RADAR BANYUWANGI — Coco Gauff dan Arthur Fils meninggalkan Cincinnati dengan modal paling berharga menjelang US Open 2026: gelar juara, kepercayaan diri, dan momentum. Gauff merebut gelar Cincinnati Open untuk kali kedua setelah mengalahkan sesama petenis Amerika Serikat, Jessica Pegula, 6-2, 6-4. Sementara itu, Fils menorehkan sejarah dengan merebut gelar ATP Masters 1000 pertamanya setelah menundukkan Frances Tiafoe 6-3, 1-6, 6-0.
Dua final tersebut membuat Cincinnati Open 2026 bukan sekadar turnamen pemanasan menuju Grand Slam terakhir musim ini. Hasilnya ikut mengubah peta persaingan dan berpotensi memengaruhi penempatan unggulan di US Open yang dimulai pekan berikutnya.
Gauff Menemukan Kembali Sentuhannya
Gauff datang ke Cincinnati dengan satu kebutuhan besar: menemukan kembali rasa percaya diri di panggung WTA.
Petenis Amerika Serikat itu menjawabnya dengan cara paling meyakinkan.
Gauff mengalahkan Pegula dalam dua set langsung, 6-2, 6-4, pada final Minggu. Gelar tersebut menjadi trofi Cincinnati keduanya sekaligus gelar WTA pertamanya pada 2026.
Menariknya, final ini punya nilai sejarah tersendiri. Untuk kali pertama dalam 56 tahun, partai puncak nomor putri Cincinnati mempertemukan dua petenis Amerika.
Pegula sendiri sebelumnya membuat kejutan besar dengan menyingkirkan juara bertahan Iga Swiatek di semifinal. Kemenangan itu menjadi kemenangan ke-300 Pegula di level tur sekaligus menghentikan rentetan 10 kemenangan Swiatek.
Namun, momentum tersebut belum cukup untuk menghentikan Gauff di final.
Gauff tampil agresif sejak awal. Ia mengambil kendali pertandingan dan tidak memberi Pegula kesempatan untuk mengembangkan permainan secara konsisten.
Trofi Cincinnati menjadi sinyal penting bagi Gauff. Namun, sang juara memilih tidak berlebihan menafsirkan hasil tersebut sebagai jaminan sukses di New York.
“Saya tidak berpikir ini menjadi indikator bahwa saya akan tampil bagus di New York,” kata Gauff setelah pertandingan.
Sikap tersebut menunjukkan satu hal: Gauff menikmati kemenangan, tetapi sadar bahwa tantangan sebenarnya baru dimulai.
Fils, dari Penantian Menjadi Sejarah
Jika Gauff mengukuhkan kembali statusnya sebagai salah satu kekuatan utama tenis putri, Fils datang dengan cerita berbeda.
Petenis Prancis tersebut akhirnya mendapatkan trofi Masters 1000 pertamanya setelah melewati final dramatis melawan Tiafoe.
Fils menang 6-3, 1-6, 6-0. Setelah kehilangan set kedua, ia mampu mengembalikan fokus dan menghancurkan permainan Tiafoe pada set penentuan.
Kemenangan itu mengangkat Fils ke peringkat live sekitar posisi ke-11 dunia, atau menjadi peringkat tertinggi sepanjang kariernya.
Lebih dari sekadar angka, kemenangan tersebut menandai terobosan besar dalam karier Fils. Ia menjadi petenis Prancis termuda yang memenangkan gelar Masters 1000.
“Wow, rasanya luar biasa,” ujar Fils seusai memastikan kemenangan.
Di balik gelar tersebut terdapat perjalanan yang tidak ringan. Fils mengakui melewati banyak latihan, pengorbanan, dan cedera sebelum akhirnya mampu mengangkat trofi terbesar dalam kariernya.
“Bisa memenangkan gelar seperti ini sangat berarti bagi saya,” katanya.
Kemenangan Fils juga punya catatan historis. Final putra Cincinnati menjadi partai final pertama dalam sejarah ATP Masters 1000 yang mempertemukan dua petenis berkulit hitam, Fils dan Tiafoe.
Cincinnati Mengubah Peta US Open
Ada alasan mengapa kemenangan Gauff dan Fils menjadi perhatian lebih besar dibanding sekadar hasil sebuah turnamen.
US Open sudah di depan mata.
Cincinnati menjadi salah satu panggung terakhir bagi para pemain papan atas untuk menguji kondisi fisik, permainan, sekaligus mental sebelum menghadapi Grand Slam dengan format best-of-five bagi nomor putra dan best-of-three bagi nomor putri.
Bagi Fils, tantangannya justru semakin besar.
Sejumlah pengamat menilai kemenangan di Cincinnati membuatnya masuk radar kandidat serius di US Open. Permainan bertenaga Fils mampu menyulitkan banyak pemain top.
Namun, ada satu tanda tanya besar: fisiknya.
Fils memiliki riwayat cedera pada usia yang masih relatif muda. Karena itu, pertanyaan terbesarnya bukan lagi apakah ia memiliki kualitas untuk mengalahkan pemain elite, melainkan apakah tubuhnya mampu bertahan melewati tujuh pertandingan best-of-five jika melaju jauh di New York.
Ia juga belum pernah mencapai perempat final Grand Slam.
Cincinnati memberi Fils modal kepercayaan diri. US Open akan menjadi ujian apakah momentum itu bisa dikonversi menjadi perjalanan panjang di Grand Slam.
Persaingan Putra Terbuka Lebar
Peta persaingan nomor putra juga semakin menarik.
Ketidakpastian kondisi sejumlah pemain papan atas membuat peluang pemain seperti Fils semakin terbuka. Carlos Alcaraz kembali menjadi pusat perhatian setelah lama tidak bertanding, sementara Novak Djokovic juga menghadapi pertanyaan mengenai konsistensinya.
Situasi itu menciptakan ruang bagi nama-nama baru untuk masuk ke dalam percakapan perebutan gelar.
Fils kini punya alasan untuk percaya diri.
Tetapi tenis Grand Slam berbeda dengan Masters 1000. Konsistensi selama dua pekan, kemampuan menjaga kondisi fisik, serta tekanan tujuh pertandingan menjadi tantangan yang sama sekali berbeda.
Gauff Punya Modal, tetapi Tak Mau Terbuai
Di nomor putri, Gauff juga memasuki US Open dengan momentum positif.
Kemenangan atas Pegula menunjukkan bahwa Gauff mampu tampil solid ketika tekanan meningkat. Namun, persaingan tetap terbuka setelah Cincinnati menghadirkan sejumlah kejutan.
Swiatek tersingkir sebelum final. Sejumlah unggulan lain juga gagal melaju jauh.
Ada pula persoalan kebugaran yang bisa memengaruhi peta unggulan. Elena Rybakina, misalnya, masih menghadapi ketidakpastian kondisi setelah sebelumnya mundur karena masalah pada tumit kiri dan menunggu pemeriksaan MRI.
Artinya, Cincinnati tidak hanya melahirkan dua juara.
Turnamen tersebut juga meninggalkan banyak pertanyaan menuju New York.
Dan justru di situlah daya tarik US Open 2026.
Gauff datang sebagai juara yang kembali menemukan momentum. Fils datang sebagai pendatang baru di panggung Masters 1000 yang sedang percaya diri. Keduanya kini membawa cerita berbeda menuju New York—dan Cincinnati telah membuat persaingan US Open terasa jauh lebih terbuka. (*)
Editor : Ali Sodiqin