RADAR BANYUWANGI – Status opposite elite Liga Voli Korea belum otomatis membuat Megawati Hangestri Pertiwi berada sendirian di puncak. Memasuki V-League 2026/2027 bersama Hyundai Hillstate, pevoli asal Jember itu justru harus kembali berhadapan dengan sederet mesin poin kelas dunia.
Tiga nama paling mencuri perhatian adalah Gyselle Silva, Moma Bassoko, dan Viktoriia Danchak. Ketiganya punya senjata berbeda untuk mengusik dominasi Megawati ketika kompetisi Liga Voli Korea 2026/2027 bergulir.
Megawati sendiri datang dengan modal yang tidak kecil. Pengalaman dua musim bersama Daejeon JungKwanJang Red Sparks membuatnya sudah akrab dengan ketatnya blok dan pertahanan pemain Korea. Kini, bersama Hyundai Hillstate, Megawati mendapat tantangan baru: membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pencetak angka produktif, tetapi salah satu opposite paling efisien di V-League.
Gyselle Silva Jadi Ancaman Terbesar
Dari deretan pesaing tersebut, Gyselle Silva layak disebut sebagai salah satu ancaman paling serius. Opposite asal Kuba itu tampil luar biasa pada musim 2025/2026 bersama GS Caltex.
Silva bukan hanya produktif. Dia juga menyabet tiga penghargaan penting, yakni MVP, Best Opposite, dan pencetak poin terbanyak.
Catatan musim regulernya mencapai 1.008 poin. Angka tersebut membuat Silva berada di atas Megawati dan menunjukkan betapa besar daya rusaknya ketika berada di depan net.
Namun, statistik poin tidak sepenuhnya menggambarkan kualitas seorang opposite.
Di sinilah Megawati memiliki keunggulan menarik.
Megawati Unggul dalam Efisiensi Serangan
Jika ukuran yang digunakan adalah produktivitas poin, Megawati memang belum menjadi yang teratas.
Pada musim reguler 2024/2025, Megawati mengoleksi 802 poin. Jumlah tersebut menempatkannya di bawah Gyselle Silva yang mengumpulkan 1.008 poin dan Viktoriia Danchak dengan 910 poin.
Moma Bassoko berada di belakangnya dengan 721 poin, sedangkan Vanja Bukilic mencatat 638 poin.
Akan tetapi, ketika indikatornya bergeser menjadi efisiensi serangan, posisi Megawati berubah.
Mega mampu membukukan attack success 48,06 persen.
Catatan itu menjadi bukti bahwa kekuatan Megawati tidak hanya terletak pada kemampuannya menghasilkan banyak angka. Dia juga mampu mengonversi peluang serangan menjadi poin dengan tingkat keberhasilan tinggi.
Dengan kata lain, Silva dan Danchak unggul dalam volume produksi angka, sedangkan Megawati memiliki keunggulan pada efisiensi serangan.
Moma Bassoko Bawa Pengalaman dan Power
Nama berikutnya yang harus diwaspadai adalah Moma Bassoko.
Opposite andalan Hi-Pass tersebut bukan pendatang baru di kompetisi Korea. Pengalaman panjang di V-League menjadi salah satu modal terbesarnya.
Pemain asal Kamerun bernama lengkap Laetitia Moma Bassoko itu pernah mendapatkan penghargaan Best Opposite dan Best Scorer pada musim 2021/2022.
Kekuatan Moma bukan semata-mata angka. Pengalaman, power, dan konsistensinya membuat dia tetap menjadi salah satu opposite yang sulit dihadapi.
Bagi Megawati, persaingan dengan Moma akan menjadi pertarungan menarik antara pengalaman dan efisiensi.
Viktoriia Danchak, Mesin Poin yang Tak Bisa Diremehkan
Ancaman lain datang dari Viktoriia Danchak yang kini memperkuat IBK Altos.
Opposite asal Ukraina itu memiliki rekam jejak produktivitas yang mengesankan. Dalam satu musim, Danchak pernah membukukan 910 poin.
Jumlah tersebut bahkan melampaui catatan Megawati pada periode yang sama.
Danchak memiliki karakter sebagai mesin poin. Kemampuannya menghasilkan angka dalam jumlah besar membuat pertarungan antarpemain opposite V-League semakin sulit diprediksi.
Megawati Punya Satu Modal yang Tidak Bisa Dibeli
Di tengah persaingan tersebut, Megawati memiliki satu keunggulan yang sangat penting: pengalaman menghadapi tekanan V-League.
Selama dua musim bersama Red Sparks, Megawati tidak lagi berstatus pemain asing yang belum dikenal. Sebaliknya, dia menjadi salah satu target utama blokade lawan.
Pertahanan lawan pun semakin sering diarahkan untuk menghentikan serangannya.
Pengalaman menghadapi situasi tersebut bisa menjadi modal besar ketika Megawati memasuki babak baru bersama Hyundai Hillstate.
Kini, dia tidak hanya dituntut mencetak poin. Megawati juga harus mampu membaca blok, mengatur variasi serangan, serta menjaga konsistensi ketika lawan sudah mengetahui pola permainannya.
Di situlah musim 2026/2027 akan menjadi ujian menarik bagi Sang Megatron.
Jika Silva mengandalkan volume, power, dan pengalaman, Moma punya pengalaman serta konsistensi, sementara Danchak dikenal sebagai mesin poin, Megawati membawa kombinasi efisiensi, variasi serangan, dan pengalaman V-League.
Karena itu, menempatkan Megawati dalam jajaran elite opposite V-League 2026/2027 bukanlah klaim berlebihan. Namun, untuk menjadi yang paling dominan, dia masih harus melewati tiga pengadang utama tersebut.
Dan bersama Hyundai Hillstate, Megawati kini memiliki panggung baru untuk menjawab tantangan itu. (*)
Editor : Ali Sodiqin