RADARBANYUWANGI.ID - Lewis Hamilton memasuki Formula 1 musim 2026 dengan sorotan besar.
Kepindahannya ke Ferrari diharapkan mengulang dongeng sukses Michael Schumacher, namun musim 2025 justru menjadi titik terendah dalam kariernya.
Hamilton gagal meraih satu pun podium dan kalah telak 18-3 dari rekan setimnya, Charles Leclerc, yang mencatat tujuh kali finis tiga besar.
Meski demikian, harapan belum sepenuhnya padam.
Hamilton menunjukkan sinyal kebangkitan usai mencatat waktu tercepat dalam tes Barcelona dengan torehan 1 menit 16,554 detik.
Di luar lintasan, namanya juga ramai dibicarakan setelah dikaitkan dengan Kim Kardashian, membuat perhatian publik kian besar.
Tekanan terhadap Hamilton dibandingkan Schumacher pun kembali mencuat.
Schumacher adalah sosok yang mengakhiri puasa gelar Ferrari selama 21 tahun, meski membutuhkan waktu panjang.
Hal inilah yang ditekankan Jock Clear, teknisi performa Ferrari yang pernah bekerja langsung dengan keduanya.
“Saya selalu mengingatkan orang-orang bahwa ketika Michael Schumacher datang ke Ferrari, tim itu butuh lima tahun sebelum benar-benar memenangkan sesuatu,” ujar Clear kepada Casino Hawks, Minggu (8/2/2026).
Menurut Clear, kegagalan Hamilton pada 2025 tidak bisa dinilai secara instan.
“Itu tidak terjadi dalam semalam. Lewis benar-benar menjalani tahun yang berat,” katanya.
Clear juga mengungkap perbedaan filosofi kerja dua legenda tersebut.
“Michael memastikan kepala tim dan semua orang di sekitarnya adalah sosok yang ia inginkan. Lewis justru mengambil pendekatan yang berlawanan,” ungkapnya.
“Lewis lebih selektif dan fokus menyempurnakan hal-hal yang bisa ia kendalikan,” tambahnya.
Soal pendekatan emosional, Clear menilai Schumacher lebih ekspresif.
“Michael menggunakan emosinya untuk menggerakkan tim. Lewis justru lebih klinis dan fokus mengelola dirinya sendiri,” pungkasnya.
Dengan regulasi baru 2026, perjalanan Hamilton bersama Ferrari masih menyisakan bab penting yang patut dinanti.
Editor : Lugas Rumpakaadi