RADARBANYUWANGI.ID - Mundurnya Rio Haryanto dari Manor Racing pada Agustus 2016 selama ini lebih banyak dikaitkan dengan persoalan dana sponsor senilai 7 juta euro yang belum terpenuhi.
Namun, jika menilik catatan performa di atas lintasan, pembalap Indonesia tersebut sebenarnya menunjukkan potensi yang layak untuk bertahan lebih lama di ajang Formula 1 (F1).
Selama mengikuti 12 seri pertama musim 2016, Rio harus berduel dengan Pascal Wehrlein, juara DTM sekaligus pembalap binaan Mercedes yang saat itu diproyeksikan sebagai salah satu talenta terbaik generasinya.
Meski berstatus rookie, Rio mampu memberikan perlawanan yang kompetitif.
Dalam sesi kualifikasi yang menjadi tolok ukur kecepatan murni pembalap dan mobil, Rio berhasil mengungguli Wehrlein pada lima dari 12 seri yang dijalani.
Rata-rata selisih waktu satu lap keduanya juga tergolong tipis.
Rio hanya tertinggal sekitar 0,148 detik dari rekan setimnya tersebut.
Salah satu penampilan terbaiknya terjadi di Sirkuit Baku, Azerbaijan, ketika ia merebut posisi start ke-16 dan berada di depan Wehrlein pada lintasan jalan raya yang dikenal sangat menuntut keberanian sekaligus presisi.
Di balik performa yang cukup kompetitif itu, Rio harus menghadapi tekanan besar di luar lintasan.
Ketidakpastian mengenai kelanjutan dukungan sponsor membuat masa depannya bersama Manor Racing terus menjadi tanda tanya.
Sang ibu, Indah Pennywati, pernah mengungkapkan kondisi tersebut saat diwawancarai di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga, Jakarta, pada 21 Juni 2016.
"Rio mencoba tetap fokus di lintasan, tetapi situasi dana ini tentu membebani pikirannya. Setiap kali turun balapan, kami selalu dikejar tenggat waktu. Sangat sulit bagi seorang pembalap pemula untuk memberikan performa 100% saat masa depannya di tim belum pasti setiap minggu," ungkapnya.
Tekanan nonteknis tersebut diyakini turut memengaruhi konsistensi performa Rio sepanjang musim perdananya di F1.
Apabila persoalan pendanaan dapat diselesaikan hingga akhir musim, peluang Rio untuk mempertahankan kursinya dinilai cukup terbuka.
Beberapa sirkuit berkarakter cepat seperti Monza (Italia) dan Spa-Francorchamps (Belgia) diperkirakan sesuai dengan karakter mobil Manor, sehingga peluang meraih hasil lebih baik masih tersedia.
Dalam skenario tersebut, Esteban Ocon juga diperkirakan tidak akan menjalani debut F1 lebih awal pada musim 2016 karena kursi Manor masih ditempati Rio.
Peluang itu dinilai semakin menarik apabila melihat perubahan regulasi Formula 1 pada musim 2017.
Mobil generasi baru yang lebih lebar dengan tingkat daya cengkeram lebih tinggi dinilai lebih sesuai dengan gaya balap Rio, sebagaimana pernah diperlihatkannya saat meraih tiga kemenangan di GP2 musim 2015.
Penilaian positif terhadap kemampuan Rio juga pernah disampaikan mantan Team Principal Manor Racing, Dave Ryan, dalam rilis resmi tim di Sirkuit Spa-Francorchamps, Belgia, pada 11 Agustus 2016.
"Rio adalah bagian penting dari tim kami tahun ini. Dia menunjukkan kecepatan alami yang luar biasa dan dedikasi yang tidak perlu dipertanyakan. Kami sangat kecewa tidak bisa melanjutkan kerja sama ini, karena kami tahu dia memiliki bakat untuk berkembang lebih jauh di olahraga ini," tuturnya.
Berbagai catatan tersebut menunjukkan bahwa berakhirnya perjalanan Rio Haryanto di F1 bukan semata ditentukan oleh performa di lintasan.
Statistik kualifikasi, selisih waktu dengan rekan setim, serta pengakuan dari internal tim memperlihatkan bahwa pembalap asal Indonesia itu memiliki modal untuk berkembang sebagai pembalap papan tengah yang kompetitif apabila mampu melewati kendala finansial yang membayangi sepanjang musim 2016.
Editor : Lugas Rumpakaadi