F1 Academy Buka Jalan, Pembalap Wanita Kian Dekat dengan Grid Formula 1

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 20:48 WIB
F1 Academy menjadi salah satu jalur utama pembinaan talenta pembalap wanita untuk memperkecil jarak menuju jenjang Formula 1. (F1)
F1 Academy menjadi salah satu jalur utama pembinaan talenta pembalap wanita untuk memperkecil jarak menuju jenjang Formula 1. (F1)

RADAR BANYUWANGI - Penantian panjang untuk kembali melihat pembalap wanita tampil sebagai pembalap utama Formula 1 memasuki babak baru. Hampir lima dekade setelah Lella Lombardi mencetak sejarah, jalur menuju grid F1 kini dinilai semakin terbuka melalui penguatan program F1 Academy dan keterlibatan langsung tim-tim Formula 1.

Nama Lombardi masih menjadi tonggak penting dalam sejarah tersebut. Pada Grand Prix Spanyol 1975, pembalap asal Italia itu finis keenam dan menjadi perempuan pertama sekaligus satu-satunya hingga kini yang mencetak poin di Kejuaraan Dunia F1. Lombardi kemudian masih tampil dalam sejumlah balapan F1, termasuk GP Austria 1976.

Sejak era Lombardi, tidak ada lagi pembalap wanita yang menempati kursi balap reguler di F1. Namun, situasi dalam beberapa tahun terakhir mulai berubah. F1 Academy dibangun sebagai bagian dari upaya memperluas sekaligus memperkuat jalur pembinaan pembalap wanita menuju jenjang kompetisi yang lebih tinggi.

Direktur Utama F1 Academy Susie Wolff menjadi salah satu tokoh yang paling konsisten mendorong perubahan tersebut. Wolff menekankan bahwa tujuan program bukan sekadar menghadirkan pembalap wanita di F1 sebagai simbol keterwakilan. Mereka harus sampai ke level tersebut dengan kemampuan teknis, kesiapan mental, dan kecepatan yang memadai untuk bersaing.

“Tujuan utama kami bukan hanya sekadar membawa pembalap wanita ke F1 demi keterwakilan formalitas, melainkan memastikan mereka hadir dengan kesiapan teknis, mental, dan kecepatan yang sanggup bersaing secara kompetitif,” kata Wolff.

Filosofi itu sejalan dengan arah F1 Academy yang semakin serius membangun talent pipeline. Pada 2025, ajang tersebut menggelar rookie test perdana yang diikuti 18 pembalap potensial. Tes dirancang untuk memberi kesempatan kepada talenta muda menunjukkan kemampuan mereka dalam kondisi yang setara sekaligus membuka peluang memperoleh kursi penuh atau kesempatan wildcard.

Program tersebut kemudian terus berkembang pada musim 2026. F1 Academy menjalankan 14 balapan dalam tujuh seri pendukung Grand Prix Formula 1, ditambah 12 hari pengujian. Kalender 2026 juga membawa seri tersebut tampil di Silverstone untuk pertama kalinya, memperbesar eksposur pembalap wanita di tengah atmosfer akhir pekan F1.

Dukungan tim-tim Formula 1 juga menjadi faktor penting. Kesepakatan multi-tahun yang diumumkan pada November 2025 memastikan seluruh 10 tim F1 saat itu tetap memberikan dukungan kepada satu pembalap dan livery di F1 Academy. Cadillac, yang bergabung ke F1 pada 2026, juga telah menyatakan komitmennya untuk masuk sebagai pendukung mulai 2027.

Jalur dari F1 Academy menuju mobil F1 pun mulai terlihat lebih konkret. Doriane Pin, juara F1 Academy 2025, pada April 2026 menjalani tes Formula 1 bersama Mercedes di Silverstone. Ia tercatat sebagai juara F1 Academy pertama yang mengemudikan mobil F1 dan menjadi perempuan pertama yang menguji mobil Mercedes F1.

Bagi pembalap muda, pengalaman seperti itu sangat berharga. Mengemudikan mobil F1 modern bukan sekadar soal beradaptasi dengan kecepatan. Pembalap juga dituntut memahami karakter mobil, bekerja dengan insinyur, memberikan umpan balik teknis, serta mampu menjaga performa dalam tekanan tinggi.

F1 Academy juga memperluas kesempatan balap melalui skema wildcard. Langkah itu memberi pembalap tambahan pengalaman pada akhir pekan Grand Prix dan menjadi bagian dari upaya memperlebar kumpulan talenta wanita yang siap naik jenjang.

Editor : Lugas Rumpakaadi
F1 Academy pembalap wanita Lella Lombardi formula 1 susie wolff