutama karena ia harus memahami karakter mobil, prosedur tim, hingga pengelolaan energi dalam waktu singkat.

Pada sesi Sprint Qualifying, Tsunoda mencatat posisi ke-13 di SQ1 dan ke-12 di SQ2.

Salah satu ukuran penting adalah selisih kecepatannya dengan rekan setim Arvid Lindblad yang berada di kisaran 0,360 detik.

Angka itu cukup kompetitif mengingat Tsunoda baru pertama kali mengemudikan mobil tersebut di sirkuit, meski Lindblad juga masih tergolong baru di lintasan Zandvoort.

Pada Sprint, Tsunoda finis ke-13 setelah kehilangan satu posisi dari Franco Colapinto.

Hasil itu memang belum istimewa secara angka, tetapi memberikan kesempatan berharga untuk memahami perilaku mobil dalam kondisi balapan.

Kemajuan Tsunoda kemudian lebih terlihat dalam sesi kualifikasi utama.

Ia berhasil melaju ke posisi kedelapan pada Q1 sebelum kembali berada di urutan ke-12 pada Q2.

Selisihnya dengan Lindblad juga menyusut drastis menjadi hanya 0,102 detik.

“Sejujurnya, saya sangat senang. Saya benar-benar menikmati kualifikasi ini. Saya mulai lebih percaya kepada mobil dan bisa membawa mobil lebih agresif saat memasuki tikungan,” kata Tsunoda.

Menurutnya, pengalaman di Sprint menjadi bagian penting dari proses adaptasi.

Ia harus mempelajari berbagai prosedur yang berbeda, termasuk penggunaan tombol, pengaturan deployment energi, dan karakteristik degradasi ban.

“Setiap sesi saya semakin dekat. Saya berharap punya satu sesi tambahan, tetapi masih ada satu sesi lagi, yaitu balapan. Saya sangat bersemangat,” ujarnya.

Balapan utama kemudian mempertemukan Tsunoda dengan Pierre Gasly, mantan rekan setimnya, dalam persaingan memperebutkan posisi di sekitar zona poin.

Racing Bulls juga harus berupaya menjaga jarak dari Alpine dalam persaingan tim papan tengah.

Situasi berubah setelah Arvid Lindblad dan Colapinto masing-masing terkena penalti drive-through karena melaju melewati pembatasan saat insiden awal balapan.

Keduanya juga harus melakukan pit stop yang tidak direncanakan, sehingga peluang Racing Bulls untuk mengamankan poin semakin menipis.

Dalam kondisi tersebut, Tsunoda menjadi harapan utama tim.

Ia bahkan sempat mendapat bantuan strategi dari Lindblad yang berusaha menahan laju Alpine.

Namun, Gasly akhirnya memiliki kecepatan yang cukup untuk melewati Tsunoda dan finis di posisi ke-10 sekaligus merebut poin terakhir.

Bagi Tsunoda, kegagalan meraih poin bukan berarti akhir dari ceritanya.

Justru penampilan yang mampu membawanya bertarung di dekat kelompok delapan besar hingga sembilan besar menjadi modal penting untuk memperbaiki citranya di mata tim-tim Formula 1.

“Saya tahu apa yang bisa saya lakukan, dan saya merasa sudah menunjukkan kepada sebagian besar paddock apa yang bisa saya lakukan hanya dengan satu balapan dan beberapa sesi,” kata Tsunoda.

Ia juga mengakui bahwa kesempatan tersebut jauh lebih berharga daripada harus menghabiskan musim tanpa tampil di mobil balap.

“Jelas lebih baik mendapat kesempatan seperti ini daripada tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk menunjukkan kepada paddock apa yang bisa saya lakukan dengan regulasi baru,” ujarnya.

Persaingan untuk mendapatkan kursi Formula 1 tetap sangat ketat.

Red Bull memiliki banyak talenta yang menunggu kesempatan, termasuk pemimpin klasemen Formula 2 Nikola Tsolov.

Di luar kubu Red Bull pun jumlah kursi yang tersedia tidak banyak.

Namun, situasi Tsunoda setelah Zandvoort kini berbeda.

Ia tidak lagi hanya dipandang sebagai pembalap berpengalaman yang berada di pinggir lintasan.

Ia telah menunjukkan, dalam waktu yang sangat singkat, bahwa kecepatan dan kemampuan adaptasinya masih relevan.

“Jadi sekarang tergantung pada manajer saya dan tim-tim lain yang belum menentukan susunan pembalap mereka untuk musim depan apakah mereka menginginkan saya atau tidak. Tetapi mereka seharusnya memilih saya,” kata Tsunoda.

Performa di Zandvoort belum menjamin Tsunoda memperoleh kursi baru.

Namun, satu pekan yang solid itu setidaknya telah mengubah posisi tawarnya.

Setelah sempat keluar dari radar utama, nama Tsunoda kembali terdengar di paddock Formula 1.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : F1
Grand Prix Belanda formula 1 Racing Bulls zandvoort Yuki Tsunoda