Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dari Ojol hingga Pensiunan, Sasak Perot Banyuwangi Jadi Surga Pecatur dan Arena Sparing Lintas Generasi

M Ksatria Raya • Minggu, 12 April 2026 | 13:30 WIB
JADI AJANG SILATURAHMI: Pengemudi ojol, PNS, hingga pensiunan polisi duduk setara di depan papan catur Sasak Perot, Kelurahan Bakungan, Glagah dengan tujuan menikmati permainan. (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)
JADI AJANG SILATURAHMI: Pengemudi ojol, PNS, hingga pensiunan polisi duduk setara di depan papan catur Sasak Perot, Kelurahan Bakungan, Glagah dengan tujuan menikmati permainan. (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Kawasan Sasak Perot di Banyuwangi bukan sekadar jembatan biasa.

Sejak 2006, tempat ini menjelma menjadi ruang berkumpul para pecinta catur dari berbagai latar belakang, mulai dari pengemudi ojek online hingga pensiunan.

Di sudut jembatan yang berada di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah itu, suasana tak pernah benar-benar sepi.

Dari pagi hingga menjelang magrib, papan-papan catur yang menyatu dengan meja di samping warung kopi selalu terisi. Obrolan santai, kopi hangat, dan gorengan menjadi teman setia setiap pertandingan.

Lahir dari Inisiatif Komunitas

Aktivitas catur di Sasak Perot dipelopori oleh Yusuf Widisono. Ia mengungkapkan bahwa cikal bakal komunitas ini bermula dari kebutuhan membentuk klub sebagai syarat kepengurusan Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Banyuwangi.

“Dulu saya diminta membentuk klub sebagai syarat kepengurusan Percasi Banyuwangi, dari situlah lahir klub catur Sasak Perot ini,” ujarnya.

Seiring waktu, komunitas tersebut berkembang dan tetap eksis hingga kini.

Klub catur Sasak Perot bahkan memiliki sekitar 16 anggota aktif, dengan rentang usia yang didominasi kalangan lanjut usia.

Dari Senior hingga Pelajar

Menariknya, meskipun sebagian besar anggota merupakan pecatur senior—bahkan ada yang berusia hingga 68 tahun—semangat mereka dalam bermain catur tidak pernah surut.

Konsentrasi dan strategi yang ditunjukkan saat bermain pun tak kalah dengan atlet profesional.

Tidak hanya anggota klub, lokasi ini juga menjadi magnet bagi pecatur dari berbagai wilayah di Banyuwangi.

Mereka datang untuk bermain santai, berlatih, atau sekadar mengasah kemampuan.

“Tidak hanya anggota klub Sasak Perot saja, banyak juga pemain dari luar yang datang ke sini. Hampir setiap hari selalu ramai,” tambah Yusuf.

Arena Sparing Lintas Profesi

Keunikan lain dari Sasak Perot adalah keberagaman latar belakang para pemainnya. Di tempat ini, semua duduk setara di depan papan catur.

Mulai dari pengemudi ojek online, pegawai negeri sipil, hingga pensiunan aparat kepolisian, semuanya melebur dalam satu tujuan: menikmati permainan sekaligus mengasah strategi.

Hal ini menjadikan Sasak Perot sebagai arena sparing terbuka bagi siapa saja, tanpa batas usia maupun profesi.

Pelajar Asah Jam Terbang

Selain menjadi ruang komunitas, Sasak Perot juga dimanfaatkan oleh pelajar untuk meningkatkan kemampuan mereka.

Banyak siswa yang mengikuti kejuaraan tingkat kabupaten hingga provinsi rutin berlatih di tempat ini.

Biasanya, mereka datang sepulang sekolah untuk menambah jam terbang sebelum bertanding di ajang resmi.

“Anak-anak yang ikut Kejurkab atau Kejurprov sering latihan di sini untuk menambah menit bermain,” jelas Yusuf.

Lebih dari Sekadar Tempat Bermain

Seiring berjalannya waktu, Sasak Perot tidak hanya menjadi tempat bermain catur, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan berbagai generasi.

Di tengah kesederhanaannya, kawasan ini menjadi simbol kebersamaan, persahabatan, dan kecintaan terhadap olahraga catur.

Pengurus Catur Bersaudara Banyuwangi, Rohman, menyebut komunitas seperti Sasak Perot memiliki peran penting dalam menjaga eksistensi olahraga catur di daerah.

“Kami rutin mengadakan kegiatan silaturahmi antaranggota klub catur di Banyuwangi,” ujarnya.

Menjaga Tradisi di Tengah Modernisasi

Di era digital saat ini, keberadaan ruang-ruang interaksi seperti Sasak Perot menjadi semakin penting.

Tidak hanya sebagai tempat bermain, tetapi juga sebagai wadah mempererat hubungan sosial dan menjaga tradisi.

Sasak Perot membuktikan bahwa permainan klasik seperti catur tetap memiliki tempat di hati masyarakat.

Bahkan, mampu menyatukan berbagai kalangan dalam satu papan permainan yang sama. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#catur Sasak Perot #komunitas catur Banyuwangi #Percasi Banyuwangi #tempat sparing catur #pecatur lintas generasi