Laga leg pertama babak gugur ini mempertemukan kembali dua raksasa Iberia, kurang dari sebulan setelah Benfica menang 4-2 atas Madrid pada fase liga. Bermain di hadapan stadion penuh, tuan rumah memulai laga dengan tekanan tinggi.
Namun, seiring berjalannya waktu, Madrid mulai mengendalikan permainan. Kylian Mbappé sempat menyia-nyiakan sejumlah peluang emas sebelum akhirnya berperan sebagai kreator gol.
Gol Indah yang Memicu Ketegangan
Tak lama setelah turun minum, Mbappé mengirim umpan matang kepada Vinícius. Winger asal Brasil itu melakukan cut inside sebelum melepaskan tembakan melengkung yang bersarang di sudut atas gawang, gol yang langsung menjadi sorotan.
Selepas mencetak gol, Vinícius merayakannya dengan tarian di dekat bendera sudut, tepat di depan suporter Benfica. Aksi tersebut memicu reaksi keras dari tribun. Wasit kemudian memberikan kartu kuning kepada Vinícius setelah sejumlah benda dilemparkan ke arahnya dari arah penonton.
Ketegangan meningkat di lapangan. Adu argumen antar pemain tak terhindarkan sebelum situasi berkembang menjadi lebih serius.
Dugaan Ucapan Rasis dan Protokol UEFA
Insiden memuncak ketika Vinícius terlihat menunjuk dan meneriaki pemain Benfica, Gianluca Prestianni, yang tampak menutupi mulutnya dengan jersey saat berbicara. Merasa menjadi sasaran komentar rasis, Vinícius langsung menghampiri wasit asal Prancis, François Letexier.
Sang pengadil pertandingan segera mengaktifkan protokol anti-rasisme UEFA dengan mengangkat simbol silang menggunakan kedua tangannya. Pertandingan sempat terhenti sementara, dan Vinícius terlihat berdiskusi emosional di pinggir lapangan.
Situasi semakin memanas ketika sejumlah pemain terlibat cekcok, termasuk Mbappé dan Nicolas Otamendi. Setelah beberapa saat, Vinícius kembali ke lapangan dan pertandingan dilanjutkan. Namun, setiap kali ia menyentuh bola, sorakan keras dari suporter tuan rumah terus terdengar.
Bukan Kali Pertama
Dugaan insiden rasisme ini menambah daftar panjang pengalaman pahit Vinícius di sepak bola Eropa. Pada 2023, ia pernah menjadi target nyanyian rasis dari suporter Valencia dalam laga La Liga. Bahkan, boneka menyerupai dirinya sempat digantung di sebuah jembatan di Spanyol, yang berujung pada penangkapan empat orang.
Terlepas dari segala kontroversi, sorotan seharusnya tertuju pada kualitas gol Vinícius yang menentukan kemenangan penting Real Madrid di laga tandang. Namun, dugaan perlakuan diskriminatif kembali mencederai wajah sepak bola Eropa.
Dampak dan Sorotan ke Depan
Insiden ini diperkirakan akan menjadi perhatian serius UEFA dan memicu investigasi lebih lanjut. Jika terbukti terjadi pelanggaran, sanksi tegas berpotensi dijatuhkan.
Laga yang semestinya dikenang karena gol kelas dunia justru ternoda isu rasisme, sebuah pengingat bahwa sepak bola masih memiliki pekerjaan besar dalam memerangi diskriminasi di dalam dan luar lapangan. (*)
Editor : Niklaas Andries