RADARBANYUWANGI.ID - Belum genap sepekan meninggalkan jabatan sebagai Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Banyuwangi, Guntur Priambodo sudah kembali menorehkan prestasi. Pria yang dikenal sebagai ikon balap sepeda Banyuwangi itu sukses meraih podium kedua pada ajang bergengsi Bromo KOM (King of Mountain) 2026 sekaligus menerima penghargaan khusus Lifetime Achievement Award.
Prestasi tersebut menjadi kado istimewa setelah Guntur resmi memasuki masa purna tugas sebagai aparatur sipil negara (ASN) pada 1 Juni 2026. Di usia yang telah memasuki kategori master atau 60 tahun ke atas, semangatnya menaklukkan tanjakan legendaris menuju Bromo masih tetap menyala.
Bagi dunia balap sepeda Jawa Timur, nama Guntur Priambodo bukan sosok baru. Sejak Bromo KOM pertama kali digelar pada 2014, dirinya nyaris tak pernah absen mengikuti perlombaan yang dikenal sebagai salah satu climbing race paling prestisius di Indonesia itu.
Ketika banyak pesepeda seusianya mulai mengurangi intensitas latihan, Guntur justru terus menjaga konsistensi. Tanjakan Wonokitri hingga jalur-jalur berat lainnya masih menjadi arena pembuktian bahwa usia bukan penghalang untuk tetap berprestasi.
Perjalanan panjangnya tidak selalu mulus. Mantan Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi tersebut mengaku pernah mengalami lima kali kecelakaan yang membuatnya harus menjalani dua kali operasi. Namun pengalaman itu tidak membuatnya meninggalkan olahraga yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Sebaliknya, Guntur terus kembali ke lintasan dan mengukir prestasi. Dalam sejarah keikutsertaannya di Bromo KOM, ia telah beberapa kali naik podium. Mulai podium pada kategori usia 50 tahun ke atas pada 2018, podium ketiga kelas 55-59 tahun pada 2022, hingga meraih gelar juara pertama pada Bromo KOM 2023 dengan catatan waktu 1 jam 47 menit 54 detik.
Pada Bromo KOM 2026, Guntur kembali menunjukkan kelasnya. Di tengah persaingan ketat yang diikuti sekitar 1.000 peserta dari 319 komunitas, 121 kota, 26 provinsi, dan 14 negara, ia berhasil finis di posisi kedua kategori Men Age 60+ dengan catatan waktu 1 jam 59 menit.
Ia hanya terpaut 50 detik dari Dede Supriatna asal Bandung yang keluar sebagai juara pertama.
“Hasil ini cukup mengejutkan. Sejak awal saya tidak berpikir untuk bisa podium meskipun tetap mempersiapkan diri untuk bertarung,” kata Guntur.
Persiapan menuju Bromo KOM 2026 telah dilakukannya jauh hari sejak Ramadan lalu. Selepas sahur, ia rutin menjalani latihan sepeda virtual untuk menjaga kebugaran dan daya tahan. Selain itu, ia juga melakukan latihan langsung di jalur Paltuding Ijen yang dikenal memiliki karakter tanjakan menantang.
“Pengalaman saya di Bromo sudah 30 kali. Ini menjadi modal menyiapkan strategi turun di Bromo KOM 2026,” ujar alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut.
Berbekal pengalaman panjang itu, Guntur memilih mengubah strategi balapan. Jika biasanya tampil agresif sejak awal lomba, kali ini ia bermain lebih sabar dengan menjaga tempo dan menyimpan tenaga hingga mendekati garis finis.
Strategi tersebut hampir membawanya menjadi juara. Namun kram yang datang sekitar 500 meter sebelum finis membuatnya harus puas mengakhiri lomba di posisi kedua.
“Saya mainkan tempo, baru setelah mulai mendekati finish mulai menyerang. Sayangnya 500 meter sebelum finish sempat kram, jadi harus puas di podium kedua,” katanya.
Meski demikian, capaian tersebut tidak membuatnya cepat berpuas diri. Dengan waktu yang kini lebih fleksibel setelah purna tugas, Guntur justru memasang target lebih tinggi untuk musim balap berikutnya.
“Saya masih menargetkan untuk bisa meraih podium pertama di balapan selanjutnya. Apalagi saat ini saya punya waktu lebih banyak untuk berlatih di luar,” ujarnya sambil tersenyum.
Konsistensi yang ditunjukkan selama lebih dari satu dekade itu akhirnya mendapat apresiasi khusus dari penyelenggara. Di hadapan ribuan peserta dan komunitas sepeda yang hadir, Founder Bromo KOM Azrul Ananda menyerahkan Lifetime Achievement Award kepada Guntur Priambodo.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi, semangat, dan konsistensinya yang tak pernah surut di dunia balap sepeda.
“Penghargaan ini kita berikan kepada Pak Guntur karena konsistensinya lebih dari satu dekade di dunia balap sepeda dan selalu aktif di olahraga balap sepeda,” kata Azrul.
Penghargaan itu menjadi simbol bahwa pencapaian terbesar seorang atlet tidak hanya diukur dari jumlah kemenangan, tetapi juga dari ketekunan menjaga semangat untuk terus berkompetisi. Dan bagi Guntur Priambodo, tanjakan Bromo tampaknya masih akan terus menjadi arena pembuktian bahwa usia hanyalah angka. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin