Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sosok Sukardi, Kakek 78 Tahun yang Tetap Latihan Silat PSHT Demi Cari Makna Hidup dan Persaudaraan

Ali Sodiqin • Kamis, 28 Mei 2026 | 09:58 WIB
Profil Sukardi, Kakek 78 Tahun yang Tetap Semangat Latihan Silat PSHT di Banjarmasin. (psht.or.id)
Profil Sukardi, Kakek 78 Tahun yang Tetap Semangat Latihan Silat PSHT di Banjarmasin. (psht.or.id)

RADARBANYUWANGI.ID – Suara hentakan kaki dan aba-aba latihan silat di Komplek Putri Duyung, Banjarmasin Barat, Minggu (24/5), mendadak terasa berbeda. Di tengah deretan siswa muda bertubuh tegap dan penuh tenaga, tampak seorang pria renta dengan rambut putih seluruhnya yang tetap berdiri tegak mengikuti setiap gerakan latihan.

Namanya Sukardi.

Usianya telah 78 tahun.

Namun semangatnya menaklukkan latihan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) justru membuat banyak orang terpukau.

Saat kebanyakan orang seusianya memilih menikmati masa tua di rumah bersama anak dan cucu, Sukardi justru datang mengendarai motor Honda Supra menuju tempat latihan PSHT Rayon Putri Duyung, Ranting Banjarmasin Barat, Cabang Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Bukan demi menjadi petarung.

Bukan pula untuk mengejar prestasi.

Di usia senjanya, Sukardi datang membawa tujuan yang jauh lebih dalam: mencari makna hidup, persaudaraan, dan ketenangan batin.

“Saya Hanya Ingin Menambah Saudara”

Dengan senyum tulus yang menghiasi wajahnya, Sukardi mengungkap alasan sederhana yang membuatnya tetap semangat berlatih di usia hampir kepala delapan.

“Di usia senja seperti ini, saya hanya ingin menambah saudara,” ujarnya pelan.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun di baliknya tersimpan makna mendalam tentang perjalanan hidup seorang manusia yang tak lagi mengejar dunia, melainkan mencari kehangatan persaudaraan dan kedamaian hati.

Bagi Sukardi, PSHT bukan sekadar perguruan pencak silat.

Lebih dari itu, organisasi tersebut menjadi ruang sosial yang membuat dirinya merasa tetap hidup, diterima, dan memiliki keluarga baru.

Mencari Kesempurnaan Hidup di Usia Senja

Di balik latihan fisik yang dijalaninya, Sukardi ternyata juga tengah menjalani pencarian spiritual.

Ia mengaku ingin memperdalam nilai-nilai Ilmu Setia Hati yang selama ini dikenal menekankan pengenalan diri, pengendalian emosi, serta kedamaian batin.

Latihan demi latihan yang menguras tenaga justru ia maknai sebagai proses menempa kesabaran dan keteguhan hati.

Di setiap gerakan jurus, Sukardi merasa sedang belajar memahami hidup lebih dalam.

Baginya, usia tua bukan alasan berhenti belajar memperbaiki diri.

“Selama masih diberi napas, kita tetap harus belajar menjadi manusia yang lebih baik,” ucapnya.

Datang Tanpa Minta Perlakuan Istimewa

Kehadiran Sukardi di tengah gelanggang latihan sontak menjadi perhatian banyak siswa muda.

Namun yang paling membuat haru, pria sepuh itu datang tanpa pernah meminta perlakuan khusus.

Ia mengikuti setiap instruksi pelatih semampunya.

Tak ada keluhan.

Tak ada rasa ingin dimanjakan karena usia.

Meski tubuhnya tak lagi sekuat dahulu, Sukardi tetap berusaha menyelesaikan setiap tahapan latihan dengan penuh hormat dan kesungguhan.

Pemandangan itu justru menjadi tamparan bagi sebagian siswa muda yang terkadang masih mengeluh saat menghadapi latihan keras.

Semangat Sukardi seolah membuktikan bahwa kekuatan sejati bukan hanya soal fisik, tetapi tentang kemauan dan keteguhan hati.

Simbol Bahwa Usia Hanyalah Angka

Bagi Sukardi, batas usia hanyalah angka.

Selama tubuh masih mampu bergerak dan bernapas, pencarian akan ilmu, persaudaraan, dan kedekatan kepada Sang Pencipta tidak boleh berhenti.

Di atas tanah latihan Rayon Putri Duyung, pria 78 tahun itu menunjukkan bahwa perjalanan memperhalus budi pekerti adalah proses seumur hidup.

Ketekunannya juga menjadi inspirasi bahwa manusia tidak pernah terlalu tua untuk belajar hal baru.

Menggetarkan Hati Banyak Orang

Kisah Sukardi perlahan menyebar dan menggetarkan hati banyak orang di lingkungan PSHT maupun masyarakat sekitar.

Di tengah zaman ketika banyak generasi muda mudah menyerah dan kehilangan arah hidup, sosok Sukardi justru hadir membawa pelajaran tentang kesederhanaan, ketulusan, dan semangat menjalani hidup.

Ia tidak datang untuk menjadi hebat di mata orang lain.

Ia datang untuk memperbaiki dirinya sendiri.

Semangat itulah yang membuat kehadiran Sukardi di gelanggang latihan terasa begitu istimewa.

Inspirasi Tentang Makna Persaudaraan

PSHT selama ini memang dikenal bukan hanya mengajarkan bela diri, tetapi juga nilai persaudaraan, penghormatan, dan pembentukan karakter.

Bagi Sukardi, nilai-nilai itulah yang membuat dirinya merasa menemukan rumah baru di usia senja.

Di tengah latihan yang keras, ia justru menemukan kehangatan sosial yang mungkin tak semua orang dapatkan.

Setiap sapaan dari sesama siswa, setiap kebersamaan saat latihan, hingga setiap nasihat pelatih menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritualnya.

Perjalanan Hidup yang Tak Pernah Selesai

Kisah Sukardi membuktikan bahwa perjalanan manusia untuk belajar tidak pernah benar-benar selesai.

Usia tua bukan akhir dari proses bertumbuh.

Sebaliknya, di usia 78 tahun, Sukardi justru menunjukkan bahwa pencarian makna hidup bisa semakin dalam.

Dengan seragam hitam PSHT dan langkah pelan menuju arena latihan, pria sepuh itu kini menjadi simbol bahwa semangat, persaudaraan, dan ketulusan akan selalu menemukan jalannya, bahkan di usia yang tak lagi muda. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Sukardi PSHT #kakek latihan silat #PSHT Banjarmasin #kisah inspiratif lansia #pencak silat PSHT