Liverpool datang ke Anfield dengan beban kekalahan 0-1 dari laga sebelumnya di Turki. Gol cepat dari Mario Lemina menjadi pembeda dalam pertandingan tersebut, sekaligus memperpanjang catatan buruk mereka atas tim asuhan Okan Buruk.
Anfield dan Tradisi Comeback
Meski tekanan sedang meningkat terhadap pelatih Arne Slot setelah hasil imbang 1-1 melawan Tottenham Hotspur, sejarah Eropa Liverpool memberikan alasan kuat untuk optimistis.
Sebelum musim 2025-2026, Liverpool tercatat mengalami kekalahan satu gol di leg pertama tandang dalam 13 duel fase gugur kompetisi UEFA. Dari jumlah tersebut, mereka berhasil membalikkan keadaan dan lolos dalam sembilan kesempatan.
Catatan ini menegaskan betapa kuatnya faktor Anfield dalam laga-laga Eropa, di mana atmosfer stadion sering menjadi pembeda.
Namun, jika melihat statistik yang lebih baru, performa Liverpool tidak sepenuhnya meyakinkan. Mereka gagal lolos dalam 11 dari 16 kesempatan terakhir setelah kalah di leg pertama tandang dalam kompetisi Eropa.
Lebih spesifik di Liga Champions, Liverpool hanya dua kali berhasil bangkit dari kekalahan leg pertama tandang. Kedua momen itu terjadi di semifinal, yakni saat menyingkirkan Chelsea musim 2006-2007 dan comeback legendaris melawan Barcelona pada musim 2018-2019.
Salah dan Van Dijk Kejar Rekor
Sorotan juga tertuju pada dua pilar utama Liverpool, Mohamed Salah dan Virgil van Dijk, yang berpeluang mencatatkan pencapaian penting.
Salah hanya membutuhkan satu gol lagi untuk mencapai 50 gol di Liga Champions. Jika berhasil, ia akan menjadi pemain Afrika pertama yang mencapai angka tersebut dalam sejarah kompetisi.
Sejauh ini, pemain asal Mesir itu telah mencetak 46 gol untuk Liverpool, serta masing-masing dua gol untuk FC Basel dan satu gol bersama AS Roma di ajang yang sama.
Di sisi lain, Van Dijk tampil impresif musim ini dengan kontribusi lima gol dengan dua gol dan tiga assist di Liga Champions, rekor tertinggi untuk seorang bek tengah Liverpool dalam satu musim.
Catatan tersebut mendekati rekor milik Jerome Boateng yang mencatat enam kontribusi gol bersama Bayern Munich pada musim 2014-2015.
Dengan sejarah comeback yang kuat dan motivasi individu para pemainnya, Liverpool memiliki semua elemen untuk menciptakan malam magis lainnya di Anfield. Namun, konsistensi performa tetap menjadi kunci jika mereka ingin menghindari kegagalan di panggung Eropa. (*)
Editor : Niklaas Andries