RADARBANYUWANGI.ID - Pembalap andalan Red Bull, Max Verstappen, tengah menghadapi periode krusial yang dapat menentukan masa depannya di ajang Formula 1 (F1). Memasuki jeda tak terencana pada bulan April, Verstappen mengisyaratkan bahwa beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu apakah ia tetap bertahan atau justru mengambil langkah mengejutkan.
Isu mengenai kemungkinan hengkangnya juara dunia empat kali itu semakin menguat setelah ia secara terbuka mengkritik regulasi mesin baru F1 yang akan berlaku mulai 2026. Sistem baru yang mengedepankan keseimbangan antara mesin pembakaran internal dan tenaga listrik dinilai tidak sesuai dengan preferensinya sebagai pembalap.
Dalam wawancara usai balapan Grand Prix Jepang di Sirkuit Suzuka, Minggu (29/3/2026), Verstappen tidak menampik kemungkinan untuk meninggalkan F1 lebih cepat dari kontraknya yang berlaku hingga 2028.
“Saya sedang memikirkan segalanya di dalam paddock ini,” ujar Verstappen, dikutip The Race.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh laporan media Belanda yang menyebutkan bahwa Verstappen kini secara serius mempertimbangkan untuk mundur dari F1.
Perubahan sikap Verstappen terlihat jelas sepanjang akhir pekan di Suzuka. Jika sebelumnya hanya berupa isyarat halus, kini ia mulai menyampaikan keraguan secara lebih terbuka. Bahkan, ayahnya, Jos Verstappen, mengungkapkan kekhawatiran bahwa putranya bisa kehilangan motivasi.
Dalam salah satu momen pascabalapan, Verstappen mengakui bahwa ia harus terus meyakinkan dirinya untuk tetap berkompetisi.
“Setiap hari saya bangun, saya meyakinkan diri lagi. Dan saya mencoba,” katanya.
Pernyataan ini mencerminkan tekanan mental yang tengah ia rasakan, terutama di tengah performa Red Bull yang belum konsisten musim ini.
Salah satu sumber utama ketidakpuasan Verstappen adalah regulasi mesin 2026. Ia secara terbuka mengkritik sistem manajemen energi yang kompleks, bahkan menyamakannya dengan “mode jamur” dalam gim Mario Kart karena perbedaan kecepatan akibat kondisi baterai.
Selain itu, posisi Verstappen di klasemen sementara juga belum menguntungkan. Ia masih tertahan di posisi kesembilan, jauh dari persaingan papan atas yang kini didominasi oleh pembalap seperti George Russell.
Kondisi ini membuka peluang bagi Verstappen untuk mengaktifkan klausul keluar dalam kontraknya bersama Red Bull, yang memungkinkan ia hengkang jika gagal menembus posisi dua besar dalam periode tertentu musim ini.
Meski demikian, Verstappen tidak harus langsung mengakhiri kariernya di F1 secara permanen. Opsi untuk mengambil jeda sementara (sabbatical) juga terbuka lebar, terutama mengingat minatnya terhadap berbagai ajang balap lain di luar F1.
Dalam wawancara yang sama, ia juga menyinggung faktor kehidupan pribadi sebagai pertimbangan penting.
“Apakah ini sepadan? Atau saya lebih menikmati waktu di rumah bersama keluarga?” ungkapnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi