RADARBANYUWANGI.ID – Bangunan Terminal Wiroguno di Desa Setail, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, hingga kini belum juga difungsikan.
Padahal akses jalan menuju kawasan tersebut sudah tembus hingga Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari.
Alih-alih beroperasi sebagai terminal angkutan umum, kawasan ini justru menjelma menjadi ruang alternatif olahraga warga.
Setiap pagi dan sore, area yang semestinya menjadi simpul transportasi itu dipadati pesepeda dan pelari dari Genteng hingga Sempu.
Jadi Alternatif Jogging Track Warga
Pantauan Jawa Pos Radar Genteng, lintasan aspal yang mulus di dalam area terminal dimanfaatkan warga untuk berlari santai (jogging) maupun sekadar bersepeda ringan.
Lingkungan yang relatif sepi dan bebas kendaraan menjadi daya tarik tersendiri.
Rafila Firmansyah, 23, warga Dusun Tugung, Desa/Kecamatan Sempu, mengaku hampir setiap sore datang bersama teman-temannya untuk berolahraga di lokasi tersebut.
“Setiap sore saya ke sini. Memutar area terminal saja sudah lumayan buat latihan,” ujarnya, kemarin (16/2).
Menurut Rafila, Terminal Wiroguno menjadi pilihan karena suasananya lebih lengang dibanding ruang terbuka hijau lain di wilayah Genteng.
“Ketimbang di RTH Maron, di sini lebih enak, lebih sepi. Kalau di RTH Maron sudah terlalu ramai, jadi rebutan jogging track,” katanya.
Aspal Mulus dan Minim Kendaraan
Selain faktor ketenangan, kondisi aspal yang masih mulus menjadi pertimbangan. Jalur yang lebar dan relatif rata membuat pelari merasa lebih aman saat berlatih.
“Memang aspal, banyak orang menghindari latihan lari di aspal karena keras dan berdampak ke kaki. Tapi kalau untuk latihan ringan masih sangat aman,” tutur Rafila.
Minimnya lalu lintas kendaraan juga membuat warga lebih leluasa bergerak. Tidak ada klakson atau kendaraan besar yang melintas, sehingga risiko kecelakaan pun hampir tidak ada.
Suasana Asri dan Banyak Pepohonan
Terminal yang belum difungsikan itu kini dipenuhi pepohonan di sekelilingnya. Suasana asri menjadi nilai tambah bagi warga yang ingin melepas penat setelah beraktivitas.
“Sekitar sini kan masih banyak pohonnya. Apalagi karena tidak pernah dipakai, burungnya banyak,” kata Rafila.
Kicauan burung pada pagi hari menciptakan suasana relaksasi alami. Bagi sebagian warga, lokasi ini bukan sekadar tempat olahraga, tetapi juga ruang untuk menenangkan pikiran.
Setiap Minggu Ramai Pedagang
Warga lain, Leony Juwita, 32, mengaku rutin berolahraga di Terminal Wiroguno setiap Minggu pagi.
Ia menyebut, kawasan tersebut kini semakin ramai, bahkan mulai dipadati pedagang makanan.
“Sudah ramai, setiap Minggu banyak yang berjualan di sini,” tandasnya.
Keberadaan pedagang kecil menambah semarak suasana akhir pekan. Setelah berolahraga, warga bisa menikmati jajanan ringan tanpa harus berpindah lokasi.
Belum Ada Kepastian Operasional
Meski akses jalan sudah tersambung hingga Desa Dasri, belum terlihat tanda-tanda Terminal Wiroguno akan segera difungsikan.
Bangunan utama dan area parkir masih kosong dari aktivitas transportasi umum.
Warga berharap ke depan ada kejelasan terkait pemanfaatan terminal tersebut. Jika belum difungsikan sebagai simpul transportasi, setidaknya kawasan bisa ditata menjadi ruang publik resmi untuk olahraga dan kegiatan masyarakat.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana ruang infrastruktur yang belum termanfaatkan dapat beralih fungsi secara organik menjadi ruang sosial.
Terminal yang sepi kini justru menghadirkan denyut baru sebagai titik kumpul warga Genteng dan Sempu untuk menjaga kebugaran.
Di tengah minimnya ruang terbuka olahraga yang representatif, Terminal Wiroguno menjadi contoh bagaimana masyarakat mampu memanfaatkan ruang kosong menjadi ruang hidup. (*)
Editor : Ali Sodiqin