Alba Larsen Dua Kali Finis P2 di Zandvoort, Kemenangan F1 ACADEMY Kian Dekat

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:25 WIB
Posisi kedua di Zandvoort menjadi podium kedua Alba Larsen dalam satu akhir pekan. (F1 Academy)
Posisi kedua di Zandvoort menjadi podium kedua Alba Larsen dalam satu akhir pekan. (F1 Academy)

RADAR BANYUWANGI - Pembalap Ferrari di F1 ACADEMY, Alba Larsen, menunjukkan perkembangan penting pada seri di Zandvoort.

Meski gagal meraih kemenangan Feature Race, pembalap berusia 17 tahun itu mampu mengamankan posisi kedua untuk kedua kalinya dalam satu akhir pekan.

Hasil tersebut menjadi catatan positif setelah Larsen sebelumnya harus menunggu hingga 22 balapan untuk mendapatkan podium pertamanya.

Performa di Zandvoort juga memperlihatkan peningkatan kepercayaan diri setelah periode awal musim yang belum sesuai harapan.

Pada sesi kualifikasi Jumat (21/8), Larsen nyaris merebut pole position perdananya.

Namun, ia harus memulai Reverse Grid Race dari posisi ketujuh.

Situasi itu tidak menghalanginya untuk tampil agresif.

Larsen berhasil naik lima posisi dan finis kedua, sekaligus mencatat podium F1 ACADEMY pertamanya.

Modal tersebut dibawanya ke Feature Race.

Start dari baris terdepan, Larsen mampu meluncur lebih baik daripada pole sitter Alisha Palmowski dan langsung berada di belakang pembalap terdepan.

Ia kemudian terus memberikan tekanan sepanjang paruh awal balapan.

Zandvoort, dengan sejumlah tikungan berkecepatan tinggi, membuat peluang untuk menyalip menjadi sangat terbatas.

Kondisi ban juga menjadi faktor penting. Setelah tampil konsisten dalam mengejar Palmowski, Larsen mulai kehilangan daya cengkeram pada fase akhir lomba.

Larsen mengakui kemenangan sebenarnya berada dalam jangkauannya, terutama pada awal balapan ketika tekanan terhadap Palmowski berada pada titik tertinggi.

"Saya rasa kemenangannya akan sangat mungkin," ungkapnya, Minggu (23/8).

Ia juga sempat mempertimbangkan manuver dari sisi luar di Tikungan 1, tetapi memilih mengurungkan niat karena risiko terlalu besar.

"Saya melakukan apa pun yang saya bisa. Saya sangat menekannya dari awal, mencoba untuk menyalip dari sisi luar Tikungan Satu. Namun, saya kembali karena itu merupakan manuver berisiko, saya rasa," imbuhnya.

Memasuki lima lap terakhir, kondisi ban menjadi semakin sulit. Larsen menilai karakter sirkuit Zandvoort membuat mobil lebih susah mengikuti lawan, terutama ketika memasuki sektor-sektor dengan tikungan cepat.

"Lima putaran terakhir, saya tidak punya cengkeraman ban, mereka kesulitan untuk menjaga posisi di belakang Alisha," ujarnya.

Walaupun kemenangan belum berhasil diraih, Larsen tetap menilai posisi kedua sebagai pencapaian penting untuk dirinya dan tim.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa kerja kerasnya selama jeda musim panas mulai menghasilkan dampak nyata.

Sebelum tampil di Zandvoort, perjalanan Larsen pada musim ini memang belum stabil.

Ia mencatat posisi ke-18 dan kedelapan di Shanghai, kemudian finis kelima, ke-11, dan keenam di Montreal.

Di Silverstone, ia dua kali menyelesaikan balapan di posisi ke-10.

Setelah jeda musim panas, performanya berubah.

Larsen menyebut persiapan intensif melalui simulator, latihan fisik di pusat kebugaran, serta berbagai pekerjaan persiapan telah membantunya meningkatkan kemampuan menghadapi balapan.

"Jeda musim panas sangat membantuku. Saya banyak menghabiskan waktu di simulator, gym, dan semua upaya itu terbayarkan," ungkapnya.

Zandvoort juga memberi keuntungan tersendiri karena Larsen telah memiliki pengalaman balapan di lintasan tersebut.

Sebelumnya, ia pernah naik podium di British F4.

Pengetahuan terhadap karakter trek membuatnya lebih percaya diri sejak sesi awal.

"Saya sudah pernah balapan di sirkuit ini. Jadi, saya bisa menaklukkannya dengan mudah, karena saya tahu lintasannya, dan itu membantuku," terangnya.

Perhatian Larsen beralih ke putaran kelima F1 ACADEMY di Austin, Amerika Serikat.

Seri tersebut akan menjadi tantangan baru karena para pembalap menghadapi Circuit of the Americas dengan tingkat pengalaman langsung yang jauh lebih terbatas dibanding Zandvoort.

Dalam situasi seperti itu, kemampuan beradaptasi menjadi faktor krusial.

Larsen merasa penampilannya di Belanda memberikan sinyal positif karena ia mampu menjaga kecepatan ketika kondisi lintasan berubah dari basah, mengering, hingga sepenuhnya kering.

"Saya rasa saya sudah menunjukkannya pada akhir pekan ini. Saya adalah yang terkuat dalam beradaptasi di segala kondisi," cetusnya.

Bagi Larsen, simulator akan menjadi bagian penting dari persiapan menuju Austin.

Ia menyadari belum ada kepastian mengenai karakter trek terhadap mobil maupun gaya balap setiap pembalap.

Meski demikian, performa di Zandvoort memberikan alasan bagi Larsen untuk memasuki seri berikutnya dengan keyakinan yang lebih tinggi.

Setelah berhasil memangkas jarak dengan para pembalap terdepan, target berikutnya bukan sekadar podium, tetapi peluang untuk memburu kemenangan perdana.

Perjalanan Larsen menjadi gambaran menarik tentang bagaimana konsistensi, latihan, dan kemampuan beradaptasi dapat mengubah momentum sebuah musim.

Hasil di Zandvoort belum menjadi akhir dari perjuangannya, tetapi menjadi tanda bahwa pembalap muda tersebut mulai menemukan ritme terbaiknya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : F1 Academy
F1 Academy Alba Larsen zandvoort circuit of the americas ferrari