Nilai dolar AS tercatat turun sekitar 9 persen terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada awal 2025. Sejumlah ekonom mengaitkan tren ini dengan menurunnya kepercayaan investor terhadap Amerika Serikat, seiring kembalinya Donald Trump ke kursi Presiden pada Januari lalu.
UEFA Jelaskan Penyebab Kerugian
Dalam laporan keuangan tahunan setebal 52 halaman yang dirilis Kamis waktu setempat, UEFA menyebut “dinamika ekonomi, pasar, dan geopolitik”, serta pelemahan mendadak dolar AS, sebagai faktor utama kerugian nilai tukar yang membebani laporan keuangan musim 2024–2025.
“Dalam beberapa tahun terakhir, UEFA diuntungkan oleh kuatnya dolar AS yang menghasilkan keuntungan nilai tukar yang signifikan,” tulis UEFA, tanpa menyebutkan nama Trump secara langsung.
“Namun pada Maret 2025, situasi berbalik ketika dolar AS melemah hampir 9 persen, sehingga memicu kerugian nilai tukar sebesar 47 juta euro.”
Kerugian 47 juta euro tersebut setara sekitar Rp822,5 miliar atau 54,5 juta dolar AS atau Rp872 miliar berdasarkan kurs saat ini.
Hampir Setara Total Kerugian Tahunan
Baca Juga: Diduga ODGJ Hendak Curi Motor di Singojuruh, Pria Asal Banten Diamankan Warga dan Polisi
Angka tersebut nyaris menyamai hasil bersih negatif UEFA dalam laporan keuangan terbarunya, yakni minus 46,2 juta euro atau sekitar Rp808,5 miliar, yang harus ditutup menggunakan cadangan dana organisasi.
Akibat tekanan tersebut, cadangan keuangan UEFA menyusut menjadi 521,8 juta euro atau sekitar Rp9,13 triliun per akhir Juni lalu.
Meski demikian, angka itu masih sedikit di atas ambang batas 500 juta euro atau sekitar Rp8,75 triliun yang ditetapkan UEFA untuk menjamin pendanaan bagi 55 federasi anggota, termasuk penyelenggaraan kompetisi tim nasional dari level senior hingga usia muda.
Liga Champions Bernilai Miliaran, Tapi Bukan Laba Bersih
UEFA menegaskan bahwa meskipun kompetisi antarklub seperti Liga Champions menghasilkan miliaran euro setiap musim, sebagian besar pendapatan tersebut dibayarkan kembali sebagai hadiah uang, sehingga tidak sepenuhnya menjadi laba bersih bagi kantor pusat UEFA di Nyon, Swiss.
Sebaliknya, Piala Eropa (Euro) yang digelar setiap empat tahun menjadi mesin utama penguatan cadangan UEFA.
Euro 2024 di Jerman dilaporkan menghasilkan pendapatan sekitar 2,5 miliar euro, atau setara Rp43,75 triliun, yang kemudian menopang cadangan dana serta program pendanaan utama UEFA bernama HatTrick, program yang memberikan dana kepada federasi anggota hingga dua kali lipat dari alokasi tahunan yang mereka terima dari FIFA.
Risiko Tak Terhindarkan
Baca Juga: Nenek Suliati Hilang Sejak Kamis Pagi, Diduga Tersesat di Kebun Wilayah Songgon Banyuwangi
UEFA mengakui dalam laporannya bahwa organisasi perlu mempertahankan posisi dolar AS dalam jumlah besar untuk mendukung transaksi lindung nilai (hedging). Ketika nilai dolar mulai melemah sejak setahun lalu, kerugian besar pun tak terhindarkan.
“Hasil nilai tukar sebelumnya konsisten positif selama beberapa tahun. Namun situasi itu berubah pada musim semi 2025 ketika dolar AS melemah secara tiba-tiba karena berbagai faktor ekonomi, pasar, dan geopolitik,” demikian bunyi laporan tersebut.
UEFA juga mengakui bahwa kinerja manajemen aset pada tahun lalu tergolong “mengecewakan” jika dibandingkan dengan musim 2023–2024, yang disebut sebagai periode keuangan paling kuat dalam beberapa tahun terakhir. (*)
Editor : Niklaas Andries