RADARBANYUWANGI.ID - Perjuangan wakil Indonesia pada ajang Esports World Cup (EWC) 2026 Free Fire di Paris, Prancis, telah resmi berakhir. Hasil yang belum sesuai target membuat tim-tim Merah Putih langsung mengalihkan fokus menuju Free Fire World Series Southeast Asia (FFWS SEA) 2026 Fall yang akan menjadi agenda besar berikutnya.
Garena Indonesia memastikan FFWS SEA 2026 Fall akan mulai bergulir pada Agustus mendatang. Turnamen kasta tertinggi Asia Tenggara tersebut kembali menghadirkan kabar baik bagi Indonesia karena Kota Surabaya dipercaya menjadi tuan rumah Grand Finals, mengulang kesuksesan penyelenggaraan FFWS SEA 2024 Fall.
Pada edisi kali ini, Indonesia akan menurunkan lima tim terbaik untuk bersaing memperebutkan gelar juara Asia Tenggara. Selain memburu prestasi regional, FFWS SEA 2026 Fall juga menjadi ajang yang sangat penting karena menjadi jalur kualifikasi menuju FFWS Global Finals 2026 di Bangkok, Thailand.
Persiapan menuju turnamen tersebut dipastikan akan diwarnai evaluasi menyeluruh setelah hasil kurang memuaskan di EWC 2026. Dari tiga wakil Indonesia yang tampil di Paris, RRQ Kazu menjadi tim dengan pencapaian terbaik setelah menempati peringkat kesembilan Grand Finals dengan koleksi 56 poin.
Juara bertahan EWC 2025, EVOS Divine, harus puas finis di posisi ke-10 dengan raihan poin yang sama. Sementara itu, Bigetron by Vitality gagal melangkah ke Grand Finals setelah terhenti pada fase Survival Stage.
Hasil tersebut membuat Indonesia gagal mempertahankan gelar juara EWC Free Fire yang diraih EVOS Divine pada edisi 2025. Meski demikian, ketiga wakil Indonesia tetap membawa pulang hadiah dari total prize pool senilai 1 juta dolar Amerika Serikat.
RRQ Kazu memperoleh hadiah sebesar 26.000 dolar AS, EVOS Divine menerima 22.000 dolar AS, sedangkan Bigetron by Vitality mengamankan 11.000 dolar AS sebagai apresiasi atas pencapaian mereka di turnamen dunia tersebut.
Sementara itu, gelar juara EWC 2026 Free Fire berhasil direbut tim asal Meksiko, LYON. Keberhasilan tersebut sekaligus mengakhiri dominasi Thailand dan Indonesia yang menjadi kampiun dalam dua edisi sebelumnya. LYON juga mencatat sejarah sebagai tim asal Meksiko pertama yang menjuarai kompetisi Free Fire pada panggung EWC.
Perjalanan LYON menuju tangga juara tidak berlangsung mudah. Mereka sempat gagal lolos langsung dari Group Stage sehingga harus berjuang melalui Survival Stage untuk mengamankan tempat di Grand Finals.
Memasuki laga puncak, LYON tampil konsisten hingga menembus ambang 80 poin yang mengaktifkan format Champion Rush. Gelar juara akhirnya dipastikan setelah mereka meraih Booyah pada gim ketujuh dan menutup turnamen dengan total 155 poin.
Penampilan impresif LYON semakin lengkap setelah salah satu pemainnya, Benjamín "Gamezking" Perez, dinobatkan sebagai Most Valuable Player (MVP) Grand Finals berkat kontribusi besarnya sepanjang pertandingan.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara