Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Akankah Timnas Iran Dicoret dari Piala Dunia 2026? Negara Ini Jadi Kandidat Kuat sebagai Penggantinya

Niklaas Andries • Senin, 2 Maret 2026 | 06:45 WIB

TERANCAM: Konflik AS dan Iran dikhawatirkan berdampak pada tiket putaran final Piala Dunia 2026
TERANCAM: Konflik AS dan Iran dikhawatirkan berdampak pada tiket putaran final Piala Dunia 2026

RADARBANYUWANGI.ID - Kurang dari 100 hari menuju kick-off Piala Dunia 2026, Amerika Serikat, yang akan menjadi tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko, justru berada di tengah pusaran konflik geopolitik besar.

Pada Sabtu lalu, militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran dalam operasi gabungan dengan Israel, memicu rentetan serangan balasan di berbagai wilayah Timur Tengah.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius, bagaimana dampaknya terhadap partisipasi Iran di Piala Dunia, posisi FIFA, dan stabilitas turnamen yang sejak awal sudah sarat nuansa politik?

Akankah Iran Tetap Tampil di Piala Dunia 2026?

Tim nasional Iran telah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 dan dijadwalkan menghadapi Selandia Baru dan Belgia di Los Angeles, serta Mesir di Seattle. Itu akan menjadi partisipasi keempat Iran secara beruntun di ajang empat tahunan tersebut.

Sebelumnya, Iran tidak ditarik dari kompetisi meski Amerika Serikat sempat mengebom tiga fasilitas nuklir mereka tahun lalu. Namun kini, Ketua Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, dilaporkan meragukan partisipasi timnya.

“Dengan apa yang terjadi dan serangan Amerika Serikat tersebut, sulit bagi kami untuk menatap Piala Dunia dengan optimisme. Namun keputusan ada di tangan otoritas olahraga,” ujar Taj.

Situasi semakin kompleks setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menciptakan ketidakpastian politik di dalam negeri.

Dr. Sanam Vakil dari lembaga kajian internasional Chatham House menyebut konflik ini bukan sekadar eskalasi singkat.

“Ini fase konflik yang bersifat eksistensial dan menyangkut kelangsungan rezim. Sangat kecil kemungkinan berakhir cepat,” ujarnya.

Sikap FIFA dan Potensi Pengganti Iran

FIFA menyatakan terus memantau perkembangan situasi. Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, menegaskan fokus utama adalah memastikan turnamen berjalan aman dengan partisipasi semua negara.

Namun, muncul spekulasi: bagaimana jika Iran memboikot turnamen?

Bila itu terjadi, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) kemungkinan akan menunjuk pengganti. Irak, yang masih berpeluang lolos lewat playoff Asia, atau Uni Emirat Arab disebut-sebut sebagai kandidat terkuat.

Sementara itu, tim nasional putri Iran tetap menjalani persiapan Piala Asia di Australia. AFC menyatakan terus menjalin komunikasi intensif dengan delegasi Iran dan memberikan dukungan penuh.

Keamanan dan Ketegangan Politik di AS

Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menandatangani kebijakan larangan masuk bagi warga dari 12 negara, termasuk Iran. Meski pemain dan staf Piala Dunia dikecualikan, isu keamanan dipastikan menjadi sorotan tajam.

Piala Dunia 2022 di Qatar memperlihatkan bagaimana laga Iran berlangsung di tengah protes anti-pemerintah di dalam negeri. Ketegangan antarpendukung bahkan terjadi saat Iran menghadapi Wales.

Los Angeles, yang dijadwalkan menjadi tuan rumah dua laga Iran, merupakan salah satu komunitas diaspora Iran terbesar di dunia. Potensi demonstrasi dan aksi protes diprediksi meningkat, terlebih dengan retorika Trump yang mendukung perubahan rezim di Teheran.

Nick McGeehan dari organisasi advokasi HAM FairSquare menyebut situasi ini “wilayah tak terpetakan”, mengingat negara tuan rumah baru saja melancarkan operasi militer terhadap salah satu peserta turnamen.

Kontroversi “Peace Prize” FIFA untuk Trump

Pada Desember lalu, FIFA memberikan penghargaan perdana “Peace Prize” kepada Trump dalam acara undian Piala Dunia 2026. FIFA menyebut Trump berperan penting dalam upaya gencatan senjata Israel-Palestina.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir, AS terlibat aksi militer di Venezuela, Nigeria, dan Iran, serta mengisyaratkan potensi operasi di Greenland dan Kolombia, negara peserta Piala Dunia 2026.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, membela keputusan tersebut dan menegaskan FIFA harus netral secara politik. Namun kritik terus berdatangan, termasuk dari sejumlah politisi Inggris dan pejabat sepak bola Jerman yang menyerukan boikot terhadap turnamen 2026.

Sebagai perbandingan, Rusia tetap menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 meski menghadapi tuduhan aneksasi Krimea dan intervensi siber. Baru pada 2022 Rusia dilarang tampil setelah invasi ke Ukraina.

Infantino baru-baru ini menyatakan sanksi tersebut tidak efektif dan ingin mempertimbangkan pencabutannya, pernyataan yang kembali memicu kontroversi.

Lanskap Politik Piala Dunia Semakin Rumit

Konflik Timur Tengah memperumit persiapan Piala Dunia yang sebelumnya sudah menghadapi tantangan: ancaman keamanan, pembekuan anggaran kota tuan rumah di AS, ketegangan dagang dengan Kanada, hingga kekerasan kartel narkoba di Meksiko.

Dengan kurang dari tiga bulan menuju pembukaan, turnamen yang seharusnya menjadi pesta sepak bola global kini berada di bawah bayang-bayang krisis geopolitik.

Yang pasti, dalam 48 jam terakhir, dinamika politik Piala Dunia 2026 berubah drastis, dan masa depan partisipasi Iran masih menjadi tanda tanya besar. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
#perang as-iran #piala dunia 2026 #FIFA