Peta kekuatan olahraga di Banyuwangi mulai dipetakan. Sebanyak 35 cabang olahraga (cabor) anggota KONI Banyuwangi “adu rapor” prestasi dalam forum presentasi dan verifikasi selama dua hari hingga Rabu (6/5). Hasilnya tak sekadar evaluasi, tetapi juga menjadi penentu utama besaran anggaran pembinaan tahun depan.
RADARBANYUWANGI.ID - Kegiatan yang digelar di kantor KONI Banyuwangi itu menjadi momen krusial bagi seluruh cabor. Masing-masing perwakilan memaparkan capaian selama setahun terakhir di hadapan pengurus cabor lain dan tim verifikator KONI.
Materi yang disajikan tidak sekadar formalitas. Mulai dari laporan kegiatan, jumlah klub binaan, hingga torehan prestasi atlet di berbagai ajang dipresentasikan secara rinci. Transparansi ini menjadi kunci untuk mengukur sejauh mana efektivitas pembinaan yang dilakukan masing-masing cabor.
Ketua Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Banyuwangi, Kompol Basori Alwi, menyebut forum ini sebagai ajang pertanggungjawaban sekaligus evaluasi terbuka.
“Kita laporkan semua yang diikuti dan dilakukan cabor selama setahun. Termasuk jumlah klub yang kita miliki,” ujarnya.
Tak berhenti pada presentasi, setiap data yang disampaikan akan diuji ketat. Sekretaris KONI Banyuwangi, Supriyanto, menegaskan seluruh berkas pendukung akan diverifikasi untuk memastikan kesesuaian antara laporan dan fakta di lapangan.
“Ada 35 cabor yang ikut. Kita bagi dalam dua hari. Yang tidak hadir di hari pertama kita beri waktu presentasi di hari kedua,” jelasnya.
Proses verifikasi ini menjadi filter penting sebelum KONI menetapkan kebijakan strategis. Terutama dalam menentukan alokasi anggaran pembinaan yang selama ini menjadi perhatian utama tiap cabor.
Menariknya, tahun ini KONI Banyuwangi mengubah komposisi penilaian. Jika sebelumnya aktivitas kegiatan menjadi indikator utama, kini prestasi atlet justru menjadi faktor paling dominan.
Bobot penilaian ditetapkan dengan komposisi: prestasi 50 persen, kegiatan 40 persen, dan jumlah klub 10 persen. Perubahan ini menegaskan arah kebijakan KONI yang lebih berorientasi pada hasil nyata di arena kompetisi.
“Tahun sebelumnya persentase tertinggi ada pada kegiatan, tahun ini poin prestasi yang paling tinggi,” tegas Supriyanto.
Kebijakan tersebut diyakini akan memacu cabor untuk lebih fokus mencetak atlet berprestasi, bukan sekadar aktif menggelar kegiatan. Dengan sistem ini, cabor yang mampu menyumbang prestasi akan memiliki peluang lebih besar mendapatkan dukungan anggaran.
Melalui verifikasi ini, KONI Banyuwangi tidak hanya melakukan evaluasi tahunan, tetapi juga menegaskan standar baru dalam pembinaan olahraga daerah: prestasi sebagai tolok ukur utama.
Dengan sistem penilaian baru berbasis prestasi, persaingan antar-cabor dipastikan semakin ketat. Bukan hanya aktif, tetapi harus produktif melahirkan juara. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin