Start Buruk Audi di F1 2026 Jadi Sorotan, Masalah Turbo Diduga Akar Keterlambatan Performa di Lap Pembuka

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 14 April 2026 | 06:15 WIB
Audi menghadapi krisis start di Formula 1 2026 setelah kehilangan banyak posisi di lap pembuka. (Audi F1)
Audi menghadapi krisis start di Formula 1 2026 setelah kehilangan banyak posisi di lap pembuka. (Audi F1)

RADARBANYUWANGI.ID - Tim Audi tengah menjadi sorotan pada awal musim Formula 1 2026 akibat performa start yang konsisten buruk. Berbanding terbalik dengan Ferrari yang dinilai memiliki start terbaik saat ini, Audi justru kerap kehilangan posisi secara signifikan sejak lampu start padam.

Pebalap Audi, Gabriel Bortoleto, secara terbuka mengkritik performa timnya usai balapan di Jepang. Ia menyebut start mobil Audi sebagai “mengerikan” setelah dirinya dan rekan setimnya, Nico Hulkenberg, kehilangan total 10 posisi pada lap pertama.

“Kami bisa sedikit membaik, tetapi dalam jangka pendek tidak akan menyamai Ferrari. Ini sangat sulit,” ujar Bortoleto, dikutip The Race.

Data awal musim menunjukkan bahwa masalah Audi bukan insiden tunggal. Dari beberapa balapan yang telah berlangsung, kedua pebalap Audi rata-rata kehilangan empat posisi pada lap pembuka. Bahkan, hanya sekali mereka mampu mengakhiri lap pertama dengan posisi lebih baik dari start awal.

Fenomena ini menegaskan bahwa persoalan bukan terletak pada individu pebalap, melainkan pada karakteristik mobil itu sendiri. Hulkenberg pun mengakui tren negatif tersebut mulai mengkhawatirkan.

“Ini jelas sudah menjadi pola,” kata Hulkenberg.

Analisis teknis mengarah pada satu faktor utama: desain turbo. Regulasi baru musim ini yang menghapus MGU-H serta membatasi peran MGU-K pada kecepatan rendah membuat proses start menjadi jauh lebih kompleks.

Dalam kondisi ini, tim harus mampu menjaga putaran turbo pada titik optimal sebelum start. Ferrari disebut unggul karena menggunakan turbo berukuran lebih kecil, yang lebih mudah mencapai putaran ideal.

Sebaliknya, Audi diduga mengambil pendekatan berbeda dengan memilih turbo berukuran lebih besar, bahkan disebut sebagai yang terbesar di grid. Keputusan ini memang berpotensi memberikan tenaga lebih besar saat mobil sudah melaju, tetapi menjadi kelemahan signifikan saat start.

“Saya pikir ada tim yang mengembangkan mobil dengan cara berbeda untuk mendapatkan start yang lebih baik. Kami tidak menyangka akan sesulit ini,” jelas Bortoleto.

Masalah ini dipastikan tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Meski latihan dan pengalaman dapat membantu mengurangi kerugian posisi, solusi mendasar kemungkinan memerlukan perubahan desain yang kompleks.

Pimpinan proyek F1 Audi, Mattia Binotto, mengakui bahwa isu start kini menjadi prioritas utama tim.

“Ini jelas bukan kekuatan kami saat ini. Tidak ada solusi yang langsung terlihat, tetapi kami tahu ini harus menjadi fokus utama,” ujar Binotto.

Ia menambahkan bahwa performa kualifikasi yang cukup baik menjadi sia-sia jika posisi hilang di awal balapan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : The Race
formula 1 audi f1