RADARBANYUWANGI.ID – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan putra daerah Banyuwangi di kancah sepak bola nasional. Fuad Qohar sukses meraih penghargaan bergengsi sebagai Asisten Wasit Terbaik dari PSSI pada ajang penghargaan tahun ini.
Capaian tersebut menjadi bukti konsistensi dan dedikasi Fuad dalam dunia perwasitan yang telah ia tekuni sejak dua dekade terakhir. Di tengah dominasi anak muda yang lebih memilih menjadi pemain, Fuad justru memilih jalur berbeda: menjadi pengadil di lapangan hijau.
Perjalanan karier pria 38 tahun itu dimulai dari level paling bawah. Ia mengawali kiprahnya sebagai wasit lisensi C3 kabupaten pada 2005, dengan memimpin pertandingan antarkampung (tarkam) di Lapangan Barurejo.
“Saya mulai dari tarkam. Dari situ belajar banyak tentang bagaimana memimpin pertandingan dengan baik,” ujarnya saat dihubungi, kemarin (30/3).
Pilihan menjadi wasit bukan tanpa tantangan. Di tengah minimnya minat generasi muda terhadap profesi tersebut, Fuad tetap teguh pada pilihannya. Ia mengaku mendapat dorongan kuat dari sang ayah, almarhum Nur Hamim, untuk terus menekuni dunia perwasitan.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Pada 2008, Fuad mulai menembus level nasional. Tiga tahun berselang, ia dipercaya memimpin pertandingan di kompetisi kasta tertinggi saat itu, Indonesia Super League (ISL), yang kini dikenal sebagai Liga 1 Indonesia.
Kariernya terus menanjak. Pada 2015, Fuad mencapai level internasional dengan menyandang lisensi wasit FIFA dan memimpin sejumlah pertandingan kelompok umur di ajang internasional.
Meski sempat pensiun dari level internasional, Fuad tetap aktif sebagai asisten wasit di kompetisi domestik hingga saat ini. Konsistensinya inilah yang akhirnya mengantarkannya meraih penghargaan Asisten Wasit Terbaik PSSI.
“Ini penghargaan pertama bagi saya. Rasanya bangga sekali bisa menjadi bagian dari awarding ini,” ungkap ayah dua anak tersebut.
Selain berkarier sebagai wasit, Fuad juga mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik. Ia tercatat sebagai ASN PPPK guru olahraga di SMAN 1 Srono. Dukungan keluarga dan lingkungan kerja disebutnya menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi kariernya.
“Sekolah sangat mendukung sejak saya masih GTT hingga sekarang. Begitu juga keluarga, terutama istri saya,” ujarnya.
Dalam ajang penghargaan tersebut, Fuad bersanding dengan sejumlah nama besar sepak bola nasional seperti Jay Idzes, Rizky Ridho, dan Thoriq Alkatiri.
Meski telah mencapai puncak karier, Fuad tidak berhenti untuk berbagi. Ia bertekad menularkan pengalaman dan memotivasi generasi muda Banyuwangi agar berani menekuni profesi wasit.
Menurutnya, peluang karier wasit justru lebih panjang dibanding pemain sepak bola. Jika pemain biasanya mengalami penurunan performa di usia 30-an, wasit masih bisa aktif hingga usia 40-an.
“Potensi wasit di Banyuwangi sangat besar. Tinggal bagaimana konsistensi dan kemauan untuk menekuni profesi ini,” tegasnya.
Fuad pun berharap ke depan akan lahir lebih banyak wasit dari Banyuwangi, bahkan Indonesia, yang mampu menembus level internasional hingga memimpin pertandingan di ajang bergengsi seperti Piala Dunia.
“Kalau saya mungkin sudah cukup di sini. Tapi saya berharap adik-adik bisa melanjutkan hingga ke level dunia,” pungkasnya. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin