Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ramadhan Cup Kedunggebang Banyuwangi Dibubarkan Polisi, Diduga Belum Kantongi Izin Resmi

Zamrozi Wahyu • Jumat, 20 Februari 2026 | 06:30 WIB
DIBUBARKAN: Pertandundingan antar klub sepak bola di Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo, dihentikan sejak Selasa (17/2).
DIBUBARKAN: Pertandundingan antar klub sepak bola di Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo, dihentikan sejak Selasa (17/2).

RADARBANYUWANGI.ID – Ajang silaturahmi antar klub sepak bola bertajuk Ramadhan Cup di Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, berakhir mendadak setelah dibubarkan aparat kepolisian pada Selasa (17/2/2026).

Turnamen tahunan yang sudah berjalan selama enam tahun tersebut dihentikan karena diduga panitia belum mengantongi izin resmi dari otoritas terkait.

Pembubaran ini pun memicu kekecewaan warga yang selama ini menjadikan Ramadhan Cup sebagai hiburan ngabuburit menjelang berbuka puasa.

Baru Dua Hari Digelar, Langsung Dihentikan

Kepala Dusun Krajan, Desa Kedunggebang, Agus Sugiarto, mengatakan pertandingan persahabatan antar klub sepak bola itu baru berjalan dua hari sebelum akhirnya dihentikan oleh aparat penegak hukum.

Photo
Photo

“Baru dimulai dua hari, sudah dibubarkan polisi pada Selasa (17/2),” ujarnya.

Menurut Agus, kegiatan tersebut rutin digelar setiap Ramadan sebagai ajang mempererat silaturahmi klub-klub sepak bola di wilayah Banyuwangi Selatan. Selama enam tahun terakhir, turnamen berlangsung tanpa kendala berarti.

Namun tahun ini berbeda. Diduga, panitia belum mengantongi izin resmi dari PSSI Askab Banyuwangi sehingga aparat mengambil langkah pembubaran.

Panitia Urus Perizinan Agar Bisa Lanjut

Agus menyebut, panitia saat ini tengah berupaya mengurus kelengkapan administrasi agar turnamen dapat kembali digelar.

“Kegiatan ini hanya pertandingan biasa, tiap tahun masyarakat melakukannya tanpa masalah. Jadi pemberhentian secara tiba-tiba ini membuat kami kaget,” katanya.

Ia menambahkan, panitia sebenarnya menargetkan seluruh rangkaian pertandingan selesai sebelum perayaan Nyepi. Pasalnya, lapangan yang digunakan juga dipersiapkan untuk kegiatan keagamaan tersebut.

Dengan adanya pembubaran ini, jadwal pelaksanaan pun terancam molor dan berdampak pada agenda masyarakat lainnya.

Warga Kehilangan Hiburan Ngabuburit

Pembubaran Ramadhan Cup Kedunggebang tidak hanya berdampak pada panitia dan pemain, tetapi juga masyarakat sekitar. Turnamen tersebut selama ini menjadi tontonan gratis yang selalu dinanti warga saat Ramadan.

Menurut Agus, setiap sore menjelang berbuka, lapangan desa selalu dipadati penonton lokal. Selain menjadi hiburan, kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi bagi pedagang kecil.

“Setiap Ramadan lumayan ramai meski penontonnya warga lokal. Pedagang bisa berjualan, anak-anak muda punya kegiatan positif. Sayang sekali kalau harus berhenti,” terangnya.

Warga menyayangkan langkah pembubaran yang dinilai terlalu mendadak. Mereka berharap ada solusi agar turnamen bisa kembali dilanjutkan dengan tetap memenuhi ketentuan yang berlaku.

Turnamen Enam Tahun, Jadi Agenda Tahunan Desa

Ramadhan Cup bukan sekadar pertandingan sepak bola biasa. Ajang ini telah menjadi tradisi tahunan warga Desa Kedunggebang dan sekitarnya.

Selain mempererat hubungan antar klub, turnamen ini juga menjadi sarana pembinaan pemain muda di wilayah Banyuwangi Selatan. Atmosfer kompetitif yang sehat selama Ramadan dinilai mampu mengurangi aktivitas negatif di kalangan remaja.

Dengan konsep sederhana dan tanpa tiket masuk, turnamen ini terbuka untuk masyarakat luas. Tak heran jika pembubaran mendadak memunculkan reaksi kecewa dari berbagai kalangan.

Harapan Warga: Bisa Digelar Kembali

Hingga kini, panitia masih berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menyelesaikan persoalan perizinan. Warga berharap Ramadhan Cup bisa kembali digelar sebelum Ramadan berakhir.

Selain menjaga tradisi tahunan, kelanjutan turnamen juga diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi kecil dan memberikan ruang aktivitas positif bagi generasi muda.

Ke depan, panitia berkomitmen untuk melengkapi seluruh persyaratan administratif agar pelaksanaan Ramadhan Cup berjalan tertib dan sesuai regulasi.

Sementara itu, masyarakat Desa Kedunggebang hanya bisa berharap agar lapangan yang biasanya ramai sorak-sorai pertandingan segera kembali hidup selama bulan suci Ramadan. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Ramadhan Cup #Dibubarkan Polisi #tak berizin #sepak bola #banyuwangi