RADARBANYUWANGI.ID - Formula 1 (F1) tengah mengkaji perubahan besar pada regulasi aerodinamika aktif (active aero) sebagai solusi atas dua isu krusial, keselamatan dan kualitas sesi kualifikasi. Wacana ini mencuat menjelang pertemuan penting antara pimpinan F1, tim, serta pabrikan unit daya pada 9 April mendatang.
Isu keselamatan menjadi prioritas utama setelah insiden kecelakaan berkecepatan tinggi yang melibatkan Oliver Bearman pada ajang Grand Prix Jepang. Perbedaan kecepatan ekstrem hingga 50 km/jam antara mobil yang sedang mengisi ulang energi dan mobil yang menggunakan boost dinilai berbahaya.
“Perbedaan kecepatan yang signifikan telah menjadi perhatian sejak sebelum musim dimulai,” demikian disebutkan dalam laporan internal, dikutip The Race.
Insiden yang juga melibatkan Franco Colapinto itu memperlihatkan risiko besar ketika strategi energi tidak sinkron di lintasan.
Di sisi lain, kualitas sesi kualifikasi juga mendapat sorotan. Selama ini, pembalap harus mengelola energi alih-alih melaju maksimal sepanjang lap. Kondisi tersebut dianggap tidak mencerminkan esensi balap F1 sebagai puncak olahraga otomotif.
Selain itu, fenomena penurunan kecepatan drastis di akhir lintasan lurus, yang bisa mencapai 50 kilometer per jam, dinilai merusak daya tarik visual bagi penonton.
Sebagai solusi, sejumlah opsi teknis tengah dibahas. Salah satunya adalah mengurangi tingkat penggunaan energi dari 350 kW menjadi sekitar 200 kW agar distribusi tenaga lebih merata sepanjang lintasan lurus. Namun, hasil simulasi awal menunjukkan dampaknya masih terbatas.
Alternatif lain adalah menurunkan batas pemulihan energi (energy harvesting) per lap, dari 9 MJ menjadi sekitar 6 MJ. Langkah ini diyakini dapat mengurangi kebutuhan akan teknik “lift-and-coast” yang selama ini menyebabkan perbedaan kecepatan ekstrem.
Namun demikian, pendekatan ini membawa konsekuensi berupa peningkatan waktu putaran hingga dua detik dan penurunan kecepatan mobil di lintasan lurus.
Untuk mengatasi hal tersebut, muncul ide untuk meningkatkan aliran bahan bakar saat kualifikasi. Sayangnya, opsi ini dinilai sulit diterapkan dalam waktu dekat karena berpotensi memengaruhi keandalan mesin yang telah dirancang sesuai regulasi saat ini.
Dalam konteks inilah, konsep active aero kembali menjadi sorotan. Teknologi ini memungkinkan pengurangan hambatan udara (drag) secara signifikan, hingga 25–40 persen, yang dapat meningkatkan akselerasi sekaligus mengurangi kebutuhan energi baterai.
Saat ini, mode aerodinamika rendah hambatan hanya digunakan di bagian tertentu dari lintasan. Namun, studi terbaru membuka kemungkinan penggunaan yang lebih luas, bahkan di tikungan cepat seperti 130R di Suzuka.
“Active aero bisa menjadi alat kunci untuk meningkatkan performa sekaligus mengurangi kompleksitas manajemen energi,” ungkap salah satu sumber teknis.
Jika aturan ini dilonggarkan, tim dapat mengembangkan strategi berbeda, mulai dari mode tanpa downforce hingga kompromi aerodinamika yang memungkinkan penggunaan di tikungan cepat.
Keputusan final terkait perubahan ini diperkirakan akan menjadi salah satu hasil penting dari pertemuan 9 April yang dapat menentukan arah masa depan kualifikasi dan keselamatan di Formula 1.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : The Race