RADARBANYUWANGI.ID - Kritik terhadap regulasi baru era 2026 di Formula 1 kembali mencuat menyusul insiden serius pada Grand Prix Jepang di Sirkuit Suzuka. Perubahan sistem tenaga yang diperkenalkan sebagai bagian dari transformasi teknis dinilai belum sepenuhnya matang dan justru menghadirkan risiko baru di lintasan.
Sorotan tajam datang dari Martin Brundle yang mendesak FIA untuk segera mengambil langkah tegas. Ia menilai sistem distribusi tenaga saat ini memiliki kelemahan mendasar yang berpotensi membahayakan keselamatan pembalap.
Insiden yang memicu kekhawatiran ini melibatkan Ollie Bearman di Sirkuit Suzuka. Dalam situasi balapan, Bearman harus melakukan manuver menghindar saat mendekati mobil di depannya dengan kecepatan tinggi. Upaya tersebut berujung pada kecelakaan setelah ia kehilangan kendali.
Brundle menjelaskan bahwa situasi seperti ini bukan hal baru di dunia balap, namun kompleksitas sistem energi modern membuatnya jauh lebih sulit diprediksi. Perbedaan kecepatan ekstrem akibat manajemen energi menciptakan kondisi yang berbahaya, terutama ketika mobil di depan tiba-tiba melambat tanpa indikasi yang jelas.
Dalam analisisnya, Brundle juga menyoroti peran Franco Colapinto dalam insiden tersebut. Ia menilai tidak ada unsur kesengajaan, melainkan situasi teknis yang membingungkan pembalap. Mobil yang sedang dalam fase pengumpulan energi dapat kehilangan akselerasi secara mendadak, sehingga sulit diantisipasi oleh pembalap di belakang.
Fenomena ini berbeda dibandingkan dengan era sebelumnya, ketika gangguan mesin biasanya disertai tanda visual atau suara yang dapat menjadi peringatan dini. Kini, perubahan kecepatan bisa terjadi tanpa sinyal yang mudah dikenali, meningkatkan potensi kecelakaan dalam kondisi balapan yang intens.
Lebih lanjut, Brundle menegaskan bahwa prinsip dasar dalam balap harus tetap dijaga: pembalap harus memiliki kendali penuh atas mobilnya. Ia mengkritik bahwa sistem distribusi tenaga saat ini tidak selalu sejalan dengan input pedal gas, sehingga menciptakan ketidaksesuaian antara aksi pembalap dan respons mobil.
Menurutnya, penyaluran tenaga seharusnya bersifat linier dan dapat diprediksi. Ketidakpastian dalam respons tenaga dinilai sebagai salah satu kelemahan terbesar dari regulasi baru. Ia bahkan menekankan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan teknis.
Brundle mengingatkan bahwa jika FIA tidak segera bertindak, risiko insiden yang lebih besar dapat terjadi. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem tenaga menjadi krusial untuk menjaga keseimbangan antara performa dan keselamatan.
Dengan tekanan yang terus meningkat dari berbagai pihak, masa depan regulasi 2026 kini berada di bawah sorotan. Tanpa perbaikan, sistem ini berpotensi menjadi sumber kontroversi sepanjang musim, sekaligus mengancam integritas dan keselamatan olahraga balap paling bergengsi di dunia.
Editor : Lugas Rumpakaadi