Saat itu, Salah dipandang sebagai opsi lini serang yang cukup baik, tidak lebih. Namun, apa yang terjadi dalam sembilan tahun kariernya di Anfield justru melampaui semua ekspektasi.
Kini, di usia 33 tahun, Salah mengumumkan akan meninggalkan Liverpool pada akhir musim. Ia pergi sebagai salah satu pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub, peraih berbagai trofi bergengsi, serta sosok yang diakui sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah menghiasi Premier League.
Lebih dari Sekadar Statistik
Di balik angka-angka impresif, ada faktor lain yang membuat Salah begitu istimewa, hubungan emosionalnya dengan kota Liverpool dan para pendukungnya.
Ia tidak hanya menjadi bintang di lapangan, tetapi juga simbol kebanggaan komunitas. Julukan “Raja Mesir” bukan sekadar label, melainkan representasi dari kedekatan yang terjalin antara pemain dan suporter.
“Liverpool bukan hanya klub sepak bola. Ini adalah gairah, sejarah, dan jiwa,” ujar Salah dalam pesan perpisahannya.
Pilar Era Keemasan Klopp
Di bawah asuhan Jürgen Klopp, Salah berkembang menjadi ikon utama dalam era kejayaan modern Liverpool. Ia menjadi pusat serangan tim, mencetak gol krusial, menciptakan peluang, dan menentukan hasil pertandingan.
Secara statistik, kontribusinya luar biasa. Ia diperkirakan akan mengakhiri kariernya sebagai pencetak gol terbanyak ketiga Liverpool. Di Premier League, ia telah mencetak 191 gol, menempatkannya di posisi keempat sepanjang masa, di bawah Alan Shearer, Harry Kane, dan Wayne Rooney.
Sejak musim 2017-2018, data menunjukkan dominasi Salah, top skor liga, pencetak assist terbanyak, serta pemain dengan jumlah tembakan tepat sasaran dan peluang terbanyak dari permainan terbuka.
Momen Magis yang Tak Terlupakan
Namun, warisan Salah tidak hanya diukur dari angka. Ia dikenal karena momen-momen magisnya, gol solo spektakuler melawan Manchester City, tendangan jarak jauh ke gawang Chelsea, hingga gol ikonik kontra Everton yang membuatnya meraih FIFA Puskás Award.
Lebih dari itu, ia selalu tampil di momen besar, mencetak gol penting yang membawa Liverpool meraih berbagai trofi, termasuk Liga Champions 2019 dan gelar liga domestik.
Ikatan Emosional dengan Liverpool
Hubungan Salah dengan Liverpool semakin kuat, terutama saat ia dan tim menghadapi masa sulit, termasuk saat berduka atas kepergian rekan setim Diogo Jota. Ia berdiri bersama para penggemar dalam menghadapi masa duka tersebut.
Rekan-rekan setim pun memberikan penghormatan. Joe Gomez menyebutnya sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah mengenakan seragam Liverpool, sementara Trent Alexander-Arnold menyebut perjalanan Salah sebagai “legendaris”.
Perpisahan yang Tak Terelakkan
Meski warisannya tak terbantahkan, perpisahan ini terasa seperti akhir yang sudah lama mendekat. Performa Salah musim ini dinilai menurun, dan sempat terjadi ketegangan dengan manajemen klub setelah ia dicadangkan dalam beberapa laga.
Namun, hubungan tersebut akhirnya membaik. Salah kembali berkontribusi, termasuk mencetak gol ke-50 di Liga Champions untuk Liverpool.
Kini, meski ia akan pergi secara gratis di akhir kontraknya, kenangan tentang kontribusinya akan tetap abadi.
“Kepergian bukanlah hal mudah. Kalian memberi saya masa terbaik dalam hidup saya. Saya akan selalu menjadi bagian dari kalian,” ujar Salah.
Dengan penuh emosi, ia menutup perpisahannya dengan kalimat yang ikonik bagi Liverpool, “Because of all of you, I will never walk alone.” (*)
Editor : Niklaas Andries