RADARBANYUWANGI.ID - Awal musim 2026 Formula 1 menjadi periode yang tidak mudah bagi Max Verstappen. Juara dunia empat kali itu kini tercecer di posisi kesembilan klasemen sementara dengan raihan 12 poin setelah tiga seri berlangsung.
Performa mobil Red Bull RB22 yang belum kompetitif, ditambah dengan regulasi baru terkait manajemen energi, menjadi sumber utama kekecewaan pembalap asal Belanda tersebut. Kondisi itu semakin terasa saat gelaran Japanese Grand Prix 2026 di Sirkuit Suzuka.
Verstappen mengungkapkan bahwa karakter lintasan Suzuka yang selama ini ia sukai kini berubah akibat aturan baru.
“Masih lintasan yang indah, tapi sekarang tidak lagi senyaman untuk dikendarai. Ini bukan Suzuka seperti yang dulu,” ujarnya, dikutip Motorsport.
Salah satu masalah utama adalah keterbatasan penggunaan energi baterai yang membuat strategi menyalip menjadi tidak efektif. Ia bahkan mengaku kesulitan melewati mobil Pierre Gasly sepanjang balapan.
“Kami sedikit lebih cepat per lap, tapi Anda tidak bisa menyalip. Kalau memaksa, baterai habis di lintasan lurus berikutnya,” kata Verstappen.
Menurut Verstappen, regulasi baru F1 2026 justru membuat pembalap harus mengemudi dengan cara yang tidak intuitif, bahkan cenderung bertolak belakang dengan naluri balap.
“Untuk bisa lebih cepat di kualifikasi, Anda justru harus melambat, mengurangi throttle. Itu bukan cara yang seharusnya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kompleksitas aturan yang membuat pembalap harus terus menyesuaikan penggunaan energi secara sangat presisi.
Balapan di Suzuka turut diwarnai kecelakaan besar yang melibatkan Oliver Bearman. Pembalap Haas itu mengalami benturan hingga 50G setelah mendekati mobil Franco Colapinto dengan selisih kecepatan signifikan.
Verstappen menilai perbedaan kecepatan akibat sistem energi baru sangat berbahaya.
“Satu mobil bisa kehilangan tenaga, sementara yang lain menggunakan mode penuh. Selisihnya bisa 50 hingga 60 kilometer per jam. Itu sangat besar,” jelasnya.
Ia juga menyindir kemungkinan penggunaan alasan keselamatan oleh FIA untuk mendorong perubahan regulasi.
“Kalau soal ‘keselamatan’, banyak hal bisa diubah. Mungkin kita harus menggunakan kata itu agar perubahan benar-benar terjadi,” ucapnya dengan nada sarkastik.
Selain masalah regulasi, Verstappen mengakui mobil RB22 masih memiliki banyak kekurangan, terutama dalam stabilitas dan pemahaman paket teknis baru.
“Kami harus memahami paket baru ini. Di sini terasa tidak bekerja dengan baik dan cukup sulit dikendalikan,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan tim masih memiliki banyak pekerjaan selama jeda kompetisi untuk memperbaiki performa.
Di tengah situasi sulit ini, Verstappen juga mengisyaratkan bahwa masa depannya di Formula 1 dapat dipengaruhi oleh arah perkembangan regulasi.
“Setiap hari saya bangun dan mencoba meyakinkan diri sendiri untuk tetap termotivasi,” tuturnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi