Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Megawati Hangestri Terancam Kehilangan 18 Laga di Hyundai Hillstate, Usulan Radikal Pelatih Korea Bikin Geger V-League

Ali Sodiqin • Selasa, 26 Mei 2026 | 12:30 WIB
Megawati Hangestri resmi gabung Suwon Hyundai Hillstate, klub elite Liga Voli Korea dan rival kuat Red Sparks musim 2026/2027. (Instagram @hdecvolleyballteam)
Megawati Hangestri resmi gabung Suwon Hyundai Hillstate, klub elite Liga Voli Korea dan rival kuat Red Sparks musim 2026/2027. (Instagram @hdecvolleyballteam)

RADARBANYUWANGI.ID – Nasib Megawati Hangestri Pertiwi di musim debutnya bersama Suwon Hyundai E&C Hillstate terancam tidak berjalan mulus. Bukan karena cedera atau persoalan adaptasi, melainkan akibat usulan aturan ekstrem yang kini mengguncang Liga Voli Putri Korea Selatan.

Pelatih Timnas voli putri Korea Selatan, Cha Sang-hyun, secara terbuka mendesak Federasi Bola Voli Korea Selatan atau KOVO untuk melarang penggunaan pemain asing, termasuk kuota Asia, pada putaran keempat hingga keenam fase reguler V-League musim 2026/2027.

Jika usulan tersebut disahkan, Megawati dipastikan kehilangan separuh musim reguler bersama Hyundai Hillstate. Total ada 18 pertandingan yang berpotensi melayang dari kalender bermain sang opposite hitter andalan Indonesia.

Situasi ini sontak memunculkan polemik besar di Korea Selatan. Sebab, aturan tersebut dinilai terlalu radikal dan belum pernah diterapkan di kompetisi voli profesional negara mana pun.

Cha Sang-hyun Soroti Ketergantungan Klub kepada Pemain Asing

Usulan kontroversial itu bukan tanpa alasan. Cha Sang-hyun menilai kualitas Timnas voli putri Korea Selatan mengalami kemunduran serius akibat ketergantungan klub-klub V-League terhadap pemain asing.

Menurutnya, mayoritas tim kini terlalu mengandalkan legiun impor sebagai mesin poin utama. Dampaknya, pemain lokal kehilangan menit bermain dan gagal berkembang sebagai hitter elite.

Situasi tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab merosotnya performa Korea Selatan di level internasional.

Timnas voli putri Negeri Ginseng bahkan harus menerima kenyataan pahit terdegradasi dari ajang Volleyball Nations League (VNL). Secara kualitas individu, Korea juga dianggap kehilangan sosok hitter dominan seperti generasi sebelumnya.

“Tidak ada pemain yang dominan di divisi putri. Efektivitas serangan mereka bahkan tidak mencapai 10 persen. Ini situasi yang sangat sulit bagi staf pelatih tim nasional,” ujar Cha Sang-hyun seperti dikutip dari media Korea, Naver.

Nama Megawati Ikut Disorot

Dalam konteks tersebut, nama Megawati ikut menjadi perbincangan.

Pevoli asal Jember itu selama dua musim terakhir tampil luar biasa di V-League. Saat masih memperkuat Daejeon Jung Kwan Jang Red Sparks, Megawati menjelma menjadi mesin poin utama tim.

Dominasi Megawati bahkan secara tidak langsung memperlihatkan jurang kualitas antara pemain asing dan hitter lokal Korea Selatan.

Beberapa nama seperti Kang So-hwi maupun Park Jeong-ah yang menjadi andalan timnas di posisi outside hitter dinilai masih kalah eksplosif dibanding Megawati.

Bahkan Lee Seon-woo yang dahulu menjadi pelapis Megawati di Red Sparks kini disebut sebagai opposite terbaik yang dimiliki Korea Selatan.

Fakta tersebut dianggap sebagai ironi besar bagi perkembangan voli putri Korea Selatan.

Aturan Radikal yang Belum Pernah Ada di Dunia Voli

Yang membuat polemik semakin panas, Cha Sang-hyun tidak hanya meminta pembatasan kuota pemain asing.

Mantan pelatih GS Caltex Seoul KIXX itu justru mengusulkan larangan total penggunaan pemain asing mulai putaran empat hingga enam fase reguler.

Artinya, pemain asing baru boleh kembali dimainkan ketika babak playoff dan grand final dimulai.

Usulan ini jelas sangat tidak lazim dalam dunia bola voli profesional.

Di banyak liga dunia, regulasi biasanya hanya membatasi jumlah pemain asing dalam satu tim atau jumlah pemain yang tampil di lapangan. Namun bukan membatasi jumlah pertandingan yang boleh dimainkan.

Karena itu, wacana tersebut langsung memicu perdebatan besar di kalangan penggemar maupun pelaku industri voli Korea Selatan.

Hyundai Hillstate Bisa Kehilangan Separuh Kekuatan

Bagi Hyundai Hillstate, usulan tersebut jelas menjadi ancaman serius.

Megawati direkrut bukan hanya sebagai pemain Asia biasa, tetapi diproyeksikan menjadi tumpuan utama tim dalam perburuan gelar juara V-League musim 2026/2027.

Jika aturan itu benar-benar diterapkan, Hillstate bakal kehilangan pemain kunci pada fase-fase penting perebutan tiket playoff.

Sebagai gambaran, V-League menggunakan format enam putaran di fase reguler.

Setiap tim menjalani enam pertandingan dalam satu putaran. Dengan total enam putaran, maka masing-masing klub memainkan 36 pertandingan sepanjang musim reguler.

Apabila pemain asing dilarang tampil mulai putaran empat hingga enam, maka Megawati otomatis absen dalam 18 pertandingan.

Jumlah tersebut setara dengan separuh musim reguler.

Kerugian Finansial Mengintai Klub-Klub V-League

Tak hanya persoalan teknis, usulan tersebut juga dinilai berpotensi merugikan klub dari sisi finansial.

Pemain asing di Liga Voli Korea memiliki nilai kontrak yang tinggi, baik kuota Asia maupun non-Asia.

Klub tentu mengeluarkan investasi besar untuk mendatangkan pemain dengan kualitas elite seperti Megawati.

Karena itu, melarang mereka tampil dalam separuh musim dianggap tidak masuk akal secara bisnis.

Selain membayar gaji mahal, klub juga berpotensi kehilangan daya tarik kompetisi. Sebab, kehadiran pemain asing selama ini menjadi magnet utama V-League, termasuk untuk pasar internasional.

Megawati sendiri terbukti sukses meningkatkan popularitas Liga Korea di Indonesia. Pertandingan Red Sparks bahkan sempat rutin menjadi trending topic berkat penampilan “Megatron”.

KOVO Belum Beri Respons Resmi

Hingga saat ini, Korea Volleyball Federation maupun KOVO belum memberikan respons resmi atas usulan Cha Sang-hyun tersebut.

Namun isu ini dipastikan bakal menjadi salah satu topik panas menjelang bergulirnya musim baru V-League.

Di sisi lain, Korea Selatan juga tengah bersiap menghadapi AVC Nations Cup for Women 2026 yang digelar di Filipina mulai 6 Juni mendatang.

Turnamen tersebut menjadi ujian penting bagi proses regenerasi timnas voli putri Korea Selatan yang kini tengah mengalami penurunan performa.

Turnamen Pramusim Korea Digelar Juni

Sementara itu, KOVO juga telah memastikan penyelenggaraan Korea Industrial Volleyball Federation & Professional Volleyball Futures Championship 2026 di Danyang, Chungcheong Utara, pada 7 hingga 16 Juni mendatang.

Turnamen pramusim itu akan diikuti 10 klub voli putri Korea Selatan yang dibagi ke dalam dua grup.

Pool A dihuni Expressway Hi-Pass, IBK Altos, Pink Spiders, Suwon, dan Pohang.

Ajang tersebut diperkirakan menjadi panggung awal bagi klub-klub untuk mengukur kekuatan sebelum memasuki musim kompetisi resmi.

Bagi Megawati dan Hyundai Hillstate, perkembangan aturan pemain asing jelas menjadi hal yang wajib dipantau serius. Sebab, keputusan KOVO nantinya bisa menentukan besar kecilnya panggung yang akan dimainkan Megatron di musim perdananya bersama Hillstate. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#V-League Korea #Cha Sang-hyun #Hyundai Hillstate #Liga Voli Korea #Megawati Hangestri