RADARBANYUWANGI.ID - Dampak konflik geopolitik di Timur Tengah kini merembet ke lapangan hijau. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) resmi mengumumkan penundaan sejumlah pertandingan penting di kompetisi antarklub Asia.
Keputusan tersebut diumumkan melalui rilis resmi pada Minggu (1/3). AFC menyatakan laga leg pertama babak 16 besar AFC Champions League Elite wilayah barat yang sedianya digelar 2–3 Maret 2026 ditunda hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Tak hanya itu, penundaan juga berlaku untuk leg pertama perempat final AFC Champions League Two serta AFC Challenge League yang awalnya dijadwalkan pada 3–4 Maret 2026.
Situasi Keamanan Memburuk
Dalam pernyataannya, AFC menegaskan keputusan ini diambil menyusul memburuknya situasi keamanan di kawasan Timur Tengah akibat eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Konflik tersebut dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pemain, ofisial, perangkat pertandingan, serta suporter. AFC memilih langkah preventif demi meminimalisasi risiko yang tidak diinginkan.
“Keselamatan dan keamanan seluruh pihak yang terlibat menjadi prioritas utama,” demikian bunyi pernyataan resmi AFC.
Langkah ini sekaligus menunjukkan bagaimana dinamika politik global dapat berdampak langsung pada kalender sepak bola Asia.
Klub Qatar, Arab Saudi, UEA, dan Iran Terdampak
Penundaan ini berdampak langsung pada sejumlah klub elite Asia Barat. Dari Qatar, dua raksasa yakni Al Sadd dan Al Duhail harus menunda agenda pertandingan mereka.
Klub-klub Arab Saudi seperti Al Hilal, Al Ahli, dan Al Ittihad juga masuk dalam daftar terdampak.
Sementara dari Uni Emirat Arab, Shabab Al Ahli dan Al Wahda harus menunggu kepastian jadwal baru.
Wakil Iran, Tractor, turut mengalami nasib serupa di kompetisi elite tersebut. Di ajang ACL Two, tim-tim seperti Al Zawraa (Irak), Al Nassr (Arab Saudi), Sepahan, Esteghlal, serta Al Ahli juga terdampak langsung.
Penundaan ini praktis mengacaukan persiapan teknis tim, termasuk program latihan, rotasi pemain, serta strategi kompetisi yang sudah disusun matang.
Wilayah Timur Tetap Aman
Menariknya, AFC memastikan bahwa pertandingan yang melibatkan klub-klub dari wilayah timur Asia tetap berjalan sesuai jadwal.
Tim dari Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Australia, hingga Thailand tidak terpengaruh kebijakan ini karena faktor geografis dan situasi keamanan yang relatif stabil.
Bahkan laga yang melibatkan wakil Indonesia, Dewa United, melawan Manila Digger di Manila pada 5 Maret 2026 dipastikan tetap berlangsung sesuai rencana.
Dampak ke Kalender dan Ranking
Penundaan ini berpotensi memengaruhi padatnya kalender kompetisi Asia musim 2025/26. AFC harus menyiapkan slot baru di tengah jadwal liga domestik dan agenda internasional yang sudah terjadwal.
Selain itu, perubahan jadwal juga dapat berdampak pada ritme pertandingan, kondisi fisik pemain, hingga perhitungan koefisien dan ranking klub Asia.
Pengamat menilai, jika konflik berkepanjangan, bukan tidak mungkin AFC akan melakukan penyesuaian lebih besar, termasuk opsi pemindahan venue ke negara netral.
Bukti Nyata Dampak Geopolitik pada Sepak Bola
Keputusan AFC ini menjadi bukti nyata bahwa sepak bola tidak sepenuhnya steril dari dinamika politik global. Konflik antara negara-negara besar di kawasan sensitif seperti Timur Tengah dapat berdampak langsung pada kompetisi elite benua.
Kini publik menanti keputusan lanjutan AFC terkait jadwal pengganti. Hingga saat ini, belum ada tanggal resmi yang diumumkan.
Satu hal yang pasti, keselamatan menjadi prioritas utama. Sepak bola boleh menjadi pemersatu, namun keamanan tetap di atas segalanya.
Editor : Ali Sodiqin