Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Fernando Alonso: Rahasia Kehebatan Pembalap F1 yang Tetap Bersinar Meski 13 Tahun Tanpa Kemenangan

Lugas Rumpakaadi • Selasa, 14 April 2026 | 03:15 WIB
Fernando Alonso tetap bersinar di Formula 1 meski tanpa kemenangan selama 13 tahun. (F1)
Fernando Alonso tetap bersinar di Formula 1 meski tanpa kemenangan selama 13 tahun. (F1)

RADARBANYUWANGI.ID - Pembalap veteran Fernando Alonso kembali menjadi sorotan di dunia Formula 1, bukan karena kemenangan terbaru, melainkan konsistensinya yang nyaris tak tergoyahkan meski telah melewati lebih dari satu dekade tanpa gelar juara.

Di usia 44 tahun dan dengan lebih dari 400 start grand prix, Alonso tetap mampu tampil menonjol di tengah persaingan ketat, bahkan ketika tidak didukung mobil kompetitif. Fenomena ini menjadikannya salah satu sosok paling unik dalam sejarah F1 modern.

Kemenangan terakhirnya terjadi pada Grand Prix Spanyol 2013. Sejak saat itu, ia lebih sering mengendarai mobil papan tengah hingga belakang, kecuali musim 2023 bersama Aston Martin F1 Team yang sempat memberinya peluang naik podium.

Pengamat F1 Mark Hughes dan Edd Straw mencoba mengurai rahasia di balik performa luar biasa Alonso melalui analisis mendalam.

Hughes menggambarkan koordinasi Alonso sebagai sesuatu yang nyaris artistik.

"Dia memiliki koordinasi luar biasa antara setir dan throttle. Seolah-olah dia sedang menari di antara keduanya," ujar Hughes, dikutip The Race.

Ia juga menyoroti kemampuan Alonso mengatasi mobil yang sulit dikendalikan.

"Dia bisa sangat ‘brutal’ terhadap mobil, tetapi hanya saat dibutuhkan. Dia memaksakan mobil yang sulit berbelok untuk tetap mengikuti keinginannya."

Sementara itu, Straw menekankan betapa ekstremnya gaya mengemudi Alonso yang tetap stabil dari waktu ke waktu.

"Gaya mengemudinya itu gila. Sangat sulit berada di batas seperti itu secara konsisten, tetapi dia melakukannya tanpa sering melakukan kesalahan."

Salah satu kunci utama Alonso adalah sensitivitas tinggi terhadap bagian depan mobil, terutama ban depan dan respons setir.

"Jika dia tidak merasakan bagian depan mobil, dia menganggap dirinya ‘mati’," jelas Straw.

Meski dikenal sebagai pembalap reaktif, Alonso mampu merespons sinyal dari mobil dengan sangat cepat, sehingga tampak seperti pembalap proaktif. Kombinasi ini jarang dimiliki pembalap lain.

Karier Alonso sendiri mencapai puncak saat membawa Renault F1 Team meraih dua gelar juara dunia berturut-turut pada pertengahan 2000-an. Namun, kemampuan adaptasinya justru semakin terlihat ketika ia berpindah tim dan menghadapi karakter mobil yang berbeda-beda.

"Dia selalu menemukan cara. Bahkan ketika mobil tidak memiliki ‘front end’, dia tetap bisa menciptakan rasa yang dibutuhkannya," tambahnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#formula 1 #fernando alonso #f1