RADARBANYUWANGI.ID - Krisis performa timnas voli putri Korea Selatan setelah terdegradasi dari ajang Volleyball Nations League atau VNL 2025 mulai memunculkan efek domino di level kompetisi domestik. Federasi Bola Voli Korea Selatan (KOVO) kini mendapat tekanan untuk mengevaluasi dominasi pemain asing di Liga Voli Korea.
Sorotan tajam muncul setelah pelatih timnas voli putri Korea Selatan, Cha Sang-hyun, mengusulkan pembatasan jumlah pertandingan pemain asing demi memberi ruang lebih besar bagi talenta lokal berkembang.
Usulan tersebut langsung memicu perdebatan karena berpotensi mengubah wajah kompetisi V-League, termasuk memengaruhi pemain asing Asia seperti Megawati Hangestri Pertiwi yang tampil gemilang bersama Daejeon JungKwanJang Red Sparks.
Cha Sang-hyun menilai ketergantungan klub-klub Liga Voli Putri Korea terhadap pemain asing telah berdampak buruk terhadap regenerasi pemain lokal, khususnya untuk kebutuhan tim nasional.
Pelatih berusia 52 tahun itu menyoroti minimnya menit bermain pemain domestik di posisi-posisi vital karena hampir seluruh tim memilih mengandalkan kekuatan pemain impor.
Dalam usulannya, Cha Sang-hyun meminta pemain asing, baik kuota Asia maupun non-Asia, tidak dimainkan mulai putaran reguler keempat hingga keenam. Pemain asing baru diizinkan tampil kembali saat fase play-off dan grand final.
Menurutnya, kebijakan tersebut bisa menjadi solusi untuk meningkatkan jam terbang pemain lokal Korea Selatan yang saat ini dinilai tertinggal dari negara-negara pesaing di Asia.
Usulan itu muncul setelah timnas voli putri Korea Selatan mengalami kemunduran performa dan harus terdegradasi dari VNL 2025, sesuatu yang memicu kritik besar terhadap sistem pembinaan voli Negeri Ginseng.
Terbaru, federasi bola voli Korea Selatan atau KOVO akhirnya merespons wacana tersebut. Namun, federasi memilih mencari jalan tengah tanpa harus memangkas peran pemain asing secara langsung.
Mengutip laporan media Korea Selatan, SportsSeoul, KOVO kini mempertimbangkan opsi penambahan jumlah pertandingan reguler serta penerapan sistem rotasi pemain lokal.
Saat ini, kompetisi V-League berlangsung dalam format 36 pertandingan yang terbagi ke dalam enam putaran reguler. KOVO membuka kemungkinan memperluas jumlah laga agar klub dipaksa melakukan rotasi pemain lebih luas.
“Terbaru, ada pengajuan aturan untuk memperluas jumlah pertandingan. Saat ini V-League memiliki 36 pertandingan yang terbagi dalam enam putaran,” tulis SportsSeoul.
Federasi dan sejumlah klub meyakini jadwal yang lebih padat akan membuat tim tidak bisa terus-menerus mengandalkan pemain inti, termasuk pemain asing.
“Beberapa klub juga menyerukan untuk adanya pertandingan yang dikhususkan rotasi pemain lokal. Misalnya memainkan tiga hingga empat pertandingan seminggu akan menciptakan lingkungan di mana beragam sumber daya harus dimanfaatkan,” lanjut laporan tersebut.
Dengan skema itu, pemain lokal diprediksi bakal memperoleh menit bermain lebih banyak tanpa harus memangkas kontribusi pemain asing yang selama ini menjadi daya tarik utama liga.
KOVO juga disebut mempertimbangkan pembentukan kompetisi level dua khusus pemain muda sebagai bagian dari solusi jangka panjang regenerasi voli Korea Selatan.
Di tengah polemik tersebut, posisi opposite spiker menjadi sektor yang paling disorot. Media Korea Selatan menyebut posisi ini mengalami krisis serius karena hampir seluruh klub mengandalkan pemain asing sebagai tumpuan utama.
Ironisnya, timnas voli putri Korea Selatan kini kesulitan menemukan opposite lokal berkualitas karena kompetisi domestik lebih banyak diisi pemain impor.
“Posisi yang paling bermasalah adalah opposite spiker. Ini adalah posisi di mana pemain domestik tidak dapat bertahan di V-League,” tulis SportsSeoul.
Situasi itu membuat nama Megawati Hangestri ikut menjadi perhatian. Selama membela Red Sparks, pevoli asal Indonesia tersebut tampil sebagai opposite utama dan menjadi salah satu pemain paling berpengaruh di liga.
Sementara itu, pemain opposite andalan timnas Korea Selatan, Lee Seon-woo, justru hanya menjadi pelapis Megawati di level klub. Kondisi tersebut dianggap menggambarkan kesenjangan kualitas antara pemain asing dan pemain lokal Korea.
Fenomena ini memunculkan dilema besar bagi KOVO. Di satu sisi, pemain asing terbukti meningkatkan kualitas kompetisi, popularitas liga, hingga nilai komersial. Namun di sisi lain, dominasi mereka dinilai menghambat perkembangan talenta domestik.
Bagi klub-klub peserta liga, keberadaan pemain asing juga menjadi faktor penting dalam persaingan perebutan gelar juara. Karena itu, pembatasan pertandingan dinilai berpotensi merugikan klub secara finansial maupun prestasi.
Hingga kini, KOVO belum mengambil keputusan final terkait usulan pembatasan pemain asing. Namun, penambahan jumlah pertandingan reguler disebut baru memungkinkan diterapkan setelah musim Liga Voli Korea 2026/2027 rampung karena masih berkaitan dengan kontrak hak siar televisi.
Perkembangan kebijakan ini dipastikan akan terus dipantau, terutama oleh pencinta voli Indonesia yang menaruh perhatian besar terhadap kiprah Megawati Hangestri di Liga Voli Korea. (*)
Editor : Ali Sodiqin