Sesaat setelah gol ketiga LAFC tercipta di hadapan lebih dari 75.600 penonton di L.A. Coliseum, seorang suporter mengenakan jersey Argentina berlari ke lapangan untuk mendekati Messi.
Pemandangan seperti itu lazim terjadi dalam setiap pertandingan yang melibatkan peraih Piala Dunia 2022 tersebut. Namun kali ini, sorak-sorai dan musik perayaan bukan untuknya, Miami tengah tertinggal 0-3.
Dalam laga resmi pertamanya tahun 2026 bersama juara bertahan MLS Cup, naskah indah ala Hollywood yang diharapkan menyertai Messi di tahun Piala Dunia justru tidak berjalan sesuai rencana.
Cedera, Usia, dan Bayang-Bayang Piala Dunia
Menjelang laga pembuka MLS melawan LAFC yang diperkuat Son Heung-min, sempat muncul keraguan apakah Messi akan tampil. Ia baru saja pulih dari cedera hamstring yang dialaminya pada laga pramusim Februari lalu.
Di usia 38 tahun, kekhawatiran bukan hanya tertuju pada awal musim MLS-nya, tetapi juga pada peluang tampil di Piala Dunia musim panas mendatang bersama Argentina. Messi sendiri belum sepenuhnya memastikan partisipasinya dan mengakui faktor kebugaran akan menjadi pertimbangan utama.
Pelatih Inter Miami, Javier Mascherano, sebelumnya menyatakan bahwa peraih delapan Ballon d’Or itu telah berlatih normal sepanjang pekan. Namun di atas lapangan, performa Messi tampak belum sepenuhnya kembali.
Sentuhan Kurang Tajam, Tanpa Tembakan Tepat Sasaran
Dalam 10 menit pertama, sentuhan dan akurasi umpan Messi terlihat kurang presisi. Distribusi bolanya memang membaik seiring waktu, bahkan beberapa umpan terobosan berpotensi menjadi assist. Namun, dalam hal penyelesaian akhir, ia gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran.
Masalah bukan hanya pada Messi. Adaptasi dengan penyerang anyar Germán Berterame di lini depan tampak belum mulus. Miami kesulitan membangun momentum, terutama sebelum LAFC membuka keunggulan lewat gol David Martínez hasil assist Son.
Menariknya, atmosfer stadion lebih didominasi pendukung LAFC dengan jersey Son ketimbang seragam merah muda khas Miami.
Messi pun tidak mendapat sambutan meriah setiap kali menguasai bola. Bahkan ketika ia terjatuh di akhir laga tanpa mendapat pelanggaran, terdengar sorakan cemooh dari tribune.
Kekalahan Telak dan Respons Mascherano
Gol tambahan dari Denis Bouanga dan Nathan Ordaz memastikan kemenangan 3-0 LAFC. Seusai laga, Messi sempat bertukar jersey dengan Bouanga sebelum meninggalkan lapangan lebih dulu.
Mascherano menegaskan bahwa hasil akhir tidak sepenuhnya mencerminkan jalannya pertandingan.
“Mereka mengalahkan kami secara adil, itu faktanya. Namun skor 3-0 terasa sedikit menyesatkan. Perbedaan permainan tidak sebesar yang terlihat di papan skor,” ujar Mascherano.
“Kami harus menganalisis performa, bukan hanya hasil. Ada beberapa aspek permainan yang sesuai dengan gaya yang kami inginkan, meski masih perlu ditingkatkan.”
Terlalu Dini untuk Panik?
Messi memang belum tampil dalam versi terbaiknya, tetapi menghakimi terlalu cepat bisa menjadi kekeliruan. Ia baru pulih dari cedera hamstring dan masih mencari ritme kompetitif.
Secara keseluruhan, kontribusinya tetap menghadirkan ancaman melalui sejumlah umpan berbahaya dan progresi bola ke depan.
Namun, standar terhadap Messi selalu lebih tinggi. Penampilan “cukup baik” belum tentu cukup bagi pemain sekelasnya. terutama di tahun Piala Dunia.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, sebelumnya menyatakan bahwa keputusan akhir berada di tangan Messi.
“Dia yang akan memutuskan, dan kami akan mendukung apa pun keputusannya. Secara prinsip semuanya berjalan baik, tetapi enam bulan adalah waktu yang panjang,” kata Scaloni pada Desember lalu.
Kini, dengan empat bulan menuju turnamen akbar, waktu terus berjalan. Jika performa tidak segera meningkat dalam beberapa pekan ke depan, pertanyaan tentang kesiapan Messi di Piala Dunia akan semakin nyaring terdengar.
Satu kekalahan memang belum cukup untuk menyalakan alarm besar. Namun bagi pemain sekelas Lionel Messi, setiap langkah selalu berada di bawah sorotan dunia. (*)
Editor : Niklaas Andries