RADARBANYUWANGI.ID - Bos Mercedes, Toto Wolff, memberikan pujian terhadap perkembangan pesat pembalap muda Kimi Antonelli usai meraih kemenangan keduanya secara beruntun pada F1 Grand Prix Jepang di Sirkuit Suzuka, Minggu (29/3/2026). Namun, ia juga menyoroti kelemahan tim dalam fase start yang dinilai masih jauh dari ideal.
Antonelli yang memulai balapan dari pole position justru mengalami start yang kurang mulus. Ia kehilangan beberapa posisi hingga turun ke urutan keenam setelah lampu start padam. Rekan setimnya, George Russell, juga mengalami situasi serupa di awal lomba.
Meski demikian, situasi balapan berubah drastis setelah insiden yang melibatkan pembalap Haas, Ollie Bearman, memicu keluarnya Safety Car. Momentum tersebut dimanfaatkan Antonelli dengan sempurna setelah melakukan pit stop di waktu yang tepat dan kembali ke lintasan sebagai pemimpin lomba.
Ia kemudian mempertahankan posisinya hingga garis finis dengan keunggulan lebih dari 13 detik atas pembalap McLaren, Oscar Piastri. Sementara itu, Russell harus puas finis di posisi keempat setelah menghadapi berbagai kendala sepanjang balapan.
Kemenangan ini membuat Antonelli memuncaki klasemen sementara Kejuaraan Dunia Pembalap Formula 1, sekaligus mencatatkan dirinya sebagai pembalap termuda yang pernah mencapai posisi tersebut.
Meski puas dengan hasil akhir, Wolff tidak menutupi kekhawatirannya terhadap performa start timnya. Ia menyebut bahwa awal balapan Antonelli sebagai sesuatu yang “gagal total”.
“Ya, benar sekali. Start yang gagal; para pembalap muda ini belajar mengemudi dengan mobil otomatis, jadi kami perlu mengajari mereka cara melepas kopling, perlahan, stabil, dan tidak terlalu cepat,” ujar Wolff, dikutip F1.
Ia juga menambahkan bahwa masalah tersebut bukan hanya berasal dari pembalap, tetapi juga dari paket mobil yang belum optimal.
“Saya sempat berpikir, ‘Jangan lagi’. Kami tidak memberi mereka alat yang paling mudah, jadi start kami cenderung biasa saja dan perlu ditingkatkan,” lanjutnya.
Terlepas dari start yang buruk, Antonelli mampu menunjukkan kecepatan dan ketenangan dalam momen krusial. Strategi memperpanjang stint satu lap terbukti menjadi faktor penentu kemenangan.
Wolff menilai bahwa performa Antonelli pada saat-saat penting menjadi pembeda utama.
“Di momen yang penting, dia sangat cepat dan mencatat waktu putaran yang sempurna. Itu yang membuat perbedaan,” jelas Wolff.
Sebaliknya, Russell dinilai kurang beruntung setelah perubahan set-up mobil sebelum sesi kualifikasi berdampak negatif pada performanya sepanjang akhir pekan.
Antonelli sendiri merupakan bagian dari program junior Mercedes sejak 2018. Wolff mengaku terkesan dengan perkembangan pesat pembalap asal Italia tersebut.
“Rasanya seperti baru kemarin dia masih anak-anak. Sekarang dia 19 tahun, sudah memenangkan dua balapan berturut-turut di Formula 1,” kata Wolff.
Ia bahkan mengenang momen pertama kali Antonelli datang ke markas tim.
“Saat pertama datang, James Allison mengira dia anak kecil yang tersesat mencari orang tuanya,” ujarnya sambil tersenyum.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : F1