RADARBANYUWANGI.ID - Kegagalan tim bulu tangkis Indonesia di Thomas dan Uber Cup 2026 mulai memakan korban. Wakil Ketua Umum PP PBSI, Taufik Hidayat, membuka peluang besar terjadinya perombakan tim kepelatihan hingga pemain usai hasil buruk yang menimpa skuad Merah Putih di ajang beregu paling bergengsi dunia itu.
Sorotan paling tajam mengarah ke sektor putra. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, Indonesia gagal lolos dari fase grup Thomas Cup 2026. Catatan itu menjadi noda besar bagi negara dengan koleksi 14 gelar juara Thomas Cup sekaligus tim tersukses sepanjang sejarah turnamen.
Situasi tersebut membuat PBSI mulai menyiapkan langkah evaluasi besar-besaran. Tidak hanya pemain, posisi pelatih pun disebut tak lagi aman jika gagal memenuhi target prestasi.
“Ya sangat mungkin ada perubahan pelatih. Kenapa nggak? Untuk pemain juga sangat mungkin. Sekarang promosi degradasi bisa kapan saja,” kata Taufik dalam konferensi pers di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (8/5/2026).
Thomas Cup 2026 Jadi Alarm Besar Bulutangkis Indonesia
Kegagalan Indonesia di Thomas Cup 2026 dianggap sebagai salah satu titik terendah dalam sejarah bulu tangkis nasional. Status Indonesia sebagai “raja Thomas Cup” seolah runtuh setelah tim Merah Putih tersingkir bahkan sebelum fase gugur dimulai.
Padahal dalam tiga edisi terakhir, Indonesia selalu berhasil mencapai partai final. Bahkan skuad Merah Putih sempat meraih gelar juara pada edisi 2020.
Kini, rekor buruk baru tercipta. Prestasi Indonesia di Thomas Cup 2026 bahkan melampaui capaian terburuk sebelumnya yang hanya mentok di perempat final pada edisi 2012.
Tak hanya sektor putra, performa tim putri di Uber Cup 2026 juga mengalami penurunan. Setelah menjadi finalis pada edisi 2024, langkah Indonesia tahun ini terhenti di semifinal.
Hasil tersebut membuat PBSI menilai perlu adanya pembenahan menyeluruh di tubuh pelatnas.
Taufik Hidayat Tegaskan Tak Ada Tempat untuk Zona Nyaman
Taufik menegaskan dunia olahraga tidak bisa berjalan tanpa target dan evaluasi. Menurutnya, baik pelatih maupun pemain harus siap menghadapi konsekuensi jika performa tim tidak berkembang.
Ia menolak adanya budaya zona nyaman di pelatnas PBSI.
“Kalau kita kasih kesempatan tapi nggak ada perform-nya, kenapa enggak diganti? Kita di sini cari solusi yang terbaik,” tegas peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 tersebut.
Menurut Taufik, ritme kompetisi bulu tangkis internasional sangat ketat. Atlet dan pelatih dituntut terus berkembang karena jadwal turnamen berlangsung hampir setiap pekan.
“Olahraga ini nggak bisa ditunggu lagi. Tiap hari latihan, tiap minggu ada pertandingan, tiap bulan ada turnamen. Kita harus cari formula terbaik,” lanjutnya.
Evaluasi Menyeluruh PBSI, Pemain Muda Berpeluang Naik
PBSI disebut telah melakukan evaluasi total usai kegagalan di Thomas dan Uber Cup 2026. Salah satu opsi yang mulai dipertimbangkan adalah percepatan promosi pemain muda ke level utama.
Taufik menegaskan proses promosi dan degradasi kini tidak lagi menunggu evaluasi tahunan. Atlet yang tampil konsisten berpeluang langsung naik ke level elite pelatnas.
Sebaliknya, pemain senior yang dinilai stagnan juga berpotensi kehilangan tempat.
Langkah itu disebut menjadi bagian dari upaya regenerasi sekaligus mempercepat kebangkitan bulu tangkis Indonesia di level dunia.
PBSI Akui Bertanggung Jawab atas Hasil Buruk
Dalam konferensi pers tersebut, Taufik juga menegaskan bahwa tanggung jawab atas kegagalan Indonesia tidak hanya dibebankan kepada atlet.
Menurut dia, seluruh elemen di PBSI harus ikut bertanggung jawab, mulai dari pengurus, pelatih, hingga sistem pembinaan nasional.
“Kita semua harus bertanggung jawab. Nggak hanya pemain atau pelatih saja,” ujarnya.
Ia berharap seluruh pihak memiliki visi yang sama untuk mengembalikan dominasi Indonesia di dunia bulu tangkis.
“Yang pasti kita butuh kerja tim yang sama. Kalau memang bisa sama-sama dan teamwork berjalan, ayo kita sama-sama,” pungkasnya.
Tekanan Besar Jelang Olimpiade dan Turnamen Dunia
Evaluasi besar PBSI diperkirakan menjadi awal perubahan besar menuju siklus baru bulu tangkis Indonesia. Terlebih, sejumlah agenda penting sudah menanti dalam dua tahun ke depan, termasuk persiapan menuju Olimpiade.
Kegagalan di Thomas Cup 2026 juga menjadi sinyal bahwa dominasi bulu tangkis Indonesia kini semakin terancam oleh kekuatan baru dunia seperti China, Jepang, Korea Selatan, hingga India.
PBSI pun dituntut bergerak cepat agar keterpurukan ini tidak berkepanjangan dan kepercayaan publik terhadap tim Merah Putih tetap terjaga. (*)
Editor : Ali Sodiqin