Tim juara bertahan tampil tanpa ampun dengan penyelesaian akhir yang sangat klinis, melanjutkan dominasi mereka setelah kemenangan besar pada leg pertama di Parc des Princes. Hasil ini juga menjadi salah satu kekalahan agregat terberat Chelsea di kompetisi Eropa.
Seperti pada pertemuan pertama, skuad asuhan Liam Rosenior kembali dihukum oleh kesalahan sendiri yang fatal, ditambah kualitas individu luar biasa dari para pemain PSG.
Petaka bagi Chelsea dimulai sejak menit keenam. Bek muda Mamadou Sarr yang menjalani debutnya di Liga Champions melakukan kesalahan fatal saat gagal mengontrol bola panjang. Kesalahan itu dimanfaatkan oleh Khvicha Kvaratskhelia untuk mencetak gol pembuka dengan mudah.
Harapan Chelsea praktis sirna hanya delapan menit kemudian. Bradley Barcola yang dibiarkan bebas di tepi kotak penalti melakukan kontrol cerdas sebelum melepaskan tembakan spektakuler ke sudut atas gawang. Gol indah tersebut sekaligus memperlihatkan rapuhnya lini pertahanan tuan rumah.
Kesalahan demi kesalahan terus menghantui Chelsea. Moisés Caicedo kehilangan bola di lini tengah, sementara Trevoh Chalobah gagal menjaga pergerakan lawan dengan baik, memberi ruang bagi PSG untuk kembali mengancam.
Chelsea sempat mencoba bangkit melalui peluang dari João Pedro dan Cole Palmer, namun kiper PSG Matvei Safonov tampil gemilang dengan serangkaian penyelamatan penting, termasuk menggagalkan sundulan Jorrel Hato.
Situasi semakin memburuk ketika pemain muda PSG, Senny Mayulu, mencetak gol ketiga timnya lewat sepakan indah, sekaligus melengkapi penderitaan Chelsea pada malam itu.
Absennya dua bek sayap utama, Reece James dan Malo Gusto, membuat lini pertahanan Chelsea tampak goyah dan tidak terorganisir sejak awal pertandingan.
Ketika João Pedro dan Cole Palmer ditarik keluar sebelum satu jam pertandingan, hal itu terasa seperti sinyal menyerah dari kubu tuan rumah.
Di sisa laga, para pendukung mulai meninggalkan stadion setelah gol kedelapan PSG dalam agregat tercipta, menandai salah satu malam paling kelam dalam sejarah Chelsea di Eropa—setara dengan kekalahan telak mereka dari Bayern Munich pada 2020.
Upaya akhir dari Liam Delap dan Alejandro Garnacho tak mampu mengubah keadaan, sementara PSG menutup laga dengan dominasi penuh.
Kekalahan ini menjadi alarm keras bagi Chelsea, yang harus segera berbenah jika ingin kembali bersaing di level tertinggi kompetisi Eropa. (*)
Editor : Niklaas Andries