Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Akhir Kesabaran Juara Dunia MotoGP, Ini Alasan Fabio Quartararo Cabut dari Yamaha

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 30 Januari 2026 | 11:15 WIB
Fabio Quartararo resmi tinggalkan Yamaha.
Fabio Quartararo resmi tinggalkan Yamaha.

RADARBANYUWANGI.ID - Keputusan besar akhirnya diambil Fabio Quartararo.

Pembalap asal Prancis berjuluk El Diablo itu dipastikan akan meninggalkan Yamaha dan bergabung dengan Honda Racing Corporation (HRC) mulai MotoGP musim 2027 hingga 2028.

Kepindahan ini sekaligus menandai berakhirnya delapan tahun kebersamaan Quartararo dengan pabrikan asal Iwata, yang telah membesarkan namanya di kelas premier.

Quartararo pertama kali mendapat kepercayaan tampil di MotoGP pada 2019 bersama tim satelit Petronas Yamaha SRT.

Langkah tersebut sempat dianggap mengejutkan, namun justru menjadi awal dari perjalanan gemilang sang pembalap.

Yamaha kemudian mempromosikannya ke tim pabrikan, bahkan menggantikan posisi legenda hidup Valentino Rossi.

Puncak kejayaan Quartararo bersama Yamaha terjadi pada musim 2021, ketika ia sukses merebut gelar juara dunia MotoGP.

Hingga kini, ia masih tercatat sebagai juara dunia terakhir yang dipersembahkan Yamaha.

Bersama pabrikan garpu tala, Quartararo membukukan 11 kemenangan, 32 podium, dan 21 pole position.

Namun, setelah musim emas tersebut, performa Yamaha terus mengalami penurunan.

Dominasi Ducati, kebangkitan Aprilia dan KTM, serta stagnasi pengembangan YZR-M1 membuat Quartararo kian kesulitan bersaing.

Musim demi musim berlalu tanpa kemenangan, meski ia tetap menunjukkan kualitas melalui raihan pole position dan penampilan kompetitif di tengah keterbatasan motor.

Kekecewaan Quartararo memuncak meski Yamaha telah melakukan berbagai langkah strategis, mulai dari merekrut Direktur Teknis Max Bartolini, mendatangkan Pramac sebagai tim satelit, hingga beralih ke mesin V4 yang akan debut penuh pada 2026.

Bagi Quartararo, perubahan tersebut dinilai datang terlalu lambat dan belum cukup menjamin peluang meraih gelar juara.

Situasi internal Yamaha juga turut memengaruhi keputusannya.

Pergantian pucuk pimpinan dari Lin Jarvis ke Paolo Pavesio menghadirkan dinamika baru yang tidak sepenuhnya sejalan dengan harapan sang pembalap.

Quartararo sendiri mengakui bahwa fokus utamanya tetap berada di garasi teknis bersama para insinyur, bukan di level manajemen.

Di sisi lain, Honda justru menunjukkan tren kebangkitan.

Proyek RC213V yang kini dipimpin Romano Albesiano mulai membuahkan hasil, termasuk kemenangan Johann Zarco di Le Mans dan beberapa podium penting.

Peningkatan ini membuat Honda naik tingkat konsesi, memperkuat posisi mereka jelang regulasi baru MotoGP 2027.

Peraturan teknis anyar yang mencakup penggunaan mesin 850 cc dan ban Pirelli menjadi faktor krusial dalam keputusan Quartararo.

Ia memilih melihat ke depan, menaruh harapan pada proyek Honda yang dinilai lebih siap menghadapi era baru MotoGP.

Kepindahan Quartararo juga memicu efek domino di bursa pembalap.

Salah satu dari Joan Mir atau Luca Marini dipastikan harus angkat kaki dari tim pabrikan Honda, sementara peluang bagi pembalap lain seperti Jorge Martin dan Pedro Acosta semakin terbatas.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#el diablo #yamaha #motogp #fabio quartararo #honda